Review Buku: According to Kotler

Buku yang saya review hari ini adalah kumpulan interview seputar marketing (pemasaran) yang berjudul According to Kotler karya Philip Kotler. Pasti Anda sudah tidak asing lagi dengan nama tersebut, terutama bagi blogger yang mengambil topik marketing sebagai tulisan andalan. Namanya sering dihubungkan dengan marketer Indonesia Hermawan Kartajaya atas dasar kolaborasi penulisan sejumlah buku marketing.

Lho, tiba-tiba blog ini tertular virus marketing. Ada ada dengan AS.com? Nggak usah heran, biasa saja kok. Ini adalah proses alami untuk pembelajaran diri. Lagipula sub tittle blog ini mengandung parafrase bisnis online. Topik marketing adalah bagian yang tak terpisahkan dari bisnis online.

Review kali ini saya sajikan agak berbeda dari biasanya. Saya tampilkan dalam bentuk aslinya, yaitu tanya jawab. Namun untuk kepentingan panjang artikel, beberapa kalimat saya ringkas dengan tanpa mengurangi keutuhan pemikiran asli buku jadul setebal 227 halaman ini. Beberapa tanya jawab yang saya anggap penting diketahui adalah sebagai berikut.

Di buku-buku Anda ditekankan bahwa globalisasi, hiperkompetisi dan internet tengah membentuk ulang pasar serta bisnis. Apa pengaruh dari semua dinamika ini terhadap pemasaran?

Ketiga kekuatan itu bertindak untuk menurunkan harga. Melalui internet, orang dapat membandingkan harga-harga dengan lebih cepat dan beralih kepada penawaran dengan harga lebih rendah.

Tantangan marketing adalah menemukan cara untuk mempertahankan harga dan keuntungan dalam menghadapi berbagai tren. Tidak satupun usaha yang bisa mempertahankan customer, jika usaha itu tidak dapat mempertahankan penawaran dengan nilai tertinggi.

Lebih khusus lagi, apa saja dampak internet terhadap pemasaran?

Internet merevolusi praktik dan efisiensi bisnis. Customer memiliki banyak informasi tentang detail produk dan harga-harga terkini. Akan lebih banyak transaksi dilakukan melalui internet. Menurut saya, rata-rata perusahaan di Amerika baru menggunakan 10% dari keseluruhan potensi internet. Untuk itu, saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan berikut ini:

  • Apakah Anda menggunakan internet untuk menguji produk dan konsep pemasaran yang baru?
  • Apakah Anda telah menunjuk seseorang untuk meneliti strategi, taktik dan sumberdaya milik para pesaing melalui internet?
  • Apakah Anda menggunakan internet untuk melatih dan berkomunikasi dengan karyawan, dealer serta supplier Anda?
  • Apakah Anda menggunakan website Anda untuk merekrut karyawan baru?
  • Apakah Anda menyebarkan kupon dan sampel produk melalui website Anda?
  • Apakah Anda memantau percakapan di chat room untuk mengetahui apa kata orang tentang berbagai produk, usaha dan brand yang terkait dengan bisnis Anda?

Saya yakin sebagian besar usaha tidak akan menjawab ya atas beberapa pertanyaan itu.

Apa saja ciri-ciri website yang bagus untuk sebuah perusahaan?

Setiap perusahaan harus merancang website yang mengekspresikan tujuan, sejarah, produk, visi dan beberapa hal lain dari perusahaan. Website harus menjadi cara mudah untuk menghubungi perusahaan. Isi website harus diperbarui secara berkala agar orang kembali mengunjunginya. Website harus dapat loading dengan cepat, serta memiliki tampilan menarik. Website bisa berfungsi lebih banyak guna membuka peluang transaksi, yang akan menjadikannya sebagai situs e-commerce.

Banyak perusahaan online gulung tikar. Kenapa?

Perusahaan online yang baru biasanya memiliki gagasan bagus untuk memenuhi kebutuhan tersembunyi di pasar. Meskipun banyak entrepreneur online secara teknis cerdas, mereka tidak memiliki kecapakan tentang keuangan dan pemasaran. Mereka gagal membangun model bisnis yang bagus.

Di bawah ini adalah sejumlah alasan utama mengapa banyak perusahaan online yang gulung tikar:

  • Banyak netpreneur tergesa-gesa masuk pasar tanpa didahului riset dan perencanaan yang memadai. Mereka sangat yakin akan mendapatkan customer baru, berprinsip bahwa perusahaan yang pertama menerjuni kategori itu akan meraih kepemimpinan kategori.
  • Untuk menjaring customer, pebisnis online menghabiskan banyak biaya untuk pemasaran massal dan periklanan offline dalam upaya mempublikasikan nama dan bisnis mereka. Mereka seharusnya lebih mengandalkan target marketing dan viral marketing
  • Mereka menghabiskan energi untuk mencari customer baru daripada membangun pengguna yang loyal dan lebih sering membeli diantara para customer lama.
  • Mereka tidak benar-benar memahami perilaku customer jika ada hubungannya dengan surfing dan pembelian online.
  • Banyak website dirancang dengan buruk, terlalu rumit, navigasi yang buruk dan downtime yang lama.
  • Banyak website kekurangan infrastruktur pendukung untuk melakukan pengiriman dan menanggapi permintaan customer secara tepat waktu.
  • Banyak website tidak mengembangkan model bisnis yang bagus, yang nantinya mendatangkan laba.
  • Kemudahan customer beralih dari satu website ke website lain untuk mendapatkan harga yang lebih menarik, telah memaksa website e-commerce untuk memasang harga yang serendah-rendahnya.

Apa pengaruh internet terhadap 4P (Product, Price, Promotion and Place) selama ini?

Harga (price) semakin penting. Pembeli tinggal mengeklik mouse untuk melihat harga yang dipasang oleh pesaing atas item yang sama. Promosi (Promotion) berbentuk iklan kurang efektif dilakukan di internet. Tetapi promosi penjualan boleh jadi lebih efektif karena orang dapat mengunjungi situs-situs yang menawarkan kupon gratis untuk berbagai produk terkenal. Dalam hal tempat (place), peritel yang menjual buku, musik, paket wisata dan jasa pembelian saham akan terpukul oleh internet. Kecuali mereka bersedia mengubah teknis pemesanan yang berbasis internet.

5 Replies to “Review Buku: According to Kotler”

  1. Pingback: Media Mampu Mengubah Perilaku Consumer | The Jombang Taste

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *