Budaya Menulis, Riwayatmu Kini

Oleh: Budhi K. Wardhana

Medio Mei 1998. Tak berapa lama sesudah rekan-rekan Mahasiswa Trisakti ditembaki oleh para sniper hingga jatuh korban jiwa, Jakarta dilanda kerusuhan besar-besaran. Suasana sungguh mencekam. Penjarahan, pembakaran, dan konon pemerkosaan etnis merajalela di penjuru ibukota. Sementara itu sang penguasa orde baru sedang tak berada di singgasana. Sang Jenderal Besar yang penuh senyum itu belumlah tiba dari KTT G-15 di Mesir.

Negeri ini berjalan sempoyongan seolah tanpa pemimpin. Demonstrasi mahasiswa hampir mencapai titik kulminasi. Mereka menggugat para pejabat yang kian kehilangan muka. Di mana-mana suara reformasi dan desakan penggantian pemimpin nasional berkumandang. Euforia kebebasan meruap di sudut pelosok negeri. Iklim represif militeristik tak lagi punya taji.

Di tengah kerumunan demonstran, saya sempat mengabadikan beberapa aksi massa. Terekam dalam kepala dan kamera saya corat-coret spanduk, orasi para aktivis, dan teriakan membahana yang mengerucut menjadi satu tuntutan: TURUNKAN SOEHARTO!

Ketika itu, majalah tempat saya bekerja sudah siap naik cetak. Tentu dengan tulisan dan foto-foto eksklusif unjuk rasa yang saya ambil. Berbeda dengan artikel sebelumnya yang penuh sensor, tulisan kali ini benar-benar bebas. Saya tersenyum. Ini saatnya saya memberitakan kebenaran dan kejujuran.

Namun, nyaris tengah malam mendadak pemimpin redaksi menelepon tempat kos saya. Perintahnya singkat, “Tolong kamu revisi lagi artikel dan foto-foto itu!”

Waduh! “Kenapa, Pak?”

“Coba kamu simak berita hari ini. Soeharto sudah pulang dan mendadak dukungannya menguat kembali. Kita harus hati-hati!”

Saya menghela nafas sedih. Kegembiraan runtuh seketika. Benarkah kita hidup di negeri yang menjunjung tinggi demokrasi dan kebebasan berpendapat? Lantas, kenapa harus ada ketakutan seperti ini?

Rekan-rekan netter, ini sejumput cerita masa lalu ketika saya masih aktif menjadi wartawan magang di Bandung. Mimpi kami kaum jurnalis saat itu hanya satu, biarkanlah kami menulis sesuai fakta dengan nurani dan kejujuran.

Tentunya kondisi ini berbeda sekali dengan iklim demokrasi sekarang. Reformasi telah memberikan angin segar untuk sebuah kebebasan menulis, berpendapat, dan berpolitik. Munculnya teknologi blog, forum diskusi, dan jejaring sosial juga mendukung munculnya budaya menulis secara bebas dan sehat.

Jangan lupa, globalisasi telah memberikan stimulus positif bagi kebebasan berpendapat demi menciptakan ide-ide kreatif. Sementara perkembangan internet telah menciptakan ruang bagi semua orang untuk mencurahkan gagasannya menjadi tulisan berbobot.

Lihatlah, melalui blog orang tak lagi takut untuk mengemukakan ide, menuliskan segala yang muncul di kepala, atau mengomentari kenyataan yang lewat di depan mata. Di sini orang bebas mengeluh, berdebat, dan mengkritik. Sesuatu yang barangkali dianggap tabu di jaman orde baru.

Tengok saja seorang internet marketer top sekelas Joko Susilo yang harus berjibaku menjawab beragam kritik yang dilontarkan oleh publik dunia maya. Di samping itu debat terbuka di berbagai forum diskusi seperti Kaskus atau Detik Forum telah memberikan pembelajaran tentang demokrasi yang sehat.

Aksi para pendatang baru di kancah persilatan blog juga tak kalah ciamik. Tampak mereka cerdas memilih topik, cergas membangun komunitas, dan lincah mengolah opini publik. Mereka tak harus datang dari golongan pakar. Bisa jadi mereka adalah kaum marginal teknologi alias wong bodo yang berniat sekali mencari ‘sesuatu‘ yang berharga di ranah daring (online).

Meski demikian, tak dipungkiri bahwa budaya lisan memang masih begitu mendarah daging dalam kultur kita. Wajar jika sebagian masyarakat terlihat kikuk menulis blog. Bagi orang-orang seperti ini perlu dukungan penuh dan bimbingan dari komunitas narablog agar spirit menulis mereka tak kunjung surut. Padahal sebenarnya menulis itu tidaklah sulit. Kita bisa memulainya dengan hal sederhana seperti mengomentari status teman di Facebook.

Pembaca budiman, siapapun Anda dan apapun profesi Anda, — baik itu penulis, narablog, pelajar, pejabat, pramuwisma, pebisnis, profesional, politisi, tentara, polisi, buruh, ibu rumah tangga, guru, olahragawan, sopir, pekerja seks komersial, anggota dewan, anak jalanan, preman, pilot, dokter, pengacara, presiden, pengangguran, atau profesi lainnya — jadikan menulis atau ngeblog sebagai suatu kebiasaan.Β  Sebab dengan begitu kita membangun budaya belajar yang lambat laun bakal mencerdaskan bangsa ini.

Mumpung keran kebebasan telah terbuka lebar. Segeralah manfaatkan seefektif mungkin. Tentu dengan harapan pengalaman getir orde baru tidak terulang lagi.

Tabik!

86 Replies to “Budaya Menulis, Riwayatmu Kini”

      1. @UntungNyata!com | Budhi K. Wardhana,

        Saya melihat potensi unik mas Budhi yang tidak dimiliki kebanyakan blogger, yaitu kemampuan menyuguhkan sebuah fenomena menjadi lebih berisi dengan data yang valid dan terpercaya.

        Profesi jurnalis yang mas Budhi sandang sangat mungkin dikembangkan lagi dalam ranah blogging. Dan untuk yang satu ini, saya jadi kepikiran ngajak JV.

        :hotrit

        1. @Agus Siswoyo, Waduh kehormatan besar kalo saya diajakin JV. Saya dulu cuma jurnalis kelas kampung mas. Yang cuma mengisi waktu luang sehabis kuliah dengan memburu berita. Waktu itu motivasinya agar bisa ikut seminar atau acara2 secara gratisan. hehehe maklum anak kos… :malu

          Profesi ini sudah lama saya tinggalkan semenjak saya lulus kuliah dan akhirnya 'terperangkap' ke dunia IT Perbankan (yang memang merupakan major ilmu saya). Kalau Anda bertanya, barangkali saya akan sangat fasih menjelaskan tentang produk-produk banking, kelebihan dan kelemahan masing-masing produk, arsitektur sistem IT perbankan, atau cara kerja teknis transaksi produk banking (Internet Banking, IVR/Phone Banking, ATM, dll).

          1. @Budhi Kusuma Wardhana, aje gilee…

            Meski lama nggak jadi jurnalis, sentuhan magisnya masih saya rasakan nih. Di antara teman-teman lain, saya pikir blog mas Budhi paling unik.

            Dua jempol buat tulisan ini.

            :rate

  1. Kebebasan yang ada utk sekarang ini selayaknya tidak digunakan dgn seenaknya tanpa melihat kultur bangsa kita yg ketimuran.

    1. @Udin Hamd, bener mas… tetap ada rambu-rambu, dan remnya. Tapi jangan sampai rambu-rambu itu mematikan kreativitas mengemukakan pendapat. :cendol

    1. @ghe, tul mas… anggap itu semua bagian dari pendewasaan berdemokrasi! (duh kok aku jadi seperti ahli sosial politik nih ??) :malu2

  2. Wow…Tulisan nya Keren abis, Pantes aja wong background nya pernah jd wartawan…hehee….TOP mas Budhi :cendol

  3. jaman sudah berubah, semua serba canggih, kebebasan berpendapat bisa disampaikan lewat mana saja, tapi tentunya tidak melanggar norma2 yang ada :cendol

  4. waduh tulisan mas budi yang ini menggigit bener, pantesan tulisan pean manteb bgt mas lha wong memang jurnalis. Ampun deh!!! gak kuat ane!!

    1. @Andrik Sugianto, gak usah seperti itu lah mas… Saya justru salut dengan kerendahan hati sampeyan yang mengaku sebagai wong ndeso tapi justru sudah melanglang buana ke beberapa negara.

      Salut deh! :cendol

  5. artikelnya emang kelas berat nih,,setidaknya bisa membuat saya pribadi semangat untuk menulis dan mengeluarkan pendapat

  6. Artikelnya garang ms, penuh spirit perlawanan.

    Tapi sy sepakat, menulislah sblm menulis itu dilarang kembali, sperti zaman orba. Walau sy berdoa smoga tidak akan pernah ada pelarangan2 yg muncul demi menutupi segala kebusukan rezim penguasa

  7. ternyata emosi masa lalu bisa memberikan spirit perlawanan dalam diri sendiri yah mas? jadi ingat di kejar2 polisi dan tentara masuk ke gang-gang kecil.. wuih… seram bangget.

    seandainya masalah menulis di blog lebih di kupas sedikit lagi mas, dan dipertemukan antara kondisi masa lalu yang begitu suram dalam hal kebebasan berbicara/menulis, dengan kondisi sekarang yang serba mudah apalagi dengan dukungan blog. maka artikel ini akan semakin tajam menembus jantung pertahanan pembaca. dan menyerah, dan tidak ada kata tidak untuk menulis di blog.

    namun demikian, saya tetap tersentuh dengan substansi didalamnya. menggigit disana sini. mantapslah kalau begitu.. ciamik!

    1. @fadly muin, ngomong-ngomong mas fadly dulu ikutan demo ya? kebetulan saya dulu anggota kongres mahasiswa dan kerap ikut merumuskan isu-isu yang bakal digelar. Ya, jadi salah satu “aktor intelektualnya” lah.
      Seneng juga nulis sambil bisa nostalgia masa lalu…

  8. wah komentarnya betul-betul kena mas. Terus terang saya ingin sekali mewujudkan apa yang mas fadly katakan – mempertemukan kondisi masa lalu dan masa kini – secara lebih intens. Tapi saya jadi takut tulisanya jadi terlalu panjang dan membosankan.

    Sebelum menjadi tulisan seperti ini, saya menuliskan segala hal yang ada di dalam kepala saya. Kemudian saya edit bagian-bagian mana yang tidak mendukung tema dan alur. Tapi, diakhir penulisan, saya tetap masih merasa artikel ini sebenarnya bisa dikembangkan lebih jauh.

    Terima kasih atas saran dan kritikannya. :shakehand2

      1. @fadly muin, bener mas, saya kesulitan nyari endingnya. Jadi biarkan saja saya gantung. Tapi kok kayaknya kurang memberi efek surprise dan penasaran ya? :bingung

  9. Membaca artikel diatas memori saya teringat pada saat SMA dulu dimana sekolah saya adalah salah satu pusat keramaian waktu itu…Memang keadaan benar-benar mencekam mas, semoga peristiwa semacam itu tidak akan terjadi lagi di era yang katanya demokrasi sudah dijunjung setinggi-tingginya. semoga..

    Sharing yang menarik mas

    1. @Ricky, ternyata banyak juga teman-teman yang punya kenangan mendalam tentang peristiwa dua belas tahun lalu ini. Semoga peristiwa ini hanya menjadi sejarah kelam bangsa ini dan tidak terulang kembali di masa depan.

  10. menulis blog jika niatnya untuk optimizing dan monetizing, tentu akan membosankan ketika keuntungan materi yang diharapkan tidak kunjung datang….tidak selalu khan, ngeblog untuk tujuan uang. Seorang pakar pendidikan memberi nasihat, lakukan maka akan menuai hasilnya. Mungkin bukan produk afiliasi yang memberi untung. Tapi efek dari pertemanan dan kedekatan dengan rekan2 netter pasti membuka peluang yang lebih besar. Jadi semangat aja menulis dengan niat berbagi dan bertukar pikiran. Peran komunitas juga sangat besar, saling menghargai dan mendukung dengan saling berkunjung, memberi semangt untuk tetap eksis menulis……..*masih lebih panjang artikelnya khaaan dari komen ini heheheh

  11. yup.. setuju dengan artikel ini, yup dengan ngeblog setiap orang punya kesempatan untuk melontarkan uneg-unegnya.. btw aku juga seneng nulis kok, ‘n baru meluncurkan buku (lagi) yg lagi tak review di blogku.. ^^

  12. betul mas jadikan blog sebagai media belajar.. sepertinya harus ada pelopor buat ngajarin anak-anak ngeblog di sekolah nih :ngakak

  13. tahun 1998…hmmm. saya masih di magelang waktu itu. alhamdulillah magelang aman-aman saja. mungkin karena dekat akmil.

    tulisan yang bagus dan berisi….

    salam sukses mas dari kontestas pertamaX

  14. jejak kungkungan masa lalu masih membekas sehingga keinginan menulis masih terbatas

    akan sia-sia perjuangan meraih kebebasan yg sudah dilakukan bila semangat menulis tidak kunjung meningkat

    lewat blog kesempatan menghargai perjuangan masa lalu terbuka luas

    selamat mas Budhi, artikelnya amat membakar

    1. @suarakelana, ini dia komentar yang selalu membuat saya terbuai dengan gaya puisinya… Tendensi tulisan ini memang tidak berbeda dengan komentar Mas. Mudah-mudahan semangat kita terbakar untuk senantiasa menulis. :hotrit

  15. jika menulis sudah di senangi, maka segalanya akan mudah dan akan menjadi kebiasaan Mas πŸ™‚

    Thanks

    Imamz

  16. wah… sepertinya ini tidak akan menjadi riwayatmu lagi tapi harus menjadi budaya… mari kita terapkan budaya menulis dan salah satunya dengan membiasakan diri untuk menulis dan memberanikan diri untuk ikut kontes menulis… salam kenal buat semua….

  17. sejujurnya,saya begitu melihat artikel ini,langsung syaa simpen di flashdiks,agarsaya baca dirumah saja,karena panjang.

    tapi begitu saya baca……… OH My God !!!!!! bagus bangettttt !!!!

    nyesel dech gak langusng komentar yang pertama-tama….

    mas bagus banget mas !!!!

    1. @Abdul Rizky, sudah nggak lagi setelah saya lulus kuliah, Mas. Pernah nyaris bekerja di salah satu media dari Gramedia Group, tapi ternyata keluarga gak setuju. Akhirnya kesempatan itu saya tolak dan saya kembali ke Major Ilmu saya, dunia IT. Sayang memang… :cd

    1. @Cara Dapat Uang, betul sekali. Dan biasanya budaya menulis diawali oleh kegemaran membaca. Saya ingat sekali dari kegemaran baca buku petualangan (semisal Lima Sekawan, Sapta Siaga, Pasukan Mau Tahu, Trio Detektif) waktu SD, mengantarkan saya buat semangat nulis.

  18. Excellent article content In fact I really like what it is structured. I am just questioning us generate profits is likely to be greeted at any time when there’s something totally new concerning on this page. May very well bookmarked as their favorite your web blog with thanks!

  19. My business is generally to help you blogging and site-building i seriously thank you for material. Your new article has truly highs excellent awareness. With time lesemarke your blog post together with have verifying for new tips.

  20. Greetings, solely got to be attentive to your website due to Bing and google, and discovered that it’s really useful. We’re want to look out for belgium’s capital. I’ll recognize if you should remain this valuable from now on. Many of us would be benefited from any coming up with. Thank you!

  21. Greetings everybody, This specific webpage will be excellent as a result is when the situation was first enlarged. I’m keen on the various feed-back at the same time despite the fact that I’d personally favour all of us continue to keep them on content if you would like increase the value of the niche.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *