Day 2 Pondok Ramadhan: Kreatifitas Membuat Kaligrafi dan Belajar Presentasi Hasil Karya Siswa

SDN Latsari melaksanakan kegiatan Pondok Ramadhan hari kedua pada Selasa, 28 Mei 2019. Acara Pondok Ramadhan hari kedua dimulai pukul 07.30 WIB. Semua peserta berkumpul di ruang kelas 2 untuk mengikuti pembacaan shalawat nabi. Sebanyak 81 orang siswa mengikuti pembacaan shalawat nabi dengan hikmat. Beberapa orang di antara mereka ikut menyumbangkan suara dalam lagu-lagu rohani populer.

Penulis pun tampil di atas panggung bersama tiga orang siswa untuk membacakan sholawat Diba’. Pembacaan sholawat Diba’ berlangsung menarik karena para siswa bersemangat untuk mengikuti lagu-lagu sholawat yang penulis nyanyikan bersama tiga orang siswa lainnya.

“Saya suka sholawat. Lagu sholawat yang saya suka adalah Roqqota Aina,” demikian disampaikan oleh Muhammad Alva, salah satu siswa kelas 4 yang pagi ini memberanikan diri tampil di depan panggung acara untuk menyanyikan lagu-lagu sholawat.

Pembacaan shalawat berakhir pada pukul 08.30 WIB. Semua peserta kegiatan diberikan waktu untuk beristirahat selama setengah jam. Anak-anak memanfaatkan waktu istirahat itu untuk bermain di luar ruangan bersama teman-teman mereka. Tidak tampak rasa lelah walaupun mereka semua sedang menjalankan ibadah puasa. Memang demikian sifat anak-anak yang selalu bersemangat ketika mereka menyukai sebuah kesenangan.

Semua peserta Pondok Romadhon lantas berkumpul kembali di dalam ruangan pada pukul 09.00 WIB. Mereka bersiap untuk membuat kreativitas seni kaligrafi secara berkelompok. Setiap kelompok terdiri dari 5 sampai 7 orang siswa. Setiap kelompok diberikan tugas menggambar kaligrafi nama-nama Allah yang indah sebagaimana tertulis dalam Asmaul Husna.

“Saya tidak bisa menggambar kaligrafi, Pak!” demikian disampaikan oleh Muhammad Syifa Hasbulloh, murid kelas 1 SDN Latsari. Untungnya dia bergabung dengan beberapa orang kakak kelas dalam satu kelompok sehingga tugas membuat kaligrafi bisa dikerjakan bersama-sama.

Setiap kelompok siswa memiliki keunikan tersendiri dalam menyusun kaligrafi. Sebagian besar di antara mereka terpaku pada contoh kaligrafi yang telah penulis sediakan. Namun tak sedikit di antara mereka yang berkreasi sendiri tanpa melihat contoh kaligrafi yang sudah jadi.

Jangan ditanyakan tentang hasil kaligrafi para siswa. Tidak semua kelompok siswa mampu membuat kaligrafi yang baik dan terlihat indah. Beberapa kelompok justru membuat kaligrafi dengan sentuhan grafiti yang jauh dari unsur Islami. Itulah bentuk ekspresi anak-anak zaman sekarang yang telah dipengaruhi oleh budaya modern.

“Aku lebih suka membuat graffiti daripada kaligrafi,” demikian disampaikan oleh Muhammad Fachri, siswa kelas 4 SDN Latsari.

Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa seni kaligrafi saat ini kurang diminati oleh anak-anak. Kaligrafi terlihat rumit dan tidak mudah diselesaikan. Hanya anak-anak tertentu yang memiliki bakat seni yang mampu menyelesaikan tugas membuat kaligrafi ini sampai selesai.

Setiap kelompok berhasil menyelesaikan pembuatan seni kaligrafi menjelang pukul 10.00 WIB. Penulis mewajibkan setiap kelompok untuk melakukan presentasi hasil karya mereka di depan panggung acara. Tidak semua kelompok mampu mempresentasikan hasil karya mereka dengan benar. Sebagian besar siswa malu untuk berbicara di depan depan publik. Hanya beberapa kelompok saja yang berhasil mempresentasikan hasil karya mereka lengkap dengan nama kelompok dan penjelasan detail hasil karya kaligrafi yang telah mereka buat.

Salah satu siswa yang berhasil mempresentasikan hasil karya kelompoknya adalah Putra Satria Hidayatullah. Siswa kelas 3 SDN Latsari itu tampil dengan percaya diri di hadapan teman-temannya. Keterbatasan kosakata yang dikuasainya tidak menghalanginya untuk terus berbicara di depan umum.

“Hai teman-teman semuanya. Ini adalah gambar kaligrafi buatan kelompok saya. Kelompok saya terdiri saya, Jonathan, Evan, Radit, Khafid dan Ergi. Kaligrafi ini tulisannya dibaca Allah,” demikian disampaikan oleh siswa yang akrab dipanggil Satria itu.

Gambar Kaligrafi Santri TPQ Al-Mujahiddin
Gambar Kaligrafi Santri TPQ Al-Mujahiddin

Aktivitas membuat kaligrafi secara berkelompok ini bertujuan untuk meningkatkan kerjasama di antara murid-murid. Siswa kelas 1 mampu berteman dengan baik dengan kakak kelas mereka. Demikian juga dengan murid-murid kelas 5 mampu mengayomi adik-adik kelas mereka. Inilah latihan kerukunan hidup yang dikembangkan dalam kegiatan Pondok Ramadhan hari ke dua.

Tujuan berikutnya dari kegiatan membuat kaligrafi ini adalah mengajarkan siswa untuk berani berbicara di depan umum. Tidak semua siswa mampu mengekspresikan pikiran mereka dalam bentuk ucapan di hadapan orang banyak. Sebagian besar siswa justru malu untuk menyampaikan pendapat dan ide mereka terkait suatu hal. Melalui kegiatan membuat kaligrafi ini setiap kelompok diwajibkan menunjuk salah satu siswa untuk mempresentasikan hasil karya mereka.

Semoga setiap siswa peserta kegiatan Pondok Ramadhan hari kedua ini bisa mengambil hikmah dari kegiatan ini. Sampai jumpa di pelaksanaan Pondok Ramadhan hari ketiga esok hari.

4 Replies to “Day 2 Pondok Ramadhan: Kreatifitas Membuat Kaligrafi dan Belajar Presentasi Hasil Karya Siswa”

  1. Kelemahan murid-murid Sekolah Dasar di Indonesia adalah pandai berkarya tapi kurang mampu mempromosikan hasil karyanya di depan orang lain. Tips diatas sangat bagus ketika seorang guru mewajibkan murid muridnya untuk mempresentasikan hasil karyanya. semoga anak-anak Indonesia makin berani bersuara dan berkarya.

  2. Keren sekali pak…..
    Semoga anak-anak itu bisa tumbuh menjadi anak yang kreatif dan selalu bersemangat belajar di sekolah.

  3. Tetaplah bersemangat mengajar pak guru. Semoga murid-muridnya bisa menjadi anak yang sholeh atau sholehah dan berbakti kepada orang tua serta hormat kepada guru-guru mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *