Cerita Rakyat Yogyakarta: Legenda Asal Usul Gunung Merapi

Penelusuran Awal Pembangunan Wisata Negeri Sembilan Gua

Hai sobat pembaca The Jombang Taste! Selangkah lagi Dusun Guwo memiliki andalan wisata sejarah sembilan gua. Berita itu kian santer berhembus sejak sebulan terakhir. Dusun Guwo terletak di Desa Latsari Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Lokasi Dusun Guwo berada di perlintasan Kediri-Surabaya dan Nganjuk-Mojokerto. Usaha pengembangan sektor wisata sejarah sangat mungkin dilaksanakan. Diawali oleh penelusuran awal empat orang perangkat desa, salah satunya adalah Cak Sodik yang banyak bertutur kepada saya dalam satu kesempatan usai sama-sama mengajar di TPQ Al-Mujahiddin.

Cak Sodik melakukan penelusuran ke dalam gua pertama bersama beberapa orang lainnya. Pintu masuk gua berada di lereng terjal Kali Guwo. Tidak begitu lebar, namun cukup untuk satu orang berjalan miring. Semakin ke dalam, ruangan gua semakin lebar. Besarnya ruangan gua kurang lebih 2 meter dengan ketinggian melebihi ketinggian orang dewasa. Cak Sodik tidak perlu merunduk untuk berjalan di sepanjang gua beraliran air jernih itu. Hanya saja mereka harus membawa cahaya buatan. Kali ini mereka membawa lampu senter sebanyak enam buah.

Agus Siswoyo - Aktifitas penjelajahan alam dan berlibur di daerah pantai
Agus Siswoyo – Aktifitas penjelajahan alam di sekitar gua.

Selepas melalui gua pertama di bawah rumah walet di tepi sungai, perjalanan berlanjut ke gua kedua, ketiga dan keempat. Sepanjang perjalanan di dalam tanah, tantangannya adalah persediaan oksigen yang terbatas. Masih menurut cerita Cak Sodik, gua keempat merupakan lokasi favoritnya karena luas dan lebih terbuka. Tempat gua keempat tepat di depan rumah Mbah Paijo dan di tepi jalan raya beraspal. Mulut gua itu sekarang makin mengecil karena ditutupi bangunan rumah. Lagipula masyarakat jaman dulu memandang tidak perlu membuka mulut gua lebar-lebar karena belum terpikir untuk menguak lebih lanjut apa isi gua.

Lanjut ke perjalanan berikutnya. Lorong antara gua keempat dan kelima berada tepat di bawah jalan raya beraspal. Mengapa selama ini tidak ada kejadian tanah ambles disitu? Entahlah. Tidak ada yang tahu pasti alasannya. Hanya saja Cak Sodik bercerita bahwa dinding-dinding gua terdiri dari bebatuan cadas yang cukup kuat untuk menanggung beban orang dewasa bergelayutan. Mungkin saja struktur bebatuan itu yang mendukung kokohnya jalan raya di atasnya. Dan memang sejauh ini tidak ada kejadian aneh terkait lobang besar di bawah jalan raya yan menghubungkan Mojoagung-Ngoro itu.

Penelusuran awal sembilan gua berlanjut menuju ke gua kelima di tempat penggilingan pagi. Masyarakat menyebut tempat ini sebagi selep. Di selep Guwo ada tiga buah mulut gua dengan rincian satu mulut gua besar dan dua mulut gua kecil. Cak Sodik menuturkan kondisi air yang mengalir di tiga gua itu kotor karena tercemari dedak bekas penggilingan pagi selep. Sebenarnya masih ada dua buah mulut gua lagi yang berada di tengah sawah tak jauh dari selep. Hanya saja Cak Sodik dan kawan-kawan tidak berani melanjutkan penelusuran karena persediaan oksigen makin menipis dan stamina tubuh juga semakin menurun.

Sangat disayangkan perjalanan seru Cak Sodik dan kawan-kawan di tujuh gua tidak terdokumentasikan dalam bentuk foto maupun video. Namun saya percaya kegiatan itu nyata terlaksana. Apalagi ditambah pengakuan Emak dan Bapak yang berkata jaman dulu sering mencari ikan di dalam gua itu, saya bertambah yakin gua-gua itu memiliki makna lebih dari sebuah tanah berlobang. Penasaran bagaimana sejarah asal usul sembilan gua di Dusun Guwo? Saya memiliki misi pribadi untuk meneliti sejarah dan asal-usul sembilan gua itu. Pantau terus investigasi saya di blog The Jombang Taste.

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

2 thoughts on “Penelusuran Awal Pembangunan Wisata Negeri Sembilan Gua”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *