Bincang Bisnis ASITA: Membangun dan Mengembangkan Desa Wisata Setelah Pandemi

Pembukaan kembali tempat wisata Jomban di masa pandemi new normal - Gambar diambil dari Facebook Thica Basuki
Pembukaan kembali tempat wisata Jombang di masa pandemi new normal. (Gambar diambil dari Facebook Thica Basuki)

Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) mengadakan diskusi online bertajuk “Bincang Bisnis ASITA: Membangun dan Mengembangkan Desa Wisata Setelah Pandemi” pada Sabtu, 4 Juli 2020 lalu. Kegiatan ini dimulai pukul 13.30 WIB dan berakhir pada pukul 15.30 WIB. Bincang Bisnis ASITA mengambil topik pembahasan yang menarik, yaitu bagaimana cara Membangun dan Mengembangkan Desa Wisata Setelah Pandemi untuk menggairahkan kembali bisnis wisata di Indonesia.

Pembicara utama bincang online ASITA ini adalah Dr. Frans Teguh, M.A. Beliau adalah Plt. Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Selain itu, bincang bisnis pariwisata setelah pandemi ini diramaikan dengan sharing session dari Ir. Doto Yogantoro (Direktur Utama Desa Institute), Andi Yuwono, S.Sos.,M.Si. (Ketua Umum Asosiasi Desa Wisata), dan Taufik Madjid (Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kemendes PDTT Republik Indonesia).

Diskusi online ASITA ini juga diwarnai pembicaraan menarik dengan Dr. N. Rusmiati, M.Si. selaku President of ASITA dan Sugeng Handoko sebagai pengelola Desa Wisata Nglanggeran, Gunung Kidul, DIY Yogyakarta. Moderator bincang bisnis ASITA ini adalah Dr. Hj. Masruna Ramidjal selaku Koordinator Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Dewan Pimpinan Pusat ASITA. Bincang bisnis berlangsung santai namun penuh dengan informasi yang bermanfaat untuk pelaku bisnis pariwisata di Indonesia.

“Selamat siang Bapak dan Ibu. Kembali kita bertemu di acara bincang hari ini. Kita memasuki episode yang ketigabelas dari Bincang Bisnis ASITA. Hari ini kita akan membahas sebuah topik yang sangat menarik, yaitu membangun dan mengembangkan desa wisata setelah masa pandemi,” demikian moderator diskusi membuka acara.

Kita tahu bahwa masa pandemi ini menyebabkan berubahnya pola perilaku para traveler. Salah satu perubahan itu adalah kecenderungan orang-orang akan memilih untuk berwisata ke suatu tempat yang lebih aman dan menyehatkan. Kita tahu bahwa desa wisata menjadi salah satu tempat yang menyediakan hal itu. Lingkungan asri, makanan sehat, dan ketersediaan sarana dan prasarana pendukung akan mempermudah wisatawan mengakses desa wisata.

Pembahasan bincang bisnis wisata perlu dilihat dari berbagai perspektif. Asosiasi pelaku  bisnis tur dan travel telah membangun kerjasama dengan banyak pihak untuk mendukung kebangkitan wisata desa setelah masa pandemi. Pemerintah merupakan sebagai salah satu pihak yang penting dalam membuat regulasi bisnis pariwisata.

ASITA telah bekerja selama bertahun-tahun di bisnis pariwisata dan memberdayakan masyarakat. ASITA bekerja aktif dan mempunyai anggota kurang lebih tujuh puluh ribuan dari 34 provinsi.

“Peluang kerja sama antara Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dan Kementerian Desa untuk mengemas produk wisata desa perlu kita dukung bersama. Jika kita menjual produk paket-paket wisata desa ini maka kita bisa memberikan konstribusi untuk memberdayakan masyarakat Indonesia,” ujar Hj. Masruna.

Keindahan tempat wisata pantai di Bali
Keindahan tempat wisata pantai di Bali

Tantangan Desa Wisata

Senada dengan moderator diskusi, Dr. Frans Teguh merasa senang bisa berdiskusi dengan 182 orang peserta Zoom Cloud Meeting hari itu. Beliau menyatakan bahwa kondisi pandemi ini menjadi tantangan tersendiri bagi setiap pelaku bisnis di kawasan desa wisata.

“Kita harus tetap bersemangat dan mempunyai kemampuan untuk berinovasi. Kita selalu punya harapan yang lebih baik dan harus kita songsong pada waktu-waktu mendatang. Berbagai kebijakan atau hal-hal yang sudah kita kerjakan dari pemerintah, terutama dari Kementerian Pariwisata, perlu kita teruskan,” demikian disampaikan oleh Dr. Frans Teguh.

Dr. Frans Teguh menyatakan bahwa orang-orang yang mengembangkan desa wisata adalah orang-orang hebat dan handal. Program perlindungan sosial dan kreativitas warga desa wisata harus menjadi kekuatan utama pengembangan desa wisata.

“Kekuatan bangsa kita ini ada dua. Pertama adalah aspek positif modal sosial. Kedua adalah aspek inovasi dan kreativitas. Jadi bangsa kita sudah terbukti dari masa ke masa bisa keluar dari krisis,” ujar Dr. Frans Teguh.

Masyarakat Indonesia mempunyai social capital atau modal sosial yang menjadi kekuatan dari pembangunan pariwisata. Pelaku bisnis wisata perlu berkoordinasi dengan daerah-daerah wisata. Menurut Dr. Frans Teguh, proses pemulihan wisata desa seperti saat ini dapat dilakukan dengan  cara mendorong pergerakan wisatawan domestik. Kunjungan wisatawan domestik menjadi fokus pengelola desa wisata di masa-masa awal pandemi mereda.

Secara bertahap, ASITA ingin memastikan semua pelaku bisnis wisata desa siap beroperasi di era new normal. ASITA sangat menghargai upaya-upaya yang sudah dilakukan, baik di tingkat desa wisata maupun di tingkat kabupaten dan provinsi untuk menerapkan protokol kesehatan di desa wisata. Kelestarian lingkungan menjadi modal utama supaya pembukaan secara bertahap desa wisata memiliki daya tarik di mata wisatawan.

Destinasi wisata di daerah pedesaan perlu dipersiapkan secara baik untuk mengembalikan rasa aman kepada pengunjung. Persiapan itu juga untuk memastikan bahwa aspek kebersihan dan kesehatan betul-betul menjadi perhatian pengelola desa wisata sehingga pengelola wisata memerlukan strategi-strategi baru dalam meningkatkan sumber daya manusia desa wisata. 

Usaha menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan desa wisata harus diperkuat dengan upaya-upaya yang lebih konsisten untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap tempat-tempat wisata di Indonesia. Ke depannya akan dibuat skema verifikasi desa wisata untuk memastikan daerah-daerah wisata yang sesuai dengan protokol kesehatan dan aman dikunjungi oleh masyarakat umum. 

Kita semua sudah memahami peran fasilitas kesehatan sangat strategis dalam bisnis pariwisata. Selain membangun kepercayaan kepada publik, ketersediaan fasilitas kesehatan perlu menjadi prioritas pengelola tempat wisata di desa. Setidaknya tempat wisata di desa-desa sudah menyediakan tempat cuci tangan dalam jumlah yang memadai dan memenuhi standar kesehatan. 

Liburan Terapi Ikan dan Dayung Perahu di Kampung Coklat Kademangan Blitar
Liburan Terapi Ikan dan Dayung Perahu di Kampung Coklat Kademangan Blitar

Peran Teknologi Informasi

Bincang bisnis pengembangan desa wisata bersama ASITA kali ini juga membahas ekosistem digital dan inovasi bisnis yang perlu dibangun. Tidak bisa dipungkiri, setiap pelaku bisnis pariwisata harus Memaksimalkan Peran Teknologi Informasi di Tengah Pandemi secara optimal. Teknologi informasi merupakan salah satu kebutuhan pokok pengembangan obyek wisata yang mampu adaptif dan menampung hasrat berlibur wisatawan.

Ini sebuah keniscayaan bahwa pengelola desa wisata harus lebih akrab dengan media sosial untuk promosi secara efektif, murah, dan efisien. Masyarakat luas bisa mendapatkan akses informasi lebih cepat dan real time dari sosial media. Oleh karena itu dibutuhkan kemampuan sumber daya manusia yang mumpuni dan berkompeten dalam mengoptimalkan peran sosial media untuk mengembangkan desa wisata menjadi obyek wisata kekinian di daerahnya.

Sumber daya manusia desa wisata tidak hanya berperan sebagai seorang profesional, tetapi juga memiliki jiwa kewirausahaan. Sumber daya manusia desa wisata diharapkan mampu mengembangkan potensi desa menjadi sebuah bisnis model yang nanti bisa memberikan nilai ekonomi, nilai sosial budaya, dan pelestarian lingkungan. Aspek kelestarian lingkungan pun harus tetap diperhatikan supaya desa wisata dapat dinikmati oleh wisatawan dari masa ke masa secara berkelanjutan. 

Lebih lanjut lagi, bincang bisnis ASITA hari itu menghimbau agar pelaku bisnis pariwisata di era paska pandemi diharapkan berperan aktif dalam mendorong munculnya model-model bisnis pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan. Prinsip inovasi dan sinergi menjadi sangat penting untuk dijalankan di desa wisata. Desa wisata diharapkan bisa menyediakan semacam tempat pembelajaran yang mampu memberikan interaksi dialog mengenai kehidupan berbudaya, belajar tentang kearifan lokal, dan belajar menghormati nilai-nilai alam budaya dan juga masyarakat. 

Menurut N. Rusmiati, ASITA bersama Kementerian Desa dan Pemerintah Daerah terus mendorong spot-spot yang menjadi interaksi antara pengunjung dengan masyarakat setempat. Langkah ini bisa mengarah kepada pengalaman berwisata sebagai sebuah produk. Kalau pengalaman berwisata ini dikemas menjadi satu paket, maka rantai nilainya adalah terjadinya Moment Of Truth untuk menciptakan pengalaman-pengalaman yang bersumber dari kearifan lokal. Pengalaman berharga ini dapat memberikan tekanan osmosis yang merepresentasikan keunikan desa wisata di Indonesia. 

Model yang akan menjadi jalan bagi pengembangan pariwisata desa di Indonesia nanti mengarah ke input dan juga community. Sudah banyak desa wisata di Indonesia yang menerapkan pemasaran berbasis pengalaman wisata desa, tapi yang perlu kita pastikan bahwa antara produk dan pasar saling memiliki ikatan membutuhkan. Pengelola wisata desa berharap dapat meningkatkan omset dari kunjungan wisatawan,  sementara wisatawan ingin mempelajari kearifan lokal desa tersebut.

Liburan Asyik di Wisata Kampung Indian Kediri Sambil Foto Rame-rame
Liburan Asyik di Wisata Kampung Indian Kediri Sambil Foto Rame-rame

Riset Perilaku Pasar

Mau tidak mau, pengelola desa wisata harus mempelajari perilaku masyarakat yang nanti berpotensi menjadi pengunjung atau menjadi wisatawan. Tujuan riset pasar bisnis wisata adalah agar kombinasi antara nilai jual dan pelayanan berjalan berimbang. Berhubung ada kebijakan physical distancing, maka pengelola desa wisata perlu melakukan inovasi-inovasi pelayanan.

Inovasi pelayanan tersebut tentu tidak mengurangi hakikat dari protokol kesehatan dan hospitality karena bagaimanapun perilaku manusia selalu didorong oleh hubungan sosial dan emosional. Sampai kapan pun emosional manusia tidak bisa tergantikan dengan teknologi informasi. 

Sumber daya manusia yang berkompeten serta pelayanan yang prima merupakan kebutuhan pengembangan desa wisata setelah pandemi berlalu. Beruntunglah desa wisata yang memiliki sumber daya manusia handal dan bisa menjadi enterpreneur. Mereka bisa menjadi seorang pengusaha kuliner, jasa pemandu wisata, atau bahkan mendirikan sentra-sentra produk kreatif yang hadir di dalam seluruh mata rantai produk yang ada di sebuah desa wisata.

Kebangkitan desa wisata setelah masa pandemi membutuhkan manusia-manusia yang hebat dan sumber daya sumber daya yang memadai. Peran dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi kreatif bersama dengan seluruh jajaran termasuk dengan Kementerian Desa dan kementerian-kementerian teknis yang lainnya sangat dibutuhkan. Mari kita bahu-membahu meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam bisnis pariwisata.

Untuk menuju kebangkitan desa wisata di Indonesia, perlu kita siapkan secara baik tata kelolanya dan model-model kewirausahaannya sehingga bisnis modelnya betul-betul andal dengan memastikan berakar pada sumber daya lokal atau nilai-nilai kearifan lokal lokal.

Wisata desa di Indonesia sudah bergerak dengan banyak model dan cara. Ada program-program sinergi yang dijalankan, misalnya sharing dari masterclass. Mereka bisa bercerita awal mula membangun bisnis wisata di desa hingga berhasil. Success story-nya bisa menjadi model untuk pengembangan desa-desa yang lain di Indonesia.

Bincang bisnis ASITA membahas perlunya ukuran-ukuran yang lebih pas sebagai parameter keberhasilan pengembangan desa wisata. ASITA mendorong pengelola desa wisata menggunakan skema triple bottom line, yaitu aspek ekonomi harus bersanding bersama-sama dengan aspek sosial, aspek budaya, dan aspek lingkungan. Konvergensi dari tiga pilar itu akan menciptakan keseimbangan stabil dan membuat produk-produk dari destinasi pariwisata itu lebih berkembang dan menarik minat lebih banyak kunjungan wisatawan. 

Dalam konteks yang sama, dunia global pun sudah mendorong pengembangan desa wisata menjadi komunitas pelestarian warisan dunia. Warisan dunia (world heritage) dapat berupa situs peninggalan bersejarah, taman nasional, cagar budaya, cagar alam, maupun beragam hasil kreasi manusia yang unik, asli, dan memberi manfaat bagi peradaban manusia. Kombinasi country-side dan inovasi-inovasi desa wisata pada akhirnya mampu meluncurkan pengembangan potensi-potensi yang mungkin juga terkait agriculture. 

Presiden ASITA menyatakan banyak sekali kombinasi kerjasama pengembangan desa wisata dan terbukti mampu memberikan pendampingan dengan kualitas lebih baik. Tingkat kerjasama antar pihak memiliki tantangan yang berbeda. Ada desa wisata yang berstatus rintisan, ada yang masih berkembang, atau mungkin desa wisata yang sudah mandiri namun membutuhkan ide inovasi produk desa wisata tersebut.

Pengembangan desa wisata di Indonesia perlu memiliki ukuran-ukuran yang kita pakai di dalam pemetaan secara nasional. Semua ukuran itu harus sudah siap untuk digunakan dan dikembangkan di masyarakat. Model pengembangan desa wisata berbasis masyarakat lokal akan menghadirkan dialog budaya dan lingkungan. Pengembangan desa wisata menekankan peningkatan sumber daya sosial sebagai bagian dari social capital. Upaya ini memberikan ruang kreativitas baru bagi pengelola desa wisata untuk mengadakan spesialisasi dan diferensiasi produk wisata.

Bagikan tulisan ini:

4 Replies to “Bincang Bisnis ASITA: Membangun dan Mengembangkan Desa Wisata Setelah Pandemi”

  1. Mudah-mudahan pandemi ini segera berlalu dan kita bisa kembali beraktifitas seperti semula. Kalau terus-terusan begini kasihan warga desa yang menggantungkan hidupnya dari sektor pariwisata. Semoga mereka tetap semangat menjalani hidup setelah masa pandemi.

  2. Kehidupan pengelola desa wisata di Indonesia pada masa pandemi tidak terlalu terpengaruh besar. Justru orang-orang yang bekerja di kota itulah yang seharusnya mendapatkan perhatian karena mereka tidak memiliki lahan pertanian, lahan berkebun, maupun berladang. Sementara itu orang-orang desa yang bekerja di desa wisata masih bisa menggarap sawah dan berkebun dimasa pandemi ini. Itulah kekuatan masyarakat desa yang terbukti handal dalam menangkal dampak negatif pandemi ini. Salut untuk mereka.

  3. Sebaiknya tempat-tempat wisata di Indonesia tidak membuka diri dulu untuk kunjungan umum. Jangan sampai karena kita terlalu egois ingin mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dari kegiatan wisata lalu mengorbankan aspek keselamatan dan kesehatan para pengunjung.

  4. Kepanikan yang berlebihan justru bisa mendatangkan penyakit. Ayo kita kunjungi bersama tempat-tempat wisata di desa di seluruh Indonesia. Kalau anda mau mampir silakan berkunjung ke pantai Pangandaran. Ini lokasinya oke, keindahannya tidak perlu diragukan, tapi jangan lupa tetap mempraktekkan protokol kesehatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *