Dialog Pramuka Ticket to Life, Program Kepramukaan untuk Anak Jalanan Indonesia

Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka kembali mengadakan dialog pramuka melalui video konferensi Zoom. Dialog pramuka pada Selasa, 16 Juni 2020 lalu telah membahas Program Patrimonito sebagai upaya pelestarian warisan dunia (world heritage) di kalangan pemuda usia 15 tahun hingga 26 tahun.

Kwarnas Gerakan Pramuka hari ini Sabtu, 20 Juni 2020 mengajak para pecinta dunia kepramukaan berdialog via Zoom dengan topik diskusi Ticket to Life (TtL). Dialog pramuka Ticket to Life hari ini sangat menarik karena membahas usaha mem-pramuka-kan anak jalanan agar mereka menjadi warga yang berguna.

Penulis hari ini belum berkesempatan untuk bergabung dengan video konferensi Zoom karena meeting room sudah penuh. Sebagai gantinya, penulis mengikuti acara diskusi melalui tayangan video Youtube. Asyiknya lagi, penulis dapat menyaksikan siaran ulang diskusi pramuka Ticket to Life melalui channel Youtube Kwarnas Gerakan Pramuka.

Kak Saul Saleky tampil sebagai host diskusi via Zoom. Kak Saul membuka diskusi pramuka Ticket to Life dengan menyatakan bahwa setiap anak jalanan berhak memperoleh pendidikan yang layak. “Kita memiliki tanggung jawab sosial yang sangat besar untuk membuat mereka merasa tidak tertinggal dalam belajar,” ujar Kak Saul.

“Pendidikan kepramukaan yang kita selenggarakan tidak membedakan kelas sosial dan tingkat ekonomi peserta didik anak jalanan. Harapannya adalah mereka bisa lebih percaya diri untuk menatap masa depan,” imbuh Kak Saul di awal diskusi.

gambar anak berbakti kepada orang tua
gambar anak pramuka berbakti kepada orang tua

Sambutan Kak GKR Mangkubumi

Diskusi Pramuka Ticket to Life ini bertujuan memberikan semangat bagi kita semua supaya kita mampu melewati masa pandemi ini dengan optimisme tinggi. Program Pramuka Ticket to Life  bisa dikembangkan lebih luas lagi untuk membangkitkan masyarakat Indonesia agar lebih peduli pada anak jalanan.

Kak GKR Mangkubumi tampil sebagai narasumber pertama dalam Diskusi Pramuka Ticket to Life hari ini. Kak Mangkubumi adalah Koordinator Bidang Abdimas dalam kepengurusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Indonesia. Hari ini Kak Mangkubumi tampil dengan semangat saat berbicara di depan kamera melalui Zoom Meeting.

“Salam Pramuka! Diskusi kita hari ini terlihat sangat ramai. Tentunya semangat kita pada pagi hari ini menyemangati kita semua untuk kembali membuat program-program Indonesia bisa mewujudkan Ticket to Life dengan baik,” ujar Kak Mangkubumi di awal sambutan.

Masukan-masukan dari program Ticket to Life yang sudah dilaksanakan di Jakarta bisa menjadi contoh bagi kita semua untuk pengembangan di Kwarda, Kwarcab, Kwarran dan Gugus Depan. Kak Mangkubumi percaya bahwa anak jalanan itu tidak semuanya miskin. Dan juga tidak semua anak jalanan memiliki pendidikan rendah. Mereka hanya membentuk komunitas di jalanan dan jauh dari pendidikan keluarga.

Berkaca pada kasus pendidikan anak jalanan di Jogja, Kak Mangkubumi sampai mengajak anak jalanan untuk masuk sekolah. Ternyata sebagian anak jalanan tidak membutuhkan pendidikan di sekolah umum. Mereka hanya membutuhkan pelatihan peminatan agar bakat mereka dapat menjadi bekal hidup yang bagus di masa depan.

Tentunya dengan semua keterbatasan dari anak jalanan, fungsi pengurus organisasi gerakan pramuka bisa menjadi koordinator, penyambung, dan jembatan antara mereka dengan semua pihak yang terlibat. Permasalahan anak jalanan tidak bisa dipasrahkan sepenuhnya pada pemerintah daerah. Kita bisa mendukung dari hal sekecil apapun.

Liburan menyenangkan dan outbound kerjasama tim di tempat wisata alam Bukit Embag di Wonosalam Jombang
Liburan menyenangkan dan outbound kerjasama tim di tempat wisata alam Bukit Embag di Wonosalam Jombang pra

3 Poin Penting Ticket to Life

Setiap diskusi pembina pramuka, pelatih pramuka, dan para pecinta dunai kepramukaan selalu menarik minat perhatian penulis. Diskusi pramuka memberikan tambahan motivasi hidup bagi penulis sekaligus media berbagi gagasan melalui artikel kepramukaan di blog pribadi. Ada tiga poin penting dalam dialog pramuka Ticket to Life kali ini.

Pertama, dengan kehadiran organisasi Gerakan Pramuka dalam sesi dialog ini harapannya setelah ini program ticket to life akan semakin disebarkan. Data Kwarnas Gerakan Pramuka menunjukkan ada lebih dari 200 Kwartir Cabang yang ada di kota/kabupaten di Indonesia. Kalau semua kwartir cabang di Indonesia bisa membangun grup ticket to life binaan maka akan besar besar sekali manfaatnya.

Kedua, anak jalanan memiliki pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan bakat yang mereka punyai. Sekali lagi jika kita berkaca pada pengalaman Kak Mangkubumi dalam menangani kasus kehidupan anak jalanan, ternyata tidak semua anak jalanan membutuhkan pendidikan formal layaknya anak-anak pada umumnya. Kebanyakan anak-anak jalanan membutuhkan pendidikan vokasi untuk memperoleh keterampilan tertentu sesuai dengan minat dan bakat mereka.

Ketiga, gerakan pramuka hadir untuk menjadi jembatan bagi kehidupan mereka yang lebih baik. Pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh anggota pramuka bukan hanya sekedar kerja bakti membersihkan selokan maupun membagi-bagikan masker kesehatan di masa pandemi. Kepedulian kepada anak-anak jalanan merupakan pengabdian masyarakat pada level yang lebih tinggi.

Kak Saul lantas mengutip nasehat bijak anak jalan. Anak jalanan tidak akan melemah jika ia disakiti karena dia tahu setiap kesakitan adalah proses untuk membangun kekuatan.

Diskusi pramuka via Zoom Meeting tentang Ticket to Life hari ini juga dihadir oleh peserta didik yang pernah dibina di program Ticket to Life di Kota Depok dan Jakarta. Mudah-mudahan mereka bisa tetap bersemangat. Jika perlu, mereka akan membagi pengalaman bagaimana rasanya bergabung di kegiatan kepramukaan.

Fun Games Gerakan Pramuka Siaga
Fun Games Gerakan Pramuka Siaga – Lomba Rally Karet Gelang

Sambutan Kak Brata

Kak Brata mengawali sambutan dengan mencuplik berita di harian kompas hari ini Sabtu, 20 Juni 2020. Harian Kompas hari ini pada halaman pertama memberitakan bahwa jumlah pengangguran bisa terus bertambah lebih banyak di masa pandemi.

Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Ida Fauziah, menyatakan menurut pemerintah pandemi Covid-19 ini telah menyebabkan 1,7 juta orang di Indonesia kehilangan pekerjaan. Sehingga diantisipasi pengangguran di Indonesia berjumlah 2,9 juta orang.

Sementara itu data dari Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), pandemi Covid-19 ini bisa berpotensi membuat 6,4 juta pekerja menjadi pengangguran. Pemberitaan ini sangat relevan dengan topik Ticket to Life hari ini.

Kalau begitu banyaknya jutaan orang kehilangan pekerjaan maka berpotensi pada permasalahan di keluarga mereka masing-masing. Hal ini terkait dengan masalah keuangan. Dan kalau ada persoalan keuangan maka berpotensi pada pengabaian atau kurang perhatian pada pendidikan anak. Hal ini berpotensi anak-anak itu akan keluar dari rumah dan berada di jalan sehingga mereka kemudian memiliki label anak jalanan.

Dialog Pramuka mengenai Ticket To Life merupakan program untuk Asia Pacific Regional (APR) World Organization of the Scout Movement (WOSM) dalam mempramukakan anak jalanan agar mereka menjadi warga yang berguna. Anak-anak jalanan adalah warga negara yang juga berhak atas kehidupannya dan Pramuka terjun di situ.

Program Ticket to Life ini bertujuan untuk menguatkan kepedulian (awarness) masyarakat terhadap anak jalanan sejak tahun 2003. Program Ticket to Life didukung oleh World Scout Foundation atau Yayasan Dana Pramuka dunia yang dipimpin oleh Raja Swedia sebagai owner charity.

Bet Pramuka untuk Program Patrimonito Pelestarian Warisan Dunia
Bet Pramuka untuk Program Patrimonito Pelestarian Warisan Dunia

Sejarah Ticket to Life

Program Ticket to Life diawali di oleh Pramuka Kenya pada tahun 2003. Penulis tidak tahu kenapa Kenya dipilih sebagai tempat pertama program Ticket to Life. Mungkin karena almarhum Lord Baden Powell meninggal di dunia tahun 1941 dan dimakamkan di Kenya. Mungkin program ini ada sedikit ikatan emosional dengan Kenya.

Ketode yang digunakan dalam program Ticket to Life di Kenya adalah Peer to Peer. Artinya, mereka tidak membuka pendaftaran, tapi ini lebih kepada sentuhan pribadi. Jadi kalau kita lihat ada anak jalanan kita dekati dan kita ajak ngobrol. Kemudian kita yakinkan bahwa mereka akan kita terima di Pramuka. Jadi pendekatan ini bertujuan untuk menjalin hubungan dengan anak-anak yang tidak punya rumah atau homeless.

Tujuan pendekatan dengan anak-anak jalanan adalah kita reintegrasikan mereka kembali dengan masyarakat. Mereka biasanya merasa bahwa mereka adalah sampah masyarakat sehingga mereka menolak untuk bergaul atau kecenderungan untuk agresif terhadap masyarakat.

Anak-anak jalanan membutuhkan uang sehingga kita bisa duga cara-cara yang mereka lakukan adalah cara-cara yang unfriendly dan asocial. Pramuka menyambut mereka dengan menggunakan metode-metode kepramukaan seperti membimbing dan membangun semangat hidup. Hal yang penting adalah membangun dan memperkuat kepercayaan diri mereka.

Program Ticket to Life kemudian menyeberang ke dunia internasional. Wilayah Asia Pasifik sampai sekarang sudah ada 9 negara yang melaksanakan program Ticket to Life, yaitu Filipina, Sri Lanka, Bangladesh, Mongolia, Pakistan, Nepal, India, Bhutan, dan Indonesia.

Inspirasi Ticket to Life berasal dari apa yang dilakukan oleh Lord Baden Powell. Beliau adalah seorang Letnan Jendral tentara Inggris yang pernah bertugas di Afrika dan di India. Dan sepulang bertugas, beliau kembali ke Inggris (United Kingdom). Lord Baden Powell menulis buku Aids to Scouting yang kemudian diperbarui buku itu menjadi Scouting for Boys atau kepramukaan untuk putra. Sejak saat itu, kegiatan kepramukaan terus berkembang sesuai dengan konsep Ticket to Life.

Semoga artikel kepramukaan ini bisa menambah wawasan Anda dalam memahami Ticket to Life. Mari kita tingkatkan kepedulian kita terhadap anak-anak jalanan.

Bagikan tulisan ini:

6 Replies to “Dialog Pramuka Ticket to Life, Program Kepramukaan untuk Anak Jalanan Indonesia”

  1. Setuju banget bro! Anak jalanan gak harus sekolah formal. Mereka cuma butuh keterampilan utk bertahan hidup. Kalo kebanyakan aturan sekolah malah mengekang kebebasan anak.

  2. Negara seharusnya melindungi anak2 jalanan sbg bagian dari warga negara. Semoga pemerintah lbh aware kpd mereka.

  3. Kalau dilihat sekilas memang tampaknya kegiatan keduanya sangat kontras antara pramuka dan anak jalanan kegiatan. Keduanya seolah-olah saling bertabrakan. Kalo pramuka terkenal dengan kedisiplinan dirinya sedangkan anak-anak jalanan sukanya bebas dan tidak mau terikat aturan. Mudah-mudahan gerakan pramuka indonesia bisa merangkul anak-anak jalanan di indonesia sehingga hidup mereka lebih disiplin dan memiliki kemampuan untuk menghidupi dirinya sendiri dengan cara yang benar dan tidak melanggar hukum.

  4. Kegiatan mengakomodasi kebutuhan pendidikan anak jalanan seharusnya dikelola oleh pemerintah dan jangan diberikan kepada swasta. Saya khawatir pendidikan anak jalanan bisa disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak benar. Mereka adalah anak-anak yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang orang tua sehingga mereka akan dengan mudah bisa diraih hatinya jika diberikan materi yang melimpah dan dan perhatian dari orang dewasa. Oleh karena itu kita harus selalu waspada dan selalu memantau pendidikan anak jalanan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *