Mitos Ritual Puasa Mutih 40 Hari Untuk Membersihkan Dosa Manusia

Dongeng Anak Islami di Kabupaten Jombang
Dongeng Anak Islami di Kabupaten Jombang

Apa kabar sobat blogger Jombang? Masih bersama blog The Jombang Taste yang membahas budaya masyarakat Jombang. Pernahkah Anda mendengar istilah puasa mutih? Apakah pengertian puasa mutih? Bagaimana pandangan Islam terhadap praktek puasa mutih yang dilakukan oleh sebagai muslim dari kalangan suku Jawa?

Salah satu materi pengajian yang dibahas oleh Kyai Masyhuri di Pondok Pesantren Al-Madinah Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang adalah puasa mutih selama 40 hari. Pembahasan puasa mutih menarik perhatian saya, terutama menyangkut nilai-nilai Islam yang telah diadaptasi dalam budaya Jawa. Apakah pengertian puasa mutih? Puasa mutih adalah puasa yang dilakukan dengan cara memakan makanan hanya yang berwarna putih saja. Misalnya nasi putih, ketela pohon dan tahu direbus.

Saya belum menemukan satu ayat Al-Quran ataupun hadist Nabi yang menganjurkan umat Islam untuk menjalankan puasa mutih selama 40 hari. Mungkin saya yang telat mendapatkan pengetahuan ini, atau memang tidak ada ayat yang meneguhkan perintah puasa mutih. Kendati demikian, banyak umat Islam yang saya temui mengaku menjalankan ritual puasa mutih untuk menghapuskan dosa-dosa mereka.

Benarkah ritual puasa mutih mampu menghapus dosa-dosa manusia di masa lalu? Apakah dosa manusia bisa dihapus karena lantaran mengkonsumsi makanan yang berwarna putih? Kalau begitu, orang yang suka makan bubur kacang hijau dan ketan hitam tidak bisa bersih dosa, dong. Bagaimana dengan keterlibatan puasa mutih dalam mencari ilmu kekebalan tubuh? Mari kita diskusikan bersama.

Tinjauan Puasa Mutih Dari Ilmu Biologi

Kyai Masyhuri menjelaskan puasa mutih dari sudut pandang agama Islam dan ilmu biologi bahwa sirkulasi darah manusia berlangsung selama 40 hari. Bila sebuah sel darah telah berumur 40 hari maka sel tersebut akan rusak dan tugasnya digantikan oleh sel-sel darah yang baru diproduksi oleh tulang. Hal ini senada dengan tinjauan dari ilmu Biologi yang saya pelajari dari bangku sekolah. Itulah salah satu bukti bahwa Islam dan ilmu pengetahuan modern telah men-sinkron-kan diri sejak lama, bahkan sebelum para ilmuwan Barat melek aksara.

Nah, selama 40 hari pula sari-sari makanan yang masuk ke dalam tubuh bertahan dan membentuk homeostatis tubuh. Ada yang berupa protein, vitamin, lemak, air, dan zat-zat lain yang terkandung di dalam makanan. Bagaimana dengan feses yang kita buang setiap hari? Yang kita keluarkan melalui sistem ekskresi, buang air besar dan buang air kecil, hanyalah ampas saja. Sementara sari-sari makanan akan tetap beredar di tubuh manusia selama 40 hari.

Dalam pandangan Islam, jika makanan yang dikonsumsi seorang muslim adalah makanan haram, maka selama 40 hari tersebut darahnya mengandung makanan haram. Ini artinya amal ibadah manusia tersebut selama 40 hari tidak akan diterima Allah. Dari pemikiran inilah awal mula para pelaku ritual puasa mutih menjalankan puasa tidak makan makanan selain yang berwarna putih. Padahal tubuh manusia membutuhkan nutrisi yang seimbang dan lengkap setiap hari.

Ilmu Kesaktian Tubuh dan Tradisi Jawa

Dengan dasar aliran darah yang membawa sari-sari makanan bertahan di dalam tubuh manusia selama 40 hari, maka tradisi umat Islam dari suku Jawa mengisyaratkan pertobatan manusia dilakukan selama 40 hari dengan menjalankan puasa mutih. Saya tidak tahu pasti siapakah wali atau ulama yang mengajarkan puasa mutih. Namun menurut telisik beberapa sumber sejarah, tradisi puasa mutih sudah ada sejak jaman Sunan Bonang dan Sunan Kalijogo. Mungkin dari situlah kebiasaan puasa mutih berawal hingga bertahan sampai sekarang.

Fakta lain yang perlu dicatat adalah manfaat puasa mutih telah mengalami distorsi dalam masyarakat Jawa. Mereka menggunakan ritual puasa mutih untuk mendapatkan ilmu kesaktian dan kekebalan tubuh. Ada juga yang menjalankan puasa mutih untuk lelaku ritual klenik, misalnya mencari pesugihan. Hakikat berpuasa seperti yang diajarkan Al-Quran tidak sepenuhnya berlaku bagi kaum Islam Abangan. Mereka mencampur-adukkan Islam dengan peninggalan budaya Hindu-Buddha.

Seringkali ritual puasa mutih diakhiri dengan puasa ngebleng. Puasa ngebleng adalah puasa yang dimulai dari waktu imsyak hingga jam 12 malam. Sungguh sebuah penyiksaan diri. Saya kasihan melihat orang yang berlaku demikian. Agama Islam hanya memiliki satu waktu puasa, yaitu dari imsyak (kira-kira pukul 04.15 WIB waktu Jombang) hingga maghrib (sekitar pukul 17.35 WIB waktu Jombang). Jika memang niat berpuasa, maka puasalah dari waktu imsyak sampai maghrib. Jangan diperpanjang.

Ibadah Puasa Hanya Karena Allah

Saya belum pernah menjalani puasa mutih karena saya berpikiran praktek puasa mutih bisa melencengkan pikiran manusia menuju perbuatan syirik. Syirik adalah perilaku bersekutu dengan setan. Al-Quran sendiri telah mengajarkan bahwa ibadah puasa adalah ibadah untuk Allah, bukan untuk manusia maupun makhluk-Nya yang lain. Dan Islam sendiri tidak pernah mengajarkan umatnya untuk sahur dan berbuka puasa hanya dengan makanan yang berwarna putih.

Mari kita kembalikan semuanya kepada Al-Quran dan Sunah Rasul. Kita tidak perlu menambahkan aturan baru yang tidak sejalan dengan prinsip Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Kalaupun kita berpikiran mau menghormati adat-istiadat Jawa, maka sudah seharusnya kita jalankan adat Jawa yang bersesuaian dengan syariat Islam. Puasa dalam agama Islam hanya satu waktu seperti tersebut di atas. Al-Quran telah merangkum segenap peraturan hidup manusia di dunia dan menjadi rahmat bagi sekalian alam.

Semoga artikel ini bisa menginspirasi Anda sehingga ibadah yang Anda lakukan diterima oleh Allah dan membawa berkah bagi diri Anda sendiri serta orang-orang di sekitar Anda. Jangan sampai Anda sudah bersusah-payah beribadah namun tidak mendapat ridho Allah karena niat yang salah dan dilakukan dengan cara yang salah pula. Tidak sepantasnya manusia menciptakan aturan baru terkait tatacara berpuasa karena perintah puasa sudah jelas tertulis di dalam kitab suci Al-Quran dan diperjelas dengan Hadist Nabi. Wassalam.

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *