Haris Sumadiria: Menulis Adalah Simbol Peradaban

Terima kasih buat Bundapreneur atas kiriman buku kedua ini. Judulnya Menulis Artikel dan Tajuk Rencana karya Drs. AS Haris Sumadiria M.Si, dosen dan Ketua Jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. Saya mendapat banyak pandangan baru tentang dunia penulisan artikel. Mulai dari dasar-dasar penulisan hingga teknik yang sedikit njlimet dan memerlukan pemikiran.

Seperti sering ditulis para peserta Kontes Menulis, menulis itu sebenarnya gampang. Terlebih lagi bagi seorang Haris, menulis erat hubungannya dengan peradaban. Penemuan tulisan benar-benar telah membentuk awal peradaban.

Dalam dunia Antropologi dikenal pemeo:

Sebagaimana Bahasa membedakan manusia dari binatang, begitu pula tulisan membedakan manusia beradab dari manusia biadab.

Dengan kata lain, tulisan hanya terdapat dalam peradaban, dan peradaban tidak ada tanpa tulisan. Jadi, kalau kita ingin dijuluki orang beradab dan sekaligus menolak disebut manusia biadab, maka mulailah untuk menulis.

Jadikanlah menulis sebagai kebutuhan pokok seperti halnya makan dan minum setiap hari. Menulis adalah tradisi kalangan terpelajar, pemikir, sekaligus para pemimpin besar dunia pada zamannya. Kebiasaan ini berkembang hingga sekarang. Para pemimpin dunia selalu menulis buku. Masa jabatan boleh singkat, tetapi gagasan dan pemikiran serta nama mereka sendiri akan selalu dikenang berkat karya dan pemikirannya.

Dalam masyarakat modern, menulis adalah kegiatan produktif dan ekspresif kaum intelektual dimana pun. Media yang digunakan pun tidak terbatas pada buku cetak. Blog pribadi dan  micro blogging menjadi salah satu tempat favorit. Tengok saja situs Twitter. Tidak terhitung berapa banyak politisi yang memanfaatkannya dalam usaha membisikkan paham mereka.

Hal tersebut di dasari atas pemikiran tidak ada yang bisa lepas dari dunia tulisan setiap hari. Setiap saat pikiran kita dibombardir arus informasi dari portal berita dan situs jejaring social. Bermacam-macam pilihan cara menanggapinya. Ada yang terpancing emosi saat baca update fesbuk, ada yang turut bersedih saat mengunjungi Twitterland.

Namun, idealnya sebagai manusia yang beradab, melalui tulisan pengetahuan kita akan bertambah, wawasan kita akan luas, daya analisis makin tajam, mampu bersikap lebih bijak dan keputusan yang kita ambil makin menuju kearah yang benar.

Semoga review kali membawa manfaat.

PS: Ngomong-ngomong ada yang ngampus IAIN SGD nggak, bisa diceritakan sedikit profil Pak Haris?