3 Teknik Bernyanyi Yang Baik dan Benar Untuk Diterapkan Pada Membaca Al-Quran

Rumah Cerdas Islami - Pusat Bimbingan Belajar Islami dan Training Center
Rumah Cerdas Islami – Pusat Bimbingan Belajar Islami dan Training Center

Apa kabar sobat blogger pembaca The Jombang Taste? Membaca Al-Quran pada dasarnya sama dengan kegiatan seni menyanyi karena membutuhkan keterampilan dan teknik-teknik tertentu supaya mulut mampu menghasilkan suara yang indah. Setiap muslim yang membaca Al-Quran disunnahkan dilakukan secara tartil. Artinya, membaca kitab suci umat Islam tersebut hendaknya dilakukan menurut kaidah keindahan bersuara. Bukan sekedar bersuara seperti orang bergumam. Oleh karena itu setiap qori’, sebutan untuk para pembaca Al-Quran, harus memahami cara memproduksi suara yang baik dan benar.

Sejak saya mengikuti kelas Pelatihan Guru Pengajar Quran (PGPQ) di Kec. Mojowarno Kab. Jombang, saya diajarkan beragam pengetahuan dan keterampilan praktis cara membaca Al-Quran yang baik dan benar. Bila saya bandingkan dengan ilmu bernyanyi yang diajarkan para guru vocal di Indonesia, ternyata teknik membaca Al-Quran itu hampir sama dengan kegiatan bernyanyi. Hanya saja terdapat beberapa pembeda dalam hal makhorijul huruf, syarat suci dari najis dan hadast, pemenggalan kata, dan tempat-tempat yang diperbolehkan membaca Al-Quran.

Agar mampu menghasilkan suara yang lantang, jelas, bertenaga, dan sampai pada baris terakhir ayat-ayat Al-Quran, seorang qori’ hendaknya mengetahui beberapa teknik olah vokal dibawah ini.

Artikulasi kata atau infitah

Dalam teknik bernyanyi yang baik dan benar, artikulasi diartikan sebagai cara mengucapkan kata-kata yang benar. Suara huruf A harus bulat A. Demikian juga huruf vokal A-I-U-E-O ketika bertemu huruf konsonan harus terucap jelas. Dalam keterampilan membaca Al-Quran, artikulasi kata disebut juga infitah. Mulut harus membuka secara penuh ketika membaca huruf hijaiyah yang bertanda fathah (suara A). Bukaan mulut minimal setinggi dua baris tangan yang disusun secara vertikal.

Pada waktu saya menghadiri kelas PGPQ, belajar infitah sangat diutamakan karena bukaan mulut yang sempura akan menghasilkan suara yang sempurna pula. Hindari membaca Al-Quran secara ragu-ragu. Bacalah Al-Quran dengan suara tenang penuh keyakinan. Kalaupun nanti terdapat kesalahan penempatan huruf (makhorijul huruf) dan panjang pendek huruf (mizan), maka Anda bisa mengulang lagi dari awal. Jangan takut salah. Karena prinsip utama belajar produksi suara adalah semakin sering dilatih, kemampuan kita akan semakin bagus.

Teknik pernapasan diafragma

Sama seperti halnya cara bernyanyi yang baik dan benar, pernapasan seorang qori berperan penting dalam memproduksi suara. Pernapasan yang bagus akan mampu menyelesaikan ayat-ayat panjang dengan baik sesuai aturan mizan yang tertulis. Mengenai teknik pernapasan ini kita mengenal tiga jenis cara pernapasan, yaitu pernapasan dada, pernapasan perut, dan pernapasan diafragma. Teknik pernapasan yang sesuai untuk qori adalah pernapasan diafragma.

Bagaimana cara mempraktekkan pernapasan diafragma? Langkah pertama adalah tariklah napas (inspirasi) dengan posisi badan tegap. Walaupun kebanyakan qori membaca Al-Quran dengan posisi tubuh sedang duduk, namun usahakan tubuh dalam kondisi tegap. Bahu jangan diangkat dan badan jangan mengejang. Udara yang masuk disalurkan ke perut yang menggembung dan disimpan di dalam diafragma. Udara dikeluarkan melalui mulut dengan lancar dan hemat serta jangan tersendat-sendat.

Membaca satu ayat Al-Quran dengan satu waqof dianjurkan dilakukan dengan satu tarikan napas. Kita tidak boleh mencuri napas seperti halnya para penyanyi di atas panggung. Oleh karena itu, teknik pernapasan diafragma harus dilatih dengan baik. Jika tidak sampai pada ujung ayat, maka penggallah ayat tersebut pada bagian yang tepat. Penggalan ayat yang tepat adalah pada kalimat yang mengandung satu pengertian utuh.

Intonasi atau nada lagu

Membaca Al-Quran tidak sama dengan berbicara biasa. Ayat-ayat suci Al-Quran memiliki panjang pendek harokat (mizan) sehingga menghasilkan intonasi panjang pendek. Intonasi Quran adalah nada lagu yang dihasilkan oleh bermacam-macam jenis harokat yang bertemu dengan huruf hijaiyah. Panjang nada dalam bacaan Quran bervariasi antara 1 kata, 2 kata, 3 kata, hingga 6 kata. Panjang pendek bacaan Quran berasal dari bacaan mad (panjang), bacaan ghunnah (mendengung), bacaan ikfa’ (samar-samar), bacaan idzhar (jelas), dan lain-lain.

Pengetahuan tajwid (ilmu yang mempelajari tata cara membaca Al-Quran yang baik dan benar) akan mendukung seorang qori dapat membaca Al-Quran dengan intonasi yang tepat. Panjang pendek nada bacaan Quran menentukan arti bacaan Quran. Oleh karena itu, saya menyarankan setiap muslim yang mempelajari makna dan kandungan Al-Quran supaya belajar ilmu tajwid juga agar tidak salah menafsirkan terjemahan kata-kata di dalam Al-Quran.

Wawasan saya dalam pengajaran Al-Quran tentu masih sangat dangkal. Beberapa tips membaca Al-Quran di atas sangat mungkin belum lengkap dan terdapat beberapa kesalahan tertulis. Oleh karena itu, kritik dan saran terhadap isi artikel ini saya harapkan dari kawan-kawan sesama pembelajar bacaan Al-Quran. Silakan berbagi wawasan cara membaca Al-Quran yang baik dan benar pada kolom komentar.

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *