2 Faktor Penyebab Orang Dewasa Gagal Memahami Bahasa Sosial Anak

Inspirasi Buka Puasa Bersama Anak Yatim Sengon Jombang Tahun 2017
Inspirasi Buka Puasa Bersama Anak Yatim Sengon Jombang Tahun 2017

Mendidik anak usia dini membutuhkan pemahaman khusus terhadap pola pikir dan pola tumbuh mereka. Abdullah Munir (2012) menyatakan bahwa pada dasarnya kebanyakan konflik yang terjadi dan dialami oleh anak ketika berhubungan dengan orang lain adalah karena problem internal yang sedang dirasakannya.

Anak yang sedang stress dan kurang bahagia akan mudah berperilaku agresif dalam pergaulan. Anak-anak yang mengalami masalah ketidakbahagiaan dalam hidupnya akan lebih mudah terdorong melakukan gangguan terhadap teman-temannya. Bentuknya antara lain membuat teman-temannya itu menangis atau merengek. Perilaku mengganggu teman seperti merebut mainan, mendorong, menguasai tempat bermain, serta memukul teman merupakan wujud ekspresi diri terhadap perilaku agresifnya.

Anak-anak dan orang dewasa sama-sama berpotensi untuk terjebak dalam problem seperti ini. Setiap orang memiliki kesulitan untuk membahasakan secara baik permasalahan yang dihadapinya.  Batin yang gelisah dan terkekang serta merasa tidak bahagia dan tidak puas dengan orang terdekat sangat sulit dibahasakan dengan tepat, baik melalui bahasa verbal maupun bahasa tubuh. Hal yang paling sering dilakukan oleh kebanyakan orang adalah melakukan ekspresi membanting pintu, menendang perabot, atau melempar gelas dengan kesal.

Ungkapan lain yang biasanya muncul berupa kata-kata. Beberapa ucapan yang keluar dari mulut sulit dipahami oleh orang lain. Mereka yang mendengar ucapan itu kesulitan memahami karena adanya dua hal hal. Pertama adalah ucapan atau lebih sering disebut umpatan tidak tersusun secara rapi sehingga menjadi sulit dipahami. Penyebab kedua adalah bahasa sumpah serapah itu memancing emosi orang yang mendengarnya sehingga mereka yang seharusnya bisa memahami malah menjadi salah paham.

Keceriaan Buka Puasa Bersama Anak Yatim di Sanggar Genius Yatim Mandiri Jombang di Parimono tahun 2017
Keceriaan Motif Baju Batik pada Acara Buka Puasa Bersama Anak Yatim di Sanggar Genius Yatim Mandiri Jombang di Parimono tahun 2017

Fakta di lapangan sungguh tidak sangat mendukung terjadinya komunikasi intensif antara orang tua dan anak-anak. Bahkan orang dewasa yang sudah memiliki pengalaman hidup puluhan tahun kali lipat saja masih sering mengalami permasalahan dalam menyampaikan bahasa sosial, apalagi bayi atau anak-anak. Mereka tentu lebih kerepotan lagi. Sama dengan problem pada orang dewasa, tangisan pada bayi pun banyak mengandung ketidakmengertian karena dua hal, yaitu bahasa yang belum jelas dan tangisan keras yang memancing emosi orang-orang di sekitarnya.

Lalu apa yang perlu kita lakukan agar tidak terjadi kesalahpahaman komunikasi dengan anak-anak? Agar kita terhindar dari kesalahpahaman dalam memahami bahasa sosial anak maka kita perlu melakukan berbagai cara alternatif untuk mendiamkan bayi atau anak-anak yang menangis. Anda bisa mendongeng atau bercerita untuk mengalihkan perhatian anak.

Salah satu cara yang bisa kita coba adalah kita memahami apa sesungguhnya yang diinginkan oleh bayi kemudian kita juga harus menahan diri sekuat tenaga agar tidak terpancing untuk menanggapi agresivitas anak secara emosional. Langkah ini mungkin tidak mudah karena secara normal orang dewasa pun akan menanggapi perilaku agresif secara emosional.

Orang tua yang terlanjur marah melihat anaknya menyerang pihak lain akan cenderung untuk menekan atau menghukum anaknya itu tanpa mau tahu apa sebenarnya masalah yang sedang dihadapi oleh anak. Jika sudah terjadi begini maka bullying akan menjadi keniscayaan. Perilaku bullying adalah sesuatu yang amat berbahaya bagi masa depan anak.

Mencoba memahami bahasa sosial anak secara tepat membutuhkan latihan-latihan dari kedua pihak secara intens. Medianya adalah percobaan demi percobaan yang diajukan tanpa emosi oleh orang tua kepada bayi yang sedang bermasalah. Dengan banyak mencoba inilah rasa saling memahami akan muncul. Jika sudah demikian, orangtua akan selalu menjadi pihak pertama dalam mengatasi problem sosial anak karena merekalah yang paling mengerti untuk memahami bahasa sosial anak secara tepat.

Semoga tulisan ini bisa memberi inspirasi kepada Anda dalam mendidik anak-anak di rumah dan di sekolah.

Bagikan tulisan ini:

3 Replies to “2 Faktor Penyebab Orang Dewasa Gagal Memahami Bahasa Sosial Anak”

  1. Memang benar kenyataannya demikian. Kebanyakan orang tua tidak memahami bahasa dan perilaku anak karena mungkin mereka terbiasa sibuk dengan berbagai aktivitas kerja.

  2. Jadi ortu itu gak mudah. Selalu ada ilmu baru yg hrs dipelajari untuk mendidik anak yang sholeh dan sholehah. Oleh karena itu setiap orang tua harus mau meng-upgrade kemampuan dirinya dalam belajar serta meningkatkan kesabaran diri dalam mendidik anak-anaknya.

  3. Orang tua yang sibuk bekerja biasanya memiliki sedikit waktu untuk menemani anak anaknya belajar. Kesempatan ini direbut oleh keberadaan teknologi internet dan kecanggihan smartphone. Alhasil, anak-anak lebih dekat dengan smartphone mereka daripada orang tua mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *