Syahdu! Traveling Perdana ke Tempat Wisata Mojokerta di Era New Normal

Desain sepatu Converse yang nyaman bisa dipakai di acara jalan-jalan santai.
Desain sepatu Converse yang nyaman bisa dipakai di acara jalan-jalan santai.

Halo! Apa kabar sobat komunitas blogger Jombang? Setelah sekian lama berdiam diri dirumah, akhirnya hari ini Selasa, 2 Juni 2020 penulis berkesempatan untuk jalan-jalan mengunjungi tempat wisata. Hal ini bisa terjadi karena penulis sekaligus menghadiri acara kondangan salah satu teman di daerah Mojoagung. Lokasi obyek wisata yang dekat dengan daerah Mojoagung adalah kawasan bersejarah Trowulan Mojokerto.

Kecamatan Trowulan memiliki banyak sekali tempat wisata bersejarah peninggalan Kerajaan Majapahit. Sangat disayangkan jika kunjungan penulis ke Mojoagung tidak sekaligus dilanjutkan ke Trowulan padahal kedua lokasi berjarak hanya 10 menit dengan naik kendaraan sepeda motor. Jalan-jalan sore ini ke Trowulan sekaligus untuk mengobati kekecewaan penulis setelah penundaan pembukaan kembali Agro Wisata Bale Tani pada 30 Mei 2020 lalu. Entah sampai kapan tempat wisata Bale Tani kembali dibuka untuk umum.

Penulis ingin mengetahui bagaimana kondisi terkini obyek wisata di Mojokerto setelah pemberlakuan kebijakan new normal pada masa pandemi corona seperti saat ini. Penulis berharap tempat-tempat wisata di sekitar Trowulan dan sekitarnya bisa dibuka dan dikunjungi oleh masyarakat. Berikut ini ulasan singkat perjalanan penulis hari ini di kawasan wisata Trowulan Mojokerto.

Wisata Religi Makam Troloyo

Tujuan pertama travelling di era new normal adalah wisata religi Makam Troloyo. Kondisi Makam Troloyo sangat sepi akibat penutupan lokasi tersebut sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Penulis mengamati pintu gerbang menuju Makam Syekh Jumadil Kubro di Troloyo ditutup untuk kunjungan umum. Suasana di Troloyo sore hari ini cukup lengang. Hanya ada beberapa orang penjual makanan pentol yang menjajakan makanan tradisional itu kepada orang yang lewat. Karena tidak ada hal menarik yang bisa penulis kunjungi, akhirnya penulis melanjutkan perjalanan ke tujuan traveling yang kedua yaitu obyek wisata Pendopo Agung Trowulan.

Pendopo Agung Trowulan

Sedikit berbeda dengan kawasan wisata religi Makam Troloyo yang terbilang sepi dan tidak ada kunjungan sama sekali, tempat wisata Pendopo Agung Trowulan sore hari ini justru cukup ramai kunjungan. Puluhan kios makanan tradisional telah buka. Puluhan pengunjung juga terlihat memadati warung-warung makanan tersebut. Mereka semua memakai masker dan menjaga jarak di antara satu sama lainnya sesama wisatawan. Penulis tidak tertarik untuk mampir ke sana karena suasana cukup mendung dan lingkungan sekitar Pendopo Agung Trowulan cukup rimbun sehingga terkesan kurang bersahabat bagi kenyamanan berlibur. Selanjutnya penulis melajukan kendaraan sepeda motor ke arah Museum Trowulan. 

Cerita Hikayat Raja Arief Imam - Wedding ilustration by Hidayat Said
Cerita Hikayat Raja Arief Imam – Wedding ilustration by Hidayat Said

Pusat Informasi Majapahit

Obyek wisata Museum Trowulan dikenal sebagai Pusat Informasi Majapahit (PIM). Inilah salah satu tempat wisata favorit penulis yang ada di sekitar Trowulan Mojokerto. Penulis berharap bisa masuk ke dalam Museum Trowulan sore hari tadi. Sayangnya, pagar museum tertutup setengah dan menunjukkan tulisan belum dibuka untuk umum. Agak kecewa juga rasanya karena gagal masuk ke Museum Trowulan. Penulis hanya bisa menyaksikan hamparan air di Kolam Segaran yang sore hari ini terasa sejuk dalam pandangan mata. Karena cuaca mendung dan berhawa syahdu, penulis tak ingin membuang waktu. Penulis bergerak melajukan kendaraan sepeda motor ke arah Candi Gapura Bajang Ratu

Gapura Bajang Ratu

Obyek wisata Candi Gapura Bajang Ratu ditutup untuk kunjungan umum sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Hal itu penulis dapatkan setelah bertanya kepada penjual bahan bakar minyak (BBM) yang berada tepat berada di seberang jalan pintu masuk ke obyek wisata Candi Gapura Bajang Ratu. Bagaimanapun juga Pemerintah Daerah Kabupaten Mojokerto memiliki wewenang penuh untuk mengelola tempat wisata di Mojokerto. Penutupan area wisata Candi Gapura Bajang Ratu entah sampai kapan dilakukan. Mungkin sampai wabah virus corona ini berakhir. Hari semakin sore. Penulis pun melanjutkan perjalanan traveling perdana di era new normal ke obyek wisata Candi Tikus. 

Wisata Candi Tikus

Obyek wisata Candi Tikus terletak tidak jauh dari Candi Gapura Bajang Ratu. Kedua Kompleks Candi di Trowulan ini bisa dijangkau dengan kendaraan sepeda motor dalam waktu 5 menit saja. Sama seperti halnya obyek wisata Candi Gapura Bajang Ratu, kawasan wisata Candi Tikus pun masih ditutup untuk kunjungan umum. Anehnya, saat penulis hadir di sana sore hari tadi terdapat sepasang suami istri yang bermain di taman area dalam Candi Tikus. Entah mereka memasuki kawasan candi dari pintu gerbang sebelah mana, penulis hanya bisa melihatnya dari jarak jauh karena pagar Kompleks Candi Tikus cukup rendah. Karena tak ingin sia-sia untuk traveling dadakan kali ini, penulis pun memutuskan untuk kembali ke area wisata religi Makam Troloyo.

Menikmati sore hari di kawasan wisata Makam Troloyo cukup tenang dan sepi. Suasana seperti ini sangat jarang didapati mengingat kondisi Makam Troloyo biasanya selalu ramai oleh kunjungan peziarah. Penulis pun bercakap-cakap dengan seorang penjual pentol. Wanita itu menceritakan betapa sepinya perkembangan wisata Makam Troloyo selama tiga bulan terakhir ini. Walaupun tidak ada masyarakat sekitar Troloyo yang teridentifikasi positif mengidap virus Corona, namun Pemerintah Daerah Kabupaten Mojokerto tetap bersikukuh untuk menutup kawasan wisata Makam Troloyo.

Melalui penuturan ibu tersebut, penulis mendapatkan informasi bahwa penutupan area wisata berlangsung sampai dengan batas waktu yang tidak ditentukan. Meskipun traveling kali ini tidak terlalu sukses, namun penulis merasa cukup terhibur bisa melihat kondisi luar selama jalan-jalan tadi sore. Penulis tetap menggunakan masker penutup mulut dan melakukan social-distancing dengan orang-orang yang penulis temui selama traveling. Mudah-mudahan pandemi ini segera berakhir dan kita bisa merasakan travelling yang sebenarnya.

Bagaimana dengan pengalaman Anda jalan-jalan dan traveling bersama keluarga di era new normal seperti saat ini? Apakah pemerintah daerah di kota Anda juga masih membatasi akses obyek wisata untuk kunjungan masyarakat umum? Silakan berbagi cerita di kolom komentar.

Bagikan tulisan ini:

4 Replies to “Syahdu! Traveling Perdana ke Tempat Wisata Mojokerta di Era New Normal”

  1. Jangan keburu traveling mas. Aku juga bosan banget di rumah. Tapi kalo liburan beresiko banget karena virus itu nggak kelihatan mata telanjang. Kalau mau dapat ide nulis blog masih banyak kok hal yg menarik utk diulas. Lihat aja youtube trending, disana banyak video menarik utk direview jadi tulisan.

  2. Baguslah kalau masih ditutup. Setidaknya bisa mencegah para ABG keluyuran karena mereka nggak wajib datang ke sekolah.

  3. Memaksakan diri untuk liburan di tengah pandemi yang belum mereda merupakan tindakan yang konyol. Sebaiknya anda tidak meneruskan jalan-jalan ke tempat-tempat wisata dalam waktu dekat ini. Pihak pemerintah dan pengelola tempat wisata pasti punya alasan tersendiri mengapa mereka menutup objek wisatanya. Anda cukup liburan dirumah saja. Banyak kegiatan yang bisa anda lakukan di rumah, misalkan masak bersama keluarga, berkebun menanam bunga, maupun berolahraga di sekitar pekarangan rumah. Nikmati saja kegiatan di rumah selama anda masih bisa makan, minum, tidur dengan nyenyak, dan tidak kekurangan suatu apapun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *