Review Buku: I See What You Mean

Setelah sempat terlupakan, kali ini saya kembali menulis review buku. Buku yang berhasil menarik perhatian saya malam ini adalah karya D. Joel Whalen yang judulnya saya copas menjadi judul artikel ini, I See What You Mean. Tagline yang dipilih adalah Membangun Komunikasi Persuasif Dalam bisnis.

Meski pada awalnya buku ini ditulis untuk segment marketing, tak ada salahnya saya menghadirkan di blog ini. Toh, profesi blogger juga nggak jauh beda dengan marketer. Sama-sama menjual produk atau karya seseorang. Bahkan bagi blogger yang mengambil topik marketing, kemampuan berkomunikasi merupakan bagian vital dalam menggugah pertahanan prospek.

Menghadirkan sebuah artikel yang mampu men-transfer pikiran, ide ataupun gagasan penulis kepada pembaca adalah sesuatu yang gampang-gampang susah. Mengapa saya katakan demikian?

Terlepas dari faktor penulis yang ‘terlalu hebat’ bermain kosakata ataupun pembaca yang ‘agak lemot’ menyerap info, selama menulis puluhan artikel, baik yang dipublikasikan di blog ini ataupun saya jual kepada klien, saya memperhatikan tidak semua tulisan saya berhasil membuat ngeh para pembaca.

Malahan ada yang melenceng jauh dari sasaran semula. Saya bilang mau ke Bandung, eh dikira mau ke Banjarmasin. Saya sebut besar pasak daripada tiang, malah dikatakan air beriak tanda tak dalam.

Nah, buku yang diterbitkan oleh Alinea ini sedikit bisa mengurai pertanyaan di atas. Untuk menulis artikel yang efektif setidaknya harus memperhatikan hal-hal berikut:

1. Mengusai pesan yang akan disampaikan.

Ini yang utama. Banyak blogger pandai menulis dengan rangkaian kalimat-kalimat indah, ter-struktur dengan baik dan sesuai EYD. Namun tidak banyak yang mampu menguasai dan menyajikan ‘pesan’ yang ingin disampaikan.

Pesan itu apa? Hmm, semacam niat terselubung gitu. Tidak harus tertulis dalam kalimat. Tapi tersirat dalam keseluruhan artikel dan efek yang ditimbulkan setelah membaca tulisan.

Contoh gampangnya, saya pribadi nih, sesuai tagline blog ini saya berharap setiap pengunjung yang selesai blogwalking kesini bisa semangat lagi dalam ngeblog. Nggak tahu caranya gimana, saya harus bikin Anda dan mereka semua lebih greng dan maknyos update blog.

2. Kredibilitas pembawa pesan.

Jika saya membuat eksperimen menampilkan satu artikel yang sama persis pada waktu yang bersamaan di dua blog yang memiliki kesamaan topik tapi perbedaan rating, yang satu blog Fadly Muin (misalnya) dan satunya lagi blog nubitol (misalnya juga). Maka dapat saya pastikan akan menghasilkan sambutan yang berbeda di mata pengunjung.

Bukannya saya bermaksud mengatakan seorang newbie nggak boleh menulis artikel, tapi disini saya menunjukkan bahwa ‘identitas anda’ turut mempengaruhi kemampuan pembaca mencerna input yang masuk ke otak.

Bagi yang belum ngetob gimana? Tulisannya nggak laku dong? Jangan keburu patah semangat. Ada banyak cara untuk mendongkrak kredibilitas Anda. Mulai dari yang instan sampai yang perlahan tapi pasti.

Yang paling mudah adalah dengan menjadi penulis tamu blog yang banyak pengunjungnya. Meski bukan jaminan Anda langsung ketularan jadi ngetob juga, tapi setidaknya Anda harus bisa mencuri perhatian pengunjung. Bila hal ini mampu Anda lakukan di beberapa super blog yang berbeda, berarti semakin besar kemungkinan Anda kecipratan kepercayaan.

3. Mengenal segmentasi pembaca.

Umumnya nih, ibu-ibu PKK nggak bakalan paham dalam waktu singkat kalau diajak membahas pertandingan sepakbola Piala Dunia 2010. Sebaliknya, bapak-bapak nggak akan tertarik ngobrolin pernak-pernik kosmetik wanita. Kecuali member d’BC Network tentunya. :P

Segmentasi yang salah akan menghasilkan interpretasi yang salah pula. Pastinya anda pernah kesasar blogwalking ke sebuah blog yang ketika dibuka Anda langsung berkata: blog apaan ini, pembahasannya nggak nyambung banget, no comment ah…!

Mungkin Anda akan bertanya: dalam hal segmentasi, blog gado-gado berpeluang menjadi nomor satu dong? Kan bisa masuk ke semua kategori?

Belum tentu. Kalau soal topik mungkin bisa fleksibel, tapi dalam hal kemampuan berbagi ilmu saya kok masih meragukan efektifitasnya. Harap diingat bahwa pengguna internet sekarang makin cerdas. Mereka datang ke Google hanya untuk mencari apa yang mereka butuhkan. Selebihnya tidak masuk hitungan.

Nah, sekarang coba mari periksa tulisan lama di arsip blog Anda. Sudah cukup membuat pengunjung memahami pemikiran Anda? Atau jangan-jangan tanpa sadar Anda telah membuat otak mereka tambah puyeng tujuh keliling? Boleh puyeng asal jangan sambil joget Mendut yaaang… :D

50 thoughts on “Review Buku: I See What You Mean

Leave a Reply