Menulis Juga Butuh Evaluasi
Apa kabar rekan-rekan semua? Artikel berikut ini adalah re-post tulisan saya di jaman blogspot. Tentu ada penyesuaian berdasarkan waktu dan topik pembahasan.
Saya mengawali posting kali ini dengan pertanyaan sederhana: apakah blog yang anda kelola sudah mempunyai berkembang lebih baik? Baik dari kualitas content, jumlah pengunjung, jumlah komentator tetap maupun peringkat blog di beberapa sitemeter.
Jika jawabnya sudah, saya ucapkan selamat! Berarti rekan-rekan sudah berada satu langkah di depan. Jika belum, saya juga mengucapkan selamat! Read more
Lain Ladang, Lain Belalang
Apa kabar sobat blogging se-Indonesia Raya?
Rasanya sudah lama tidak menulis di dashboard blog ini. Tiga hari terakhir, update artikel blog diisi oleh kawan-kawan peserta Kontes Menulis. Sementara itu, karena saya terbiasa menjelajah blog tetanggga, jadinya saya mengungsi sebentar ke blog mas Arief.
Ngomong-ngomong tentang penulis tamu, ada kesan yang berbeda setiap kali saya menulis di dashboard blog tetangga. Kadang kala saya cukup tertekan oleh image superblog yang disandang blog tuan rumah. Tapi tak jarang saya bisa berpikir nothing to lose, santai dan easy writing. Read more
Menulis Hingga Ke ujung Dunia

Oleh: Hanif Ilham
Menulis. Aktifitas wajib setiap manusia untuk mengenal dunia ini. Dari membaca, mengamati bentuknya, kemudian menuliskannya. Ada yang menarik, ada yang ingin ditunjukkan, mengekspresikan diri, dari sebuah tulisan, yang mungkin akan bangga jika dibacanya sendiri, walau belum tentu begitu bagi orang lain. Aku, belajar menulis.
Pertama, ku bermimpi. Sejak kecil, kapankah ku bisa menulis seperti mereka. Para penyair dari bumi pertiwi. Mereka menulis. Yah, sebuah sajak, puisi, pantun, aku pun mengikutinya. Read more
Budaya Menulis, Riwayatmu Kini

Oleh: Budhi K. Wardhana
Medio Mei 1998. Tak berapa lama sesudah rekan-rekan Mahasiswa Trisakti ditembaki oleh para sniper hingga jatuh korban jiwa, Jakarta dilanda kerusuhan besar-besaran. Suasana sungguh mencekam. Penjarahan, pembakaran, dan konon pemerkosaan etnis merajalela di penjuru ibukota. Sementara itu sang penguasa orde baru sedang tak berada di singgasana. Sang Jenderal Besar yang penuh senyum itu belumlah tiba dari KTT G-15 di Mesir.
Negeri ini berjalan sempoyongan seolah tanpa pemimpin. Demonstrasi mahasiswa hampir mencapai titik kulminasi. Mereka menggugat para pejabat yang kian kehilangan muka. Di mana-mana suara reformasi dan desakan penggantian pemimpin nasional berkumandang. Eforia kebebasan meruap di sudut pelosok negeri. Iklim represif militeristik tak lagi punya taji. Read more




