Suka Duka Menjadi Ustadz Muda Pengajar Santri Putri ABG

Senyum Anak TPQ Al-Mujahiddin Guwo Latsari Mojowarno Jombang
Senyum Anak TPQ Al-Mujahiddin Guwo Latsari Mojowarno Jombang

Setiap ustadz atau ustadzah hendaknya mampu menjadi pengajar pengetahuan agama di dalam kelas maupun menjadi guru di dalam kehidupan yang sebenarnya. Keberhasilan pendidikan Islami ditunjang oleh keteladanan guru di mata para murid atau santri yang diajar. Bagaimana jadinya kalau seorang ustadz muda diharuskan mengajar para santri yang sedang tumbuh menjadi remaja usia akhil baliq? Pastinya gampang-gampang susah memberikan keteladanan sikap yang terpuji.

Kali ini contohnya datang dari pengalaman saya mengajar kelas Al-Quran di TPQ Al-Mujahidin di Dusun Guwo Desa Latsari Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Sebenarnya saya mengajar di dua kelas yang berbeda, yaitu kelas At-Tartil Jilid 3 dan kelas Jilid Al-Quran. Kalau untuk kelas Tartil 3 mereka kebanyakan masih sekolah SD kelas 1 dan 2. Secara psikologis, metode pengajaran kepada mereka masih sama dengan cara mengajar kepada anak-anak usia TK.

Beda halnya dengan cara mengajar santri jilid Al-Quran yang sebenarnya. Mereka yang belajar mulai juz 1 sampai khatam adalah siswa yang bersekolah kelas 5 SD sampai dengan kelas VIII SMP. Rentang usia tersebut adalah masa-masa awal pubertas yang terjadi secara spesial dalam perkembangan hidup semua manusia. Dan tantangannya adalah semua santri Quran yang saya ajar merupakan santri putri. Beberapa waktu terdapat beberapa santri putra tapi tak lama kemudian mereka jarang masuk.

Mengendalikan Sikap dan Keteladanan Pekerti

Para santri putri tersebut rata-rata sudah memiliki sifat yang sama dengan remaja perempuan pada umumnya. Mereka suka menonton acara televisi sinetron Anak Jalanan, mereka bergaya centil, agak gengges, hobi berdandan, dan tentu saja mulai tertarik dengan lawan jenis. Saya harus berhati-hati bersikap dan berperilaku sehingga proses pendidikan Islami yang dikembangkan melalui TPQ bisa membawa manfaat bagi perkembangan mental mereka.

Sisi enaknya mengajar santriwati usia ABG (usia baru gede) adalah mereka bisa menjadi teman bercanda yang sesuai dengan umur saya. Saya bisa mengajak mereka ngobrol dengan bahasa anak muda dan mereka nyambung dengan apa yang saya bicarakan. Hal ini tentu saja tidak dapat saya lakukan ketika mengajar santri At-Tartil Jilid 3. Para santriwati ABG tersebut cepat tanggap ketika saya menunjukkan bahasa tubuh (body language) yang mengekspresikan saya senang dan tidak senang dengan perbuatan mereka.

Tantangan yang saya temukan ketika mengajar santriwati ABG adalah mengontrol ucapan dan memberikan teladan yang selalu bernilai bagus. Mereka seringkali usil menyembunyikan sandal saya di balik tumpukan keset maupun mengagetkan saya ketika akan masuk ke dalam kelas. Untungnya saya nggak latah sehingga tidak terucap kata-kata kotor yang biasa terdengar layaknya Mpok Atik katakan. Sedikit jaim (jaga image) tetap saya praktekkan agar mereka tetap hormat kepada saya.

Alhamdulillah, sejauh ini mereka hanya menyatakan hal-hal baik kepada saya. Misalnya, mereka suka lagu-lagu pujian yang saya nyanyikan setelah adzan dan menjelang sholat jamaah lima waktu. Mereka bilang suara saya pas dengan karakter lagu. Semoga ke depannya saya tetap mampu memberi contoh yang baik. Bagaimanapun juga, metode pendidikan terbaik adalah yang dilakukan melalui keteladanan sikap guru. Semoga artikel ini bisa memberi inspirasi kepada Anda.

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *