Lomba Agustusan Sepi, Anak-anak Mencari Hiburan di Warung Kopi

Perayaan Kemerdekaan Indonesia Bersama Anak Yatim Jombang (9)
Perayaan Kemerdekaan Indonesia Bersama Anak Yatim Jombang – Photo by ARCHA

Setiap warga negara Indonesia hari ini (17/8/2018) memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Hiruk-pikuk upacara peringatan kemerdekaan RI digelar di berbagai pelosok negeri. Guru, murid dan pekerja di instansi Pemerintah mengikuti upacara dengan cara mereka masing-masing. Ada peserta upacara yang dapat mengikuti kegiatan dengan khidmat. Namun tak jarang ada pula peserta upacara yang asyik bercanda di barisan belakang. Pemandangan seperti ini hadir secara rutin tiap tahun. Saya pun mengalami peristiwa serupa pagi ini di Lapangan Kecamatan Mojowarno. Upacara kemerdekaan di baris belakang tidak seserius Pak Camat yang berdiri kokoh di podium kehormatan.

Peserta upacara membubarkan diri sebelum upacara dibubarkan, yaitu pada saat pengumuman penghargaan desa berprestasi di lingkungan Kecamatan Mojowarno. Para guru dan siswa tampaknya sudah kepanasan dan lelah setelah 90 menit berdiri di lapangan dengan terik matahari secara langsung. Mereka berhamburan ke tempat parkir dan mengendarai kendaraan menuju rumah masing-masing. Saya berpikir mereka terburu-buru pulang untuk melaksanakan lomba Agustusan di desa masing-masing. Tebakan saya tidak sepenuhnya benar. Memang ada sebagian dari mereka yang segera melaksanakan lomba Agustusan. Tapi banyak pula desa yang tidak mengadakan lomba Agustusan.

Saya mencoba cari kabar ragam lomba Agustusan di desa tetangga. Ternyata desa-desa itu sepi. Tidak ada perlombaan makan krupuk, balap karung, sunggi tempeh, maupun aneka permainan tradisional yang menyenangkan. Organisasi Karang Taruna yang seharusnya menjadi motor penggerak kegiatan pemuda Dusun Guwo malah tertidur pulas. Begitu pula dengan organisasi Remaja Masjid yang biasanya menjadi lapis kedua malah melempem akhir-akhir ini. Ada apa dengan organisasi pemuda di desa? Dimanakah gaung aksi mereka yang dulu pernah menjadi kebanggan setiap warga? Memang benar kata tetangga sebelah, organisasi remaja itu semangatnya kayak hangat-hangat tahi ayam. Mereka adalah makhluk ababil, ABG dengan emosi tidak stabil. Terlalu tinggi untuk mengharapkan organisasi remaja bisa berkiprah secara konsisten di desa.

Dampak sepinya kegiatan Agustusan ini bisa ditebak, yaitu anak-anak kehilangan kesempatan meramaikan hari kemerdekaan RI. Mereka tidak lagi bisa berlari, menendang bola dan berlomba dengan hati gembira. Akhirnya mereka cuma bisa nongkrong di warung kopi sambil menikmati koneksi internet wifi. Kegiatan ini terasa lebih menarik bagi mereka karena tanpa berpanas-panas pun para remaja itu bisa berlomba adu strategi lewat permainan Mobile Legend secara online. Hal ini didukung oleh kenyataan bahwa para orang tua sudah sangat permisif untuk memberikan kebebasan bagi anak-anaknya dalam memiliki smartphone. Ya sudah, tamat sudah riwayat lomba Agustusan tahun ini. Bagaimana dengan pelaksanaan acara lomba Agustusan di tempat tinggal Anda? Apakah warkop dan wifi berpengaruh terhadap tingkat partisipasi remaja dalam lomba Agustusan?

Bagikan artikel ini melalui:

19 Replies to “Lomba Agustusan Sepi, Anak-anak Mencari Hiburan di Warung Kopi”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *