15 Nilai Moral yang Terkandung Dalam Permainan Tradisional Indonesia

Permainan kerjasama anak-anak di sekolah dasar.
Permainan kerjasama anak-anak di sekolah dasar.

Nilai-nilai luhur merupakan jati diri bangsa Indonesia. Nilai-nilai luhur itu menjadi jiwa bagi perkembangan budaya Nusantara. Indonesia memiliki beragam budaya yang menjadi warisan berharga bagi generasi bangsa pada masa mendatang. Budaya Nusantara tampak pada pakaian adat, rumah adat, lagu daerah, sistem bertani, gotong-royong, dan lain-lain.

Permainan tradisional merupakan salah satu seni budaya tradisional Indonesia. Permainan tradisional bersumber pada nilai-nilai kearifan lokal. Permainan tradisional mengandung nilai-nilai luhur dan pesan-pesan moral bagi pelakunya. Nilai-nilai luhur dan pesan moral itulah yang harus kita lestarikan di era milenial saat ini.

Berbagai macam permainan tradisional yang ada di Nusantara mempunyai daya tarik tersendiri. Daya tarik itu terletak pada isi permainan, konsep permainan dan cara bermain itu sendiri. Misalnya permainan dakon atau congklak mengajarkan anak-anak berhitung secara sistematis. Kita juga mengenal permainan egrang yang memiliki ciri khas cara berjalan di atas dua buah batang bambu.

Contoh permainan tradisional yang diminati masyarakat saat perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia adalah panjat pinang. Dalam permainan ini sekelompok orang bekerjasama mengambil berbagai macam hadiah yang disediakan oleh panitia. Hadiah itu diletakkan di atas batang pohon pinang yang sudah diolesi llumpu. Apa nilai moral yang terkandung di dalam permainan tradisional panjat pinang? Nilai yang terdapat dalam permainan tersebut antara lain ketangkasan, keberanian, tolong-menolong, dan saling percaya.

Menurut Sujiartiningsih (2011) dalam buku ‘Mengembangkan Nilai Luhur dengan Permainan Tradisional’, banyak nilai edukasi yang bisa kita dapatkan dari permainan tradisional. Nilai-nilai itu antara lain kreativitas dan cinta lingkungan. Nilai-nilai yang terkandung dalam permainan tradisional secara lengkap bisa diuraikan sebagai berikut:

1. Ketangkasan

Sebagian besar permainan tradisional dilakukan dengan bergerak, seperti berjalan, berlari dan melompat. Pada permainan yang melakukan gerak tersebut kita harus bergerak dengan tangkas untuk bisa menjadi pemenang. Contohnya permainan egrang. Cara memainkan egrang cukup mudah tetapi membutuhkan keseimbangan. Kalian harus berjalan menggunakan dua batang bambu dan jangan sampai terjatuh ke tanah.

Dalam lomba permainan tradisional egrang siapa yang cepat dan tidak terjatuh dia menjadi pemenangnya. Permainan ini menggunakan kemampuan dan ketangkasan yang menyenangkan. Demikian juga dalam permainan benteng. Untuk dapat memegang benteng lawan diperlukan gerak yang tangkas dan cepat. Siapa yang cepat maka dia yang dapat juara. Hal ini memang ada benarnya. Kita harus berangkat lebih awal sejak sekarang dan mampu melihat peluang kalau kita ingin menang.

2. Keberanian

Apakah anda pernah menyaksikan permainan lomba panjat pinang pada waktu perayaan hari ulang tahun kemerdekaan republik indonesia? Tentu permainan itu terlihat sangat menyenangkan sekaligus menyehatkan badan. Untuk dapat meraih hadiah yang diletakkan di atas pohon pinang tentu dibutuhkan keberanian yang luar biasa dari para pemain panjat pinang. Orang yang tidak mempunyai keberanian tidak akan bisa naik sampai ke atas melalui batang pohon yang sudah di lumpuri minyak.

Nilai moral yang terkandung dalam permainan tradisional ini adalah ntuk mencapai cita-cita besar dibutuhkan keberanian. Itulah salah satu ciri sukses orang-orang sukses, yaitu berani menerima tantangan dan berani menanggung resiko atas perbuatan yang telah kita lakukan.

3. Tolong-menolong

Hampir semua permainan tradisional dilakukan secara berkelompok. Peserta permainan tradisional biasanya cukup banyak. Saat mereka bermain bersama diperlukan sikap tolong-menolong antar pemain. Kalau tidak ada sikap tolong-menolong maka tim atau kelompok tersebut tidak akan bisa menang.

Selain itu, dengan berkelompok kalian akan belajar bersikap toleransi dan empati terhadap orang lain. Permainan yang dilakukan secara berkelompok akan menghilangkan sifat egois dalam diri kita. Anak-anak yang egois biasanya tidak akan mendapat teman bermain. Mau tidak mau, anak-anak akan belajar menghargai orang lain dan hidup saling membantu.

4. Kejujuran

Permainan tradisional memiliki nilai-nilai moral kejujuran. Untuk bisa menentukan pemain yang kalah dan menang maka dilakukan sulit atau hompimpa terlebih dulu. Suit atau hompimpa harus dilakukan dengan jujur.

Saat bermain kita juga tidak boleh bermain curang. Pemain yang curang tidak akan diajak ikut serta dalam permainan lagi. Perilaku curang ini akan terbawa saat seseorang berusia dewasa. Oleh karena itu kita harus menerapkan perilaku jujur dalam kehidupan sehari-hari.

5. Kreativitas

Pada zaman dahulu keberadaan toko mainan jumlahnya tidak sebanyak sekarang. Oleh karena itu kakek dan nenek serta ayah dan ibu kita terbiasa membuat mainan dulu baru kemudian bisa bermain. Permainan yang dibuat dulu misalnya berbahan tempurung kelapa atau wayang dari daun singkong. Bahan-bahan untuk membuat alat permainan itu mudah didapatkan dan memungkinkan membuatnya sendiri. Bila tidak ada bahan tersebut dapat diganti dengan bahan permainan yang lain.

Permainan tradisional congklak umumnya menggunakan buah yang terbuat dari kelereng dapat digantikan dengan biji-bijian. Alas papan permainan pun tidak harus menggunakan papan kayu berlubang, tetapi dapat digantikan dengan melubangi tanah sehingga menyerupai bentuk papan congkak. Permainan ini pun dapat dilakukan di rumah menggunakan kotak-kotak lantai yang ada atau kotak bergaris kapur sebagai pengganti lapangan.

Beberapa kondisi di atas dapat mendorong kita untuk lebih melatih keterampilan tangan, meningkatkan kreativitas diri, dan memanfaatkan bahan yang tidak terpakai di sekitar kita. Demikian juga dengan aturan permainan biasanya hanya disepakati para pemain sehingga para pemain dituntut untuk kreatif menciptakan aturan-aturan yang sesuai dengan keadaan mereka.

 

Penari Cilik Seni Tari Remo Boletan Gagrak Anyar Khas Jombangan
Penari Cilik Seni Tari Remo Boletan Gagrak Anyar Khas Jombangan

6. Cinta Lingkungan

Hampir semua permainan tradisional dilakukan di luar rumah. Lokasi permainan biasanya di lapangan, kebun, atau pekarangan rumah. Banyak alat permainan yang juga dibuat atau diambil dari lingkungan sekitar, seperti tumbuhan, tanah, genting, batu, dan pasir.

Tanpa disadari kegiatan tersebut dapat mendekatkan kita kepada alam sekitar. Kita bisa lebih menyatu dengan alam dan mencintai lingkungan. Jika lingkungan kita rusak maka kita tidak bisa bermain lagi. Lingkungan bukan hanya tempat dimana kita bisa bermain tetapi lingkungan juga dapat kita gunakan sebagai tempat belajar dan mengenal berbagai ciptaan Tuhan.

7. Perasaan gembira

Masih menurut Sujiartiningsih dalam buku ‘Mengembangkan Nilai Luhur dengan Permainan Tradisional’, permainan anak selalu melahirkan suasana hati yang gembira. Rasa senang tidak hanya dimiliki anak orang yang kaya yang bisa membeli permainan berharga mahal, kita semua mempunyai hak untuk bergembira seperti halnya orang kaya. Orang miskin pun bisa bermain dengan menggunakan permainan tradisional dan bisa bergembira.

Baik orang kaya, orang miskin, orang kota, maupun orang desa bisa bermain permainan tradisional yang tidak membutuhkan biaya mahal. Alat permainan tradisional dapat kita ciptakan sendiri. Suasana ceria dan senang akan melahirkan kebersamaan yang menyenangkan. Inilah awal dari kerukunan hidup bermasyarakat. Jadi sambil bermain kita bisa sekaligus mengenal kawan-kawan kita yang tinggal di sekitar lingkungan rumah kita.

8. Belajar hidup bersama

Jalannya permainan tradisional dan aturan main dibuat oleh para pemain yang akan bermain. Oleh karena itu kita harus belajar mematuhi aturan yang dibuat sendiri dan disepakati bersama. Dengan demikian kita belajar mematuhi aturan bermain yang bersifat fairplay.

Sementara itu bila ada anak yang tidak mematuhi aturan main maka dia akan mendapatkan sanksi sosial dari sesamanya. Namun apabila dia mau mengakui kesalahannya maka teman yang lain pun bersedia menerimanya kembali. Inilah suatu bentuk proses belajar memaafkan dan menerima kembali dari mereka yang telah mengakui kesalahannya. Inilah proses rekonsiliasi yang terjadi diantara anak-anak yang berlangsung dalam permainan tradisional. Dari sinilah kita mulai belajar hidup bersama.

9. Kedisiplinan

Banyak permainan tradisional yang dilakukan di tempat terbuka. Bermain di alam yang terbuka tidak akan membuat kalian lupa waktu. Begitu hari telah gelap maka permainan harus segera diselesaikan dan kita kembali ke rumah. Selain itu dari sisi aturan permainan tradisional juga bermanfaat melatih kedisiplinan. Aturan dibuat sendiri dan ditaati sendiri. Nilai kedisiplinan diharapkan dapat memunculkan perilaku disiplin. Dengan berbekal perilaku disiplin dalam hidup maka kita akan dapat mudah meraih cita-cita.

10. Tanggung jawab

Permainan tradisional umumnya dilakukan secara berkelompok. Setiap peserta mempunyai tanggung jawab masing-masing. Misalnya dalam permainan gobak sodor pemain bertahan mempunyai tugas untuk menjaga tempatnya masing-masing agar tidak dimasuki lawan. Orang yang bertanggungjawab akan mampu melaksanakan tugasnya dengan baik. Ia akan selalu menepati janji dan mematuhi aturan yang telah ditetapkan.

Inspirasi Buka Puasa Bersama Anak Yatim Sengon Jombang Tahun 2017
Inspirasi Buka Puasa Bersama Anak Yatim Sengon Jombang Tahun 2017

11. Lapang dada

Jalan permainan dan lomba dolanan anak pasti menghasilkan pihak yang kalah dan ada yang menang. Permainan tradisional biasanya diawali dengan suit atau hompimpa dulu untuk menentukan pihak yang berhak bermain pertama kali. Disinilah dibutuhkan rasa lapang dada untuk menerima giliran bermain. Begitu seterusnya, permainan akan selalu dilakukan secara bergantian.

12. Ketaatan

Setiap lomba dan kejuaraan pasti ada aturan yang harus ditaati para pemain. Demikian juga dengan permainan tradisional. Walaupun tidak tertulis, permainan tradisional memiliki aturan main. Para pemain tidak akan kecewa saat dia dalam posisi yang kalah karena aturan permainan dibuat oleh kesepakatan bersama antar pemain. Demikian juga kegembiraan tidak berlanjut pada kesombongan saat menang. Semua proses permainan berjalan sesuai dengan aturan yang telah disepakati.

13. Kewaspadaan

Peserta permainan tradisional dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu pemain yang kalah dan pemain yang menang. Untuk itu dalam bermain diperlukan sikap waspada. Pemain yang tidak waspada dia akan selalu pada posisi pemain yang kalah. Misalnya dalam permainan petak umpet seorang penjaga selalu waspada. Dia harus selalu meningkatkan kehati-hatian. Penjaga yang kurang waspada akan selalu kalah dan dia akan selamanya menjadi penjaga.

14. Saling percaya

Dalam permainan yang dilakukan secara berkelompok mereka yang terlibat harus saling percaya bahwa semua pemain dapat mengemban tugasnya masing-masing. Sesama pemain tidak akan berebut karena mereka telah mengerti dan menyepakati tugas dan aturan mainnya. Disini tumbuh rasa saling percaya antar anggota dalam kelompok. Setiap anak yang bermain dalam permainan tradisional harus menjalankan tugasnya masing-masing.

15. Semangat hidup sehat

Tahukah anda bahwa anak-anak yang terbiasa bermain permainan tradisional di luar ruangan cenderung memiliki tubuh yang lebih sehat daripada anak-anak yang terbiasa bermain di dalam ruangan dengan menggunakan smartphone atau gadget? Anak-anak yang bermain di luar ruangan melibatkan aktivitas fisik seperti berlari, melompat, merangkak, berjalan, dan lain-lain. Semua itu merupakan bentuk olahraga. Tanpa mereka sadari, mereka telah melakukan aktivitas fisik olahraga dan ini sangat baik untuk kesehatan tubuh mereka.

Bagikan tulisan ini:

9 Replies to “15 Nilai Moral yang Terkandung Dalam Permainan Tradisional Indonesia”

  1. Semangat pak Agus. Bapak tidak sendirian. masih banyak orang-orang yang peduli dengan kelestarian budaya Nusantara. diantara kita pasti ada orang-orang yang mau membantu kita melestarikan warisan budaya lokal.. Semangat terus ya…

  2. Permainan tradisional masih disukai masyarakat kok buktinya saja masih banyak orang yang main petak umpet dan kejar-kejaran dengan pihak kepolisian karena kasus korupsi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *