Wisata Unik Tradisi Upacara Grebegan di Kota Demak

Sholawat Seribu Rebana dan Musik Patrol di Hari Lahir UNHASY Tebuireng ke-49
Sholawat Seribu Rebana dan Musik Patrol di Hari Lahir UNHASY Tebuireng ke-49

Apa kabar sobat blogger penyuka hobi traveling? The Jombang Taste kembali mengajak Anda mengenal keunikan budaya Nusantara yang tampak pada perayaan upacara tradisional Grebeg Demak. Demak adalah kota yang mempunyai nilai sejarah karena adanya bukti peninggalan kebudayaan bangsa pada kehidupan masa lampau.

Kota Demak memiliki tradisi menjamas atau mencuci pusaka-pusaka dan ageman atau pakaian Sunan Kalijaga yang disimpan baik-baik di cungkup Makam Kadilangu. Tradisi tersebut menjadi salah satu daya tarik wisata Demak bagi para wisatawan, baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Setiap tahun Kota Demak dibanjiri oleh ribuan wisatawan yang ingin mengetahui lebih dekat tradisi menjamas pusaka Sunan Kalijaga.

Tradisi menjamas pusaka sebetulnya sudah sejak lama berlangsung di kalangan masyarakat Demak. Namun sejak kapan persisnya dan tahun berapa dimulainya banyak orang tidak tahu. Setahun sekali ditepatnya tiap tanggal 10 bulan Besar (bulan Jawa) atau bulan Dzulhijjah (menurut kalender Hijriyah), Demak mengadakan upacara Grebegan. Upacara Grebegan Demak sebagai intinya ialah Pengarakan Minyak Jamas oleh Tamtomo Patang Puluhan Bintoro menuju ke Makam Kadilangu.

Maka tidaklah mengherankan apabila pada waktu yang sama Demak digrebeg oleh penziarah dan wisatawan yang mempunyai beberapa tujuan. Tujuan terpenting sebagian besar wisatawan adalah untuk ngalap berkah melalui mengusahakan bisa bersalaman dengan para penjamas pusaka. Mitos yang berkembang di masyarakat Demak adalah barangsiapa bisa bersalaman dengan tangan penjamas pusaka, maka keberkahan hidup akan didapatnya setahun ke depan.

Daya Tarik Wisata Budaya Jawa

Gagasan melakukan tradisi jamasan dengan penggambaran ritual mencuci pusaka yang mendekati kenyataan demikian itu timbul dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Daerah Kabupaten Dati II Demak yang betul-betul mengerti serta sudah beberapa kali melaksanakan. Selain untuk melestarikan budaya Jawa, tradisi Grebeg Demak juga menjadi upaya mendongkrak potensi wisata budaya di Demak.

Upacara Grebeg Demak tidak bisa dilepaskan dari para penjamas yang memiliki tugas suci mencuci pusaka Sunan Kalijaga. Petugas penjamas memakai seragam destar biru, baju bolero hijau lipat kuning, celana batas lutut yang sewarna dengan baju, bengkung remong dan kain kawung, dan ikat pinggang lebar. Penampilan khas Jawa ini tidak akan Anda jumpai di Demak sepanjang tahun.

Selain itu, penjamas memakai keris di pinggang, tangan kanan menggenggam tombak dan tangan kiri menyandang perisai hard-board bergambar kepala naga, prajurit-prajurit ini berdiri tegak di depan dalem (kantor) Kabupaten. Itulah Tamtomo Patang Puluhan Keraton Bintoro yang berjumlah 36 orang dan 4 orang Bintoro dengan seragam biru, selempang kuning berumbai. Mereka tampak gagah bersiap melakukan penjamasan.

Para Tamtomo Patang Puluhan siap menjalankan tugas mengawal minyak jamas. Di belakang mereka para niyaga memakai seragam jingga, akan mengiringi langkah-langkah para Tamtomo dengan gamelan, agar mereka bersemangat dan tak lekas capai. Arak-arakan ini mampu mengubah Kota Demak sebagai salah satu tempat wisata sejarah di Jawa Tengah sekaligus obyek wisata bersejarah di Pulau Jawa.

Dimulai dari Masjid Agung Demak

Dari Kantor Kabupaten, minyak jamasan dibawa ke Mesjid Agung diiringi oleh Kanjeng Bupati. Santri-santri Mesjid Agung yang berpakaian putih-putih ada yang memikul Tumpeng Sanga dan mengaraknya dari Dalem Kabupaten ke Masjid Agung kebanggaan masyarakat Demak tersebut. Kemudian selamatan diadakan di Masjid Demak yang terkenal sebagai salah satu tempat wisata bersejarah di Jawa Tengah.

Tepat pada waktunya, Lurah Tamtomo segera menempatkan diri menghadap Kanjeng Bupati dan siap untuk menerima perintah. Ndoro Kanjeng kemudian menerima Bokor kuning yang berisi minyak jamas berparfum cendana dari gadis-gadis berpakaian tradisionaI yang dengan segera menyerahkannya kepada sang Lurah Tamtomo.

“Jaga baik-baik minyak jamas ini hingga selamat sampai tujuan cungkup Kadilangu untuk dipergunakan sebagai penjamas ageman,” demikian pesan Kanjeng Bupati kepada Ki Lurah Tamtomo.

Ki Lurah Tamtomo menerima bokor kuning dari Kanjeng Bupati dan berkata, “Perintah Kanjeng Bupati hamba kerjakan. Hamba mohon doa restu, hamba serta para Tamtomo Patang Puluhan Keraton Bintoro akan segera berangkat.”

“Ya, saya beri doa restu.” Bupati menjawab.

Kemudian berkatalah Sang Lurah Tamtomo kepada anak buahnya bahwa perintah telah diterimanya agar menjadikan perhatian bahwa Kanjeng Bupati berpesan agar menjaga baik-baik minyak jamas ini, serta bertanggung jawab sampai kepada tempat tujuan akhirnya. Maka, dengan bokor kuning yang berisi minyak jamas di tangan Ki Lurah Tamtomo telah siap berangkat untuk menunaikan tugasnya dikawal ketat oleh para Prajurit Patang Puluhan.

Meriah Selamatan Tumpeng Sanga

Malam hari sebelum upacara pengarakan minyak jamas dilaksanakan, maka di Dalem Kabupaten dan Masjid Agung Demak didahului adanya upacara selamatan berupa ambengan atau tumpeng. Banyaknya tumpeng berjumlah sembilan. Hal ini untuk menggambarkan banyaknya wali, ada sembilan orang yang sudah terkenal dengan sebutan Wali Sanga itu. Wali Sanga adalah sembilan orang penyebar agama Islam di Pulau Jawa, yaitu Sunan Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan Muria, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, dan Sunan Gunung Jati.

Pada malam itu Tumpeng Sanga (sembilan) diarak dari dalem. Lalu beriring-iringanlah barisan ini dengan diiringi gending yang mengobarkan semangat para pengawal. Bokor kuning yang berisi minyak jamas siap berangkat dikawal oleh para Prajurit Patang Puluhan.

Dan penonton yang berjubel memadati halaman luar Dalem Kabupaten, meluap sampai alun-alun di depan Masjid Agung dan berdesakan sepanjang jalan antara Dalem Kabupaten dan Kadilangu yang berjarak tidak kurang dari 4 km itu. Memang sudah sejak malam hari sebagian dari mereka itu sudah berjejal-jejal untuk menyaksikan upacara mengarak Tumpeng Sanga dari Kabupaten ke Mesjid Agung. Itupun semalam suntuk mereka tidak tidur.

Selain untuk melihat-lihat keramaian juga bermaksud agar mendapatkan keselamatan, banyak rezeki, menjadi anak yang pandai dan sebagainya. Mungkin suasana inilah yang terjadi pada jaman Keraton Bintoro dahulu. Suatu naluri kebudayaan yang berlangsung sampai turun-temurun hingga dewasa ini.

Konon ketika gambaran ini akan dihidupkan lagi, maka diadakan latihan-latihan bagi para peraga, digembleng menjadi prajurit, menjadi Bintoro, menjadi lurah sampai kepada para niyaganya. Proses latihan itu memakan waktu empat bulan lamanya. Maka sekedar untuk mengingat-ingat apa yang harus diucapkan dan dilakukan menjelang grebegan. Para petugas harus cekatan dan terampil mengerjakan dan mengucapkan seperti slogan: Tamtomo siaga! Tamtomo merdeka!

Proses Menjamas Pusaka Sunan

Prosesi mengarak minyak jamas ke Kadilangu sangat meriah. Perjalanan sepanjang jarak 4 km cukup jauh. Maka dapat kita bayangkan betapa besar sambutan masyarakat di kanan kiri jalan sepanjang 4 km itu. Inilah salah satu daya tarik wisata sejarah sejarah di Kota Demak. Sementara barisan arak-arakan telah mendekati tempat tujuan, dan akhirnya sampailah ke tempat yang dituju, makam Kadilangu, tempat bersemayam Sunan Kalijaga. Barisan telah sampai, maka disampaikanlah minyak jamas kepada kerabat Kadilangu.

Kanjeng Bupati beserta tamu-tamu undangan baik dari Pusat, dari propinsi dan undangan serta keluarga Kadilangu masuk dan duduk bersimpuh di depan cungkup Sunan Kalijaga yang berdiri tegak, dan kokoh terbuat dari besi beton, berpintu kayu ukiran bagus. Sementara itu pintu belum juga dibuka. Maka seorang juru kunci mulai menerangkan apa makna dari penjamasan itu adalah untuk menghormati jasa Sunan Kalijaga dalam menyebarkan agama di Pulau Jawa, khususnya di Kota Demak.

Kemudian muncullah minyak jamas, dan sebentar kemudian diikuti oleh seorang kerabat yang menerima minyak jamas tadi dan juga duduk bersimpuh di bawah tangga menuju cungkup. Kemudian pembacaan doa tahlil dimulai, dan dipimpin oleh seorang imam dari Masjid Kadilangu. Kadilangu merupakan kompleks pemakaman keluarga dan santri Sunan Kalijaga yang banyak dikunjungi para peziarah sebagai tempat wisata religi di Jawa Tengah.

Setelah pembacaan tahlil selesai, maka dengan menyembah hikmat, juru kunci segera membuka pintu cungkup dengan sebuah anak kunci. Maka terbukalah sudah pintu cungkup Sunan Kalijaga. Dan dimulailah upacara penjamasan, dengan mendahulukan Kanjeng Bupati, tamu dari Jakarta dan sampai kerabat Kadilangu.

Ageman yang terkenal Kutang Antakusuma itu dijamas (dicuci dan dibersihkan) dengan cara mencelup-celupkan tangan di bokor minyak cendana, kemudian mengusapkannya pada ageman yang masih tetap tinggal di dalam petinya, sambil memalingkan wajah agar tidak melihat. Kegiatan menjamas pusaka hanya itu saja. Tidak semua pengunjung bisa bebas masuk ke dalam cungkup karena dibatasi dengan ketat.

Melestarikan Tradisi Grebeg Demak

Menunggu upacara penjamasan memang cukup lama. Para pengunjung lainnya tetap berjejal menunggu di luar. Dapat kita bayangkan, sementara Kanjeng Bupati serta rombongan keluar, mereka yang telah lama menanti itu mendadak berdesak-desakan menyerbu menjabat tangan bekas penjamas tadi. Seakan-akan mereka tidak mempedulikan apa dan bagaimana akan terjadi, asal saja dapat berjabatan, karena mereka percaya sekali, bahwa apabila berhasil bersalaman dengan tangan bekas penjamas, maka berkah dan keberuntungan akan turun kepadanya.

Demikianlah upacara puncak dari Grebegan Demak selesai dilaksanakan dan dihadiri ribuan wisatawan. Meskipun demikian bagi orang yang sudah menyaksikan keramaian kompleks Masjid Demak masih juga mengunjunginya. Selain melihat suasana alun-alun di kompleks masjid, masih diperlukan juga untuk menziarahi makam Raden Patah, raja pertama dari Kerajaan Demak Bintoro. Makam Raden Patah terletak di belakang Masjid Agung Demak bersama makam-makam keluarga Kerajaan Demak Bintoro lainnya.

Beberapa tahun lalu saya pernah berkunjung ke kompleks makam di belakang Masjid Agung Demak. Salah satu keunikan kompleks makam itu adalah terdapat salah satu makam yang memiliki ukuran panjang di atas makam-makam pada umumnya. Menurut pengamatan saya, panjang makam itu lebih dari tiga meter. Bisa dibayangkan betapa tinggi postur tubuh orang yang dimakamkan di dalamnya.

Selain itu, obyek wisata sejarah di Demak didukung juga oleh pameran kebudayaan di Museum Kota Demak, peninggalan peninggalan kuno masjid dan keraton Demak Bintoro. Mulai dari kentongan yang sudah berusia 500 tahun sampai Lawang Bledeg karya Ki Ageng Selo yang asli, tatal dari salah satu saka (tiang) Mesjid Agung yang terkenal dan menghebohkan dunia arsitektur itu. Ragam keunikan benda-benda bersejarah di Kota Demak tersebut menjadi bukti proses penyebaran agama Islam di Bumi Wali.

Itulah ulasan The Jombang Taste mengenai obyek wisata budaya prosesi penjamasan pusaka Sunan Kalijaga di Kota Demak. Mari kita lestarikan warisan kekayaan budaya Nusantara dan jangan lupa menyebarkan sebanyak mungkin cerita indah negeri kita kepada orang lain. Selamat jalan-jalan!

Daftar Pustaka:

Sunaryo, BA. 1984. Mengenal Kebudayaan Daerah. Tiga Serangkai: Solo

12 Replies to “Wisata Unik Tradisi Upacara Grebegan di Kota Demak”

  1. demak katanya singkatan dari adem dan berlemak. namun bagi saya demak adalah kota yang bikin adem dan punya banyak anak. hehehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *