Suka Duka Membangunkan Warga Untuk Makan Sahur di Bulan Ramadhan

Membangunkan warga untuk makan sahur sendirian adalah salah satu tugas spesial saya selama bulan Ramadhan 2016 yang baru saja lewat. Sebenarnya saya nggak sendirian-sendirian banget. Di awal bulan Ramadhan saya masih ditemani oleh beberapa santri TPQ Al-Mujahiddin yang memang sengaja saya berikan tugas untuk tadarus di pagi hari sebelum waktu imsak tiba. Mereka bertahan hanya pada sepertiga awal Ramadhan. Selebihnya saya lebih banyak berkoar-koar sendiri di depan mikrofon masjid Baitussalam Dusun Guwo Desa Latsari Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Kegiatan ini biasanya saya lakukan mulai pukul tiga dini hari sampai waktu sahur tiba, yaitu kira-kira jam empat lebih lima belas menit.

Sebenarnya ada kenikmatan tersendiri di dalam suka-duka menjalankan aktifitas membangunkan warga untuk makan sahur sepanjang Ramadhan tahun ini. Sisi sukanya adalah saya bisa melatih kemampuan public speaking saya dalam bahasa Jawa. Sesuai kebiasaan warga disini, setiap pemberitahuan yang dilakukan warga melalui pengeras suara masjid dilaksanakan dengan menggunakan bahasa Jawa halus. “Kagem para Bapak, para Ibu, lan rekan-rekan sedaya ingkang badhe ngelaksanaaken siyam Ramadhan, kawulo aturi enggal-enggal sahur amergi sakmenika sampun jam setengah sekawan…” Itulah petikan dari acara woro-woro membangunkan makan sahur yang saya lakukan di desa tempat tinggal.

Keuntungan kedua adalah saya berkesempatan mempraktekkan ilmu membaca Al-Quran secara tartil. Saya mengenal banyak kawan-kawan alumni Pendidikan Guru Pengajar Al-Quran (PGPQ) At-Tartil yang bersuara bagus dan mampu melafalkan bacaan Al-Quran dengan baik dan benar. Namun sebagian besar dari mereka malu untuk mengaji di depan mikrofon. Nah, Ramadhan kali ini pun menjadi kesempatan saya mempraktekkan bacaan Al-Quran sesuai ajaran para ustadz dan ustadzah PGPQ. Biasanya saya merekam suara saya sendiri untuk saya dengarkan ulang kapan-kapan kalau ada waktu. Dengan begitu saya bisa menilai kuat-lemahnya suara saya dan saya harus menyesuaikan power suara agar tidak memekakkan telinga pendengar.

Meski tugas membangunkan penduduk untuk makan sahur memiliki banyak manfaat, namun bukan berarti diri saya bebas cela. Sisi buruk dari peran pemain tunggal adalah masyarakat Guwo memiliki ketergantungan kepada sosok saya. Saya menjadi harapan bagi ratusan warga muslim sekitar masjid yang akan melaksanakan ibadah puasa agar tidak telat makan sahur. Ketergantungan terhadap seorang figur adalah bukti kegagalan regenerasi organisasi masyarakat. Saya menyadari betul betapa susah-payah saya membangun kepercayaan diri para remaja usia SMP dan SMA agar mau mengaji di masjid. Harapan saya adalah agar mereka terbiasa hidup di tengah masyarakat dan mempraktekkan ilmu yang mereka miliki agar memberikan kemanfaatan kepada sesama.

Efek buruk ketergantungan figur adalah menghasilkan fitnah. Pernah sekali dalam Ramadhan tahun ini saya tidak bisa tadarus dan membangunkan makan sahur karena saya menginap di Pondok Pesantren Ath-Tholib Wonosalam usai memberikan dongeng anak di acara buka puasa bersama sanggar genius Wonosalam. Waktu sudah terlalu malam sehingga saya memutuskan tidak pulang ke rumah. Karena di masjid tidak ada pengganti saya, maka tidak ada warga yang mengaji dan berteriak lantang membangunkan penduduk sekitar masjid untuk makan sahur. Keesokan siangnya ketika saya pulang ke rumah, saya mendapatkan semprotan dari sejumlah warga yang protes karena mereka bangun kesiangan. Nah loh, kalau sudah begini kok saya yang disalahkan. Saya hanya tersenyum menanggapi kelakuan lucu mereka.

Sejujurnya ada banyak warga Guwo yang mampu membaca Al-Quran dengan baik dan benar. Namun tidak ada diantara mereka yang bersedia bangun lebih awal, makan sahur lebih awal, lalu lanjut tadarus dan membangunkan sahur di depan mikrofon masjid. Selain itu ada pula kelompok patrol modern dari Guwo yang hilir mudik membuat suara ribut mulai jam dua sampai jam tiga dini hari. Tetapi semua itu belum mampu membangunkan warga untuk bangun tidur dan makan sahur menjelang pukul empat pagi sampai waktu imsak tiba. Rendahnya partisipasi dan kesadaran warga untuk berdakwah merupakan PR besar bagi pemuka agama disini. Semoga makin banyak saudara-saudara muslim yang terinspirasi untuk bergerak setelah membaca tulisan saya ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *