Pengalaman Pertama Menjadi Guru Quran di TPQ Al-Mujahidin

Penampilan seni musik Islami Banjari oleh TPQ Al-Mujahiddin Guwo Mojowarno Jombang
Penampilan seni musik Islami Banjari oleh TPQ Al-Mujahiddin Guwo Mojowarno Jombang

Deja Vu! Artikel ini saya tulis sekitar empat tahun lalu saat baru menginjakkan kaki di Kota Jombang. Jika tidak salah, 14 September 2012. Setelah sempat terlantar selama bertahun-tahun, tulisan ini akhirnya saya temukan lagi. Kisah saya menjadi salah satu pengajar di TPQ Al-Mujahiddin sungguh tidak mudah. Sampai detik ini telah banyak terjadi peristiwa yang menarik disana. Semoga bisa menginspirasi Anda.

Setelah sebelumnya saya sempat kecewa karena misi pertama mengajar di TPQ tidak terlaksana, hari ini saya bisa mewujudkan salah satu impian besar saya. Menjadi pengajar Quran, atau sebutan kerennya adalah ustadz, bukan pilihan populer bagi anak muda jaman sekarang. Alhamdulillah hari ini saya bisa survive pada keyakinan saya bahwa mengajar Al-Quran adalah satu alasan mengapa saya tetap bertahan hidup di desa tercinta.

Pukul 16.00 WIB saya berangkat menuju ruang kelas TPQ yang berjarak 50 meter dari teras rumah. Setelah melewati kerumunan pedagang pasar malam, di sebelah rumah ada hajatan nikahan dan nanggap wayang kulit, saya hanya menemukan dua orang santriwati. Seorang gadis kecil kira-kira berusia 7 tahun sedang menggandeng adiknya yang berumur kurang lebih 4 tahun. Tak apalah. Walau cuma dua santri, saya bertekad akan tetap mengajar.

Saya mulai kelas TPQ dengan doa pembuka bersama dua orang santri. Beberapa menit kemudian datang secara bergerombol santriwan-santriwati lainnya. Oww, ternyata gitu ya. Kalau ustadznya tidak memulai kelas ngaji, mereka nggak mau masuk kelas. Inilah salah satu poin utama yang harus saya ingat dalam pengajaran TPQ. Memang benar nasehat Ustadz Kasiyanto dalam acara halal bihalal BMQ At Tartil Kab. Jombang lalu, keberhasilan pendidikan Islami tergantung disiplin dan kreatifitas para ustadz/ustadzah dalam mengajar.

TPQ Al-Mujahidin terletak di sebelah barat Masjid Baitussalam Dusun Guwo Desa Latsari Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Pembangunan TPQ ini sejak awal mengundang pro dan kontra karena bangunan kelas berdiri di atas tanah wakaf. Kendati demikian, saya tidak pedulikan tanggapan miring orang-orang yang tidak suka keberadaan TPQ Al-Mujahidin. Biarlah mereka sibuk mencari aib orang lain. Saya hanya ingin memberi sedikit kontribusi pada adik-adik disini.

Semangat Hidup Dari Mengajar Quran

Sebelum lahir TPQ Mujahidin beberapa tahun lalu, saya sempat aktif di BMQ Iqro selama masih sekolah di SD dan SMP. BMQ Iqro juga memberikan saya kesempatan untuk mengajar teman-teman dan adik-adik yang berada di level di bawah saya. Maklum, ketika itu setiap santri yang sudah menginjak Jilid Al-Quran harus bersedia mengajar santri lain yang berada pada Jilid 1, 2 dan 3. Namun ada suasana yang berbeda pada pengalaman pertama menjadi pengajar Quran kali ini.

Kondisi pengajaran Quran kali ini sangat berbeda di banding syiar Islam era tahun 90-an. Yang pertama adalah menggunakan BMQ At-Tartil. Proses pendidikan di PGPQ Mojowarno dengan sistem BMQ At-Tartil banyak membantu saya dalam mengajar para santri di TPQ Al-Mujahidin. Ustadzah Ella, Ustadz Irmawan, dan Ustadz Hadi selama beberapa bulan terakhir ini memberikan suntikan motivasi diri yang tak terkira untuk saya.

Perbedaan kedua adalah kondisi lingkungan masyarakat sekitar TPQ. Orang bilang sekarang ini jamannya jaman akhir. Menyiarkan agama Islam ibarat menggenggam bara api. Beragam tantangan hadir dalam proses syiar Islam. TPQ Al-Mujahidin di Guwo memang telah memiliki ruang kelas sendiri. Namun kondisi ini tidak sebanding dengan minat generasi muda dalam mempelajari kitab suci umat Islam, Al-Quranul Karim.

Entah memang sekarang ini sudah pertanda hari kiamat mau datang, atau memang hal ini hanya prasangka saya, baik guru maupun santri tidak terlalu minat belajar Quran. Para ustadz dan ustadzah muda enggan mengikuti kelas pelatihan guru pengajar Quran (PGPQ). Nah, kalau gurunya saja sudah malas belajar Quran, apalagi muridnya. Bukankah keteladanan sikap merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan.

Saya tahu jalan syiar Islam di desa ini tidak akan mudah dilakukan, khususnya pada era modern saat ini. Tantangan ke depan bisa saja berasal dari dalam diri saya sendiri, bukan dari lingkungan. Untuk itu, saya hanya bisa berdoa semoga diberi kemudahan jalan dalam melangkah. Karena sebesar apapun usaha manusia tidak akan berjalan sukses tanpa Ridho Allah. Amin.

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

5 thoughts on “Pengalaman Pertama Menjadi Guru Quran di TPQ Al-Mujahidin”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *