Prestasi Santri TPQ Al-Mujahiddin pada Ramadhan Tahun 2016 yang Membanggakan

Saya bersyukur bahwa mulai Ramadhan tahun ini para santri TPQ Al-Mujahiddin mulai berani tampil dalam berbagai kesempatan kegiatan keagamaan di Dusun Guwo Desa Latsari Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Mereka bukan hanya hadir sebagai pelengkap acara saja, tetapi juga turut berpartisipasi secara aktif dalam rutinitas ibadah di masjid dan di tengah masyarakat. Hal ini semakin mendekatkan kepada misi saya untuk mengembangkan TPQ Al-Mujahiddin sebagai wahana mencetak calon-calon pemimpin Islami di masa depan. Terdengar lucu dan berlebihan? Mungkin ya bagi Anda. Tapi tidak bagi saya.

Apapun keadaan anak-anak saat ini, saya terus mendorong mereka untuk tampil ke depan. Saya tahu proses itu tidak akan semudah membalikkan telapak tangan, namun saya berupaya melakukan setahap demi setahap. Tantangan paling besar tentu saja berasal dari keluarga mereka sendiri. Anak-anak yang belajar di TPQ Al-Mujahiddin mengalami krisis keteladanan. Orang tua dan keluarga mereka belum mampu menjadi panutan yang sesuai dengan anjuran agama Islam. Jangankan mengajak sholat lima waktu, sebagian besar dari wali santri justru menyibukkan diri dengan aktifitas duniawi yang berbau kemaksiatan. Tertangkapnya lima orang penjudi di hari-hari awal bulan Syawal tahun ini sungguh memilukan.

Bersemangat di titik akhir.
Bersemangat di titik akhir.

Bilal Sholat Tarawih

Jaman sudah terbolak-balik. Jika para santri tidak bisa memperoleh keteladanan di rumah mereka, maka mereka harus memulai menjadi panutan bagi orang tua mereka. Kenapa tidak! Bermula saat saya membuat jadwal bilal tarawih selama Ramadhan tahun 2016 ini. Awalnya para santri yang saya tunjuk sebagai bilal tidak percaya diri untuk memegang mikrofon dan bersuara lantang. Namun saya terus mendorongnya dengan berbagai cara. Mulai dari mencetak lembaran bacaan bilal tarawih dari awal sampai akhir untuk setiap petugas bilal, sampai dengan melatih mereka mempraktekkan bacaan bilal tersebut di dalam kelas TPQ. Sebagaimana perkiraan awal saya, mereka malu unjuk suara. Mereka terbiasa dikerdilkan secara mental. Dan tugas para pengajar TPQ adalah membangunkan mental juara dalam diri setiap santri.

Secara umum saya bersyukur sembilan puluh persen santri sudah menjalankan tugas bilal dengan baik. Kalaupun ada yang absen, itu disebabkan karena santri tersebut mengikuti jadwal mudik orang tua ke kampung halaman mereka. Kalau itu keadaannya, saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Bukan hanya membaca bilal, tetapi mereka juga mulai saya berikan teks bacaan pujian setelah sholat tarawih. Robbana ya Robbana waghfirlana dzunubana dan seterusnya. Ada kesan bahwa saya berusaha mengembalikan kebiasaan ibadah warga kepada budaya Jawa. Tidak masalah. Sepanjang tidak menyalahi tauhid itu bisa menjadi cara kreatif membumikan Islam dalam kehidupan masyarakat. Bukankah para Wali Songo dulu juga melakukan hal yang sama dan berhasil diterima masyarakat tanpa perlawanan.

Menjadi bilal tarawih terlihat sepele bagi orang dewasa namun tidak bagi anak-anak. Memegang mikrofon dan memberikan komando kepada jamaah sholat tarawih hanya mampu dilakukan oleh para calon pemimpin bangsa. Itulah tujuan saya. Mereka adalah generasi muda Islami yang memiliki tanggungjawab menyebarluaskan ajaran agama Islam, walaupun hanya satu ayat. Adanya kesalahan dalam bacaan bilal bukanlah alasan untuk memberhentikan mereka saat itu juga. Mereka memerlukan banyak kesempatan untuk menunjukkan prestasi diri dalam berbagai bidang yang mereka tekuni.

Penampilan seni musik Islami Banjari oleh TPQ Al-Mujahiddin Guwo Mojowarno Jombang
Penampilan seni musik Islami Banjari oleh TPQ Al-Mujahiddin Guwo Mojowarno Jombang

Tadarus Al-Quran Sepanjang Ramadhan

Aktif mengikuti tadarus Ramadhan adalah prestasi berikutnya dari para santri TPQ Al-Mujahiddin Dusun Guwo Desa Latsari Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Meskipun membaca Al-Quran selama bulan Ramadhan hukumnya sunnah, saya bersikeras membuat jadwal tadarus untuk setiap santri setiap hari. Perinciannya adalah lima orang santri putra bertugas tadarus pada malam hari dan empat orang santri putra pada pagi hari. Santri putri saya berikan kebebasan untuk mengikuti tadarus kapan saja saat mereka suci dan memiliki waktu luang. Saya menerapkan budaya disiplin mengaji Al-Quran sepanjang Ramadhan di masjid karena selama bulan puasa kemarin banyak santri yang tidak masuk di kelas-kelas TPQ.

Tadarus malam dilaksanakan selepas sholat jamaah isya’ dan tarawih, tepatnya sesudah tadarus jamaah putri. Tadarus putri berlangsung kira-kira mulai pukul setengah delapan malam dan berakhir pada sekitar jam sembilan malam. Namun seringkali jam tadarus putri molor sampai jam setengah sepuluh malam. Nah, ada waktu kira-kira satu jam bagi santri putra untuk tadarus mulai pukul sembilan sampai pukul sepuluh malam. Selanjutnya istirahat beberapa jam dan tadarus dilanjutkan kembali saat menjalang waktu imsyak, yaitu sekitar jam tiga pagi sampai jam empat lebih lima belas menit. Hal itu berlangsung selama bulan Ramadhan tahun ini. Di awal-awal Ramadhan mereka tampak semangat. Namun di setengah terakhir Ramadhan mereka mulai sibuk melaksanakan perjalanan mudik pulang kampung.

Pemicu semangat para santri untuk hadir di masjid bukanlah karena saya menjanjikan hadiah. Tidak. Saya tidak ingin mengajarkan reward and punishment dalam mengajar anak-anak. Biarlah mereka memiliki kesadaran dari dalam diri untuk menjalankan ibadah sehari-hari. Meski demikian, kehadiran takjil Ramadhan yang dikirim oleh para warga setiap hari turut menjadikannya sebagai daya tarik mengikuti tadarus Al-Quran di masjid Baitussalam sepanjang bulan Ramadhan. Biasanya mereka datang lebih awal dan berebut makanan yang dikirim warga ke masjid. Setelah kenyang makan kue, buah dan sajian lainnya, mereka saya beritahu untuk berwudhu dan memulai tadarus Al-Quran secara bergantian. Cara ini terbilang efektif untuk memotivasi mereka agar aktif mengikuti tadarus.

Anak-anak masih membutuhkan pendampingan saat menjadi bilal sholat tarawih dan mengikuti tadarus Al-Quran. Dan tugas itulah yang saya jalankan selama mereka bertugas. Saya tidak perlu memperdengarkan suara saya saat mereka sedang bertugas. Hanya mendampingi saja. Namun kehadiran saya bisa menenangkan mereka, minimal ada tempat bertanya saat mereka kebingungan menghadapi situasi yang berubah secara tiba-tiba. Saya bangga atas kerja keras dan keberanian mereka mengamalkan ilmu yang diperoleh di TPQ. Semoga kelak para santri tersebut bisa menjadi pemimpin-pemimpin negara yang cerdas, amanah dan berakhlaq mulia. Aamiin.

4 Replies to “Prestasi Santri TPQ Al-Mujahiddin pada Ramadhan Tahun 2016 yang Membanggakan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *