Inspirasi Kehidupan dari Cerita Film Mahabharata

poster mahabharata Indonesia di ANTV
poster mahabharata Indonesia di ANTV

Sebenarnya saya nggak terlalu sering nonton tivi di rumah. Selain kesibukan kerja dan kuliah yang seabrek banyaknya, kalaupun ada kesempatan santai di rumah pasti saya kalah megang remote tivi dibanding keponakan yang suka nonton sinetron. Lalu, acara tivi apa yang lagi saya gemari? Biasanya sih saya cari info berita-berita politik terkini. Maklumlah, diskusi di kampus seringkali mengupas topik ter-update. Kalau nggak sempat baca koran, solusinya ya nonton berita di tivi.

Ada salah satu acara serial drama di televisi yang sangat saya sukai, bukan cerita cowok-cowok ganteng yang jadi vampir. Tapi ini film seri Mahabharata yang biasa diputar di stasiun ANTV tahun lalu. Masih muda kok demen nonton film tokoh pewayangan? Nggak tahu juga. Awalnya saya juga sebel banget tiap kali dengar Bapak di rumah memutar musik wayang yang bertalu-talu. Tapi semuanya jadi berubah sejak saya nonton serial drama klasik Mahabharata di ANTV.

Apa sih yang beda cerita pewayangan dulu dengan Mahabharata di ANTV kali ini? Sebenarnya jalan ceritanya nggak jauh beda dari versi Mahabharata yang lain. Bahkan sekarang pun lagi diputar serial Mahabharata di MNCTV. Jalan ceritanya pasti sama lha wong semua itu sudah cerita pakem. Namun yang beda adalah Mahabharata di ANTV dibuat dalam versi modern. Nama serial Mahabharata di ANTV kalau di India sana aslinya bernama serial Mahabharat, nggak pakai huruf A.

Teknologi Sinematografi Bollywood

Para pemain Mahabharata di ANTV dipoles dengan kostum yang stylish dan nggak malu-maluin. Teknologi animasi yang dipakai pun sudah oke punya. Karena film serial Mahabharata di ANTV  ini asalnya dari industri film India alias Bollywood, maka sinematografi yang dipakai juga standar film-film Bollywood yang saat ini diakui sebagai pusat perfilman paling produktif di dunia. Saking banyaknya film Bollywood yang dirilis setiap minggunya, sampai mengalahkan film-film Hollywood di Amrik. Ini fakta loh.

Oke, balik lagi ke serial film klasik Mahabharata di ANTV. Secara umum, serial Mahabharata di ANTV berkisah seputar perebutan kekuasaan antara Pandhawa dan Kurawa. Pandhawa adalah lima orang anak Pandu, pewaris tahta Kerajaan Kuru. Sedangkan Kurawa adalah 100 orang anak Raja Destrarastra dari Hastinapura dengan isterinya yang bernama Gandari. Pertarungan Pandawa melawan Kurawa seolah menjadi simbol pertarungan kebaikan melawan kejahatan. Walaupun mereka aslinya masih saudara, tapi tetap saja bisa perang karena alasan rebutan kekuasaan. Mirip kondiri negeri kitalah.

Gandari sang ibunda dari seratus Kurasa sendiri adalah adik dari Sangkuni. Sedangkan Sangkuni adalah raja dari Kerajaan Gandara. Sangkuni ini benci sekali kepada Bisma yang saat ini menjadi patih kerajaan Hastinapura. Sangkuni berusaha menguasai Hastinapura melalui adiknya yang menjadi permaisuri Raja Hastinapura. Dalam perjalanan mencapai tujuan tersebut, Sangkuni menggunakan cara-cara licik untuk mendapatkan tahta Hastinapura, termasuk memperalat Duryadana (anak tertua dalam Kurasa) agar mau menuruti semua tindakan politiknya.

Sebenarnya, sisi asyiknya nonton serial Mahabharata di ANTV ini adalah karena cerita kehidupan Pandhawa bukan hanya dimulai waktu mereka sudah dewasa. Bahkan di awal-awal episode serial Mahabharata di ANTV diceritakan masa kecil Pandhawa dan Kurawa. Ternyata anak-anak Pandhawa itu lucu-lucu. Masing-masing anak memiliki perilaku khusus yang membedakan satu dengan yang lain. Jika Arjuna dikenal suka memanah, maka Bima dikenal suka makan ladu.

Kesederhanaan Masa Kecil Pandhawa

Pandhawa terdiri dari 5 orang anak dengan urutan dari tertua sampai yang termuda yaitu, Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Meskipun lima orang tersebut memiliki satu orang ayah, yaitu Raja Pandu, ternyata mereka berasal dari dua orang ibu. Jika Yudhistira, Bima dan Arjuna dilahirkan oleh Kunti, maka si kembar Nakula dan Sadewa dilahirkan oleh Madrim. Pandu dan Madrim meninggal dunia ketika 5 orang pandawa masih kecil sehingga Kunti harus membesarkan lima orang anaknya seorang diri.

Anak-anak  Pandawa memiliki kemampuan yang hebat dan unik. Masing-masing diri mereka mencitrakan karakter khas para ksatria. Yudhistira adalah simbol kebijaksanaan pemimpin. Arjuna adalah lambang ketampanan pria. Bima adalah identik dengan kekuatan. Pelajaran utama yang bisa dipetik dari masa kecil Pandawa adalah mereka dibesarkan dalam suasana kesederhanaan dan kealamiahan hutan. Mereka tumbuh menjadi anak-anak yang bisa saling menyayangi.

Kurawa dan Kemewahan Istana

Berbeda dengan Pandawa yang hidupnya dalam keterbatasan, seratus anak-anak Kurawa justru dibesarkan dalam kemewahan istana Hastinapura. Ada seratus orang Kurawa. Saya nggak hapal masing-masing nama tersebut. Yang saya tahu ada nama Duryadana, Dursasana, dan Dursila. Ayah mereka, Raja Destrarasta terlalu memanjakan Kurawa sejak kecil sehingga mereka tidak memiliki sifat ksatria yang baik. Ya itulah jeleknya Raja Destrarasta yang nggak bisa berbuat adil untuk semua anak-anaknya.

Kehadiran Pandawa kecil di Kerajaan Hastinapura menjadikan masa kecil Kurasa merasa terusik. Mereka takut Pandawa menjadi Raja Hastinapura selanjutnya. Ketakutan itu khususnya dimiliki oleh Duryadana sebagai anak tertua dalam Kurawa. Sosok Sengkuni selalu menjadi tukang fitnah bagi Kurawa agar Kurawa memusuhi Pandhawa dalam segala hal. Akting Sengkuni yang jalannya nggak bener dan tatapan matanya yang suka merem sebelah selalu bikin sebel yang lihat. Hehehe.

Menarik bukan? Meskipun sudah bisa ditebak akhir cerita legendaris ini, tapi tetap saja saya berminat nonton terus. Acara serial Mahabharata di ANTV normalnya tayang selama setengah jam di ANTV mulai hari Senin sampai Sabtu pukul 20.45 sampai 21.15 WIB. Tapi saya lebih suka nonton serial Mahabharata di ANTV yang terusan pada hari Minggu mulai jam 19.30 sampai 21.45 WIB.

Bagaimana dengan Anda? Suka nonton serial Mahabharata juga?

2 Replies to “Inspirasi Kehidupan dari Cerita Film Mahabharata”

  1. Mahabharata bukan sekedar drama di tivi, tapi juga pelajaran bagi orang yang berpikir. Artikel yang bagus. Thanks sudah berbagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *