Review Buku: Menerbitkan Buku Itu Gampang (Bagian 2)

Pada artikel sebelumnya, saya telah membahas sebagian pemikiran  yang tertulis dalam buku MBIG. Nah, artikel kali ini akan saya bagi beberapa hal teknis yang patut diketahui oleh para penulis.

Kalau saya pikir-pikir lagi, ternyata hal-hal tersebut masih relevan kalau dipraktekkan dalam blogging. Hal ini tidak lain karena menulis adalah salah satu materi wajib dalam aktivitas ngeblog. Sebuah blog dapat dikatakan hidup bila mampu menyajikan tulisan-tulisan terbaru secara rutin.

Oke deh, tidak perlu berlama-lama pakai intro, langsung kita bahas hal-hal tersebut. Ini dia…

1. Mulailah segala sesuatu dari hal-hal yang paling Anda minati dan kuasai.

Langkah awal yang bisa Anda lakukan adalah membuat daftar aktifitas apa saja yang menjadi minat Anda, apa keahlian Anda, fenomena apa yang menarik perhatian Anda dan hal apa yang ingin Anda sampaikan kepada publik.

Saat menemukan dunia yang Anda rasakan nyaman untuk ditinggali, biasanya berbagai ide akan bermunculan seiring dengan aneka peristiwa yang mengiringi langkah Anda. Sebaliknya, jika sejak awal sudah nggak sreg maka aktifitas menulis akan seperti beban berat yang anda tanggung sepanjang hidup.

2. Menulislah dengan gaya penulisan sendiri.

Setiap orang itu unik dan menarik. Tidak ada aturan pasti tentang gaya penulisan mana yang menjamin tulisan Anda akan sukses. Model tulisan serius dan berapi-api tidak menjamin pembaca akan cepat paham maksud tulisan Anda.  Menjadi diri sendiri jauh lebih utama sebagai salah satu cara menjaga keaslian tulisan.

Bagaimana kalau kita terjebak pada gaya menulis tokoh idola? Nggak masalah. Mungkin pada awalnya tulisan Anda terlihat seperti Kang Abik wannabe atau Jonrunizer tapi kalau konsisten menulis lambat laun akan terbentuk karakter anda sendiri.

3. Terapkan kiat menulis bebas.

Salah satu kalimat favorit saya di dalam buku MBIG adalah “Otak kanan dulu, baru otak kiri”. Penjelasannya begini. Seringkali pada waktu menulis pikiran kita terpaku pada sejumlah teori yang bikin kepala mumet. Mau menulis ini, takut bertentangan dengan teori A. Mau menulis itu, khawatir nggak cocok dengan rumus B. Pada akhirnya, pikiran kita dibuat pusing tujuh keliling.

Nah, kalau kita mau sedikit cuek, cukup menulis terus sesuai apa yang terlintas di pikiran Anda. Perkara tata bahasa dan ejaan tulisan yang acak-acakan, itu dipikir belakangan saja. Nanti bisa diedit setelah semua unek-unek Anda terbebaskan. Poin utamanya adalah menampung ide-ide liar yang tak bisa tertahankan lagi.

4. Fokus pada sudut pandang.

Posisi penulis di mata pembaca hendaknya ajeg dan tidak plin-plan. Sejak awal harus bisa menentukan diri berada di pihak mana. Mau sebagai pelaku utama, pengamat kejadian atau justru menuturkan ulang cerita orang lain. Ketidakjelasan posisi dapat membingungkan interpretasi pembaca terhadap keseluruhan pemikiran yang tertuang di buku.

5. Rajin menulis sesuai jadwal yang dibuat.

Menulis buku bukanlah proses sulap bim salabim langsung jadi semalam suntuk. Idealnya sih 1 bulan adalah waktu normal untuk menulis secara intensif. Namun hal ini bervariasi kepada setiap penulis yang berbeda. Dan mengingat waktu yang dibutuhkan tidaklah sebentar, maka diperlukan komitmen dan keyakinan yang kuat untuk mampu menyelesaikan.

Salah satunya adalah dengan membuat jadwal menulis secara rutin setiap hari. Jika Anda masih seperti saya, pegawai kantoran yang memiliki waktu terbatas, waktu setengah jam setiap hari sudah cukup untuk melatih ketekunan menulis. Tapi syaratnya ya itu tadi: komitmen.

Waduh, Kok Ribet Ya…?

Waktu membaca uraian di atas mungkin Anda berpikir, ternyata menulis buku itu nggak mudah ya. Memang iya. Ini masih tahap penulisan, belum lagi hal-hal teknis lain seperti pengiriman naskah ke penerbit, menunggu tahap I dan II, negosiasi dengan penerbit, promosi yang efektif dan masih banyak hal di belakang layar yang bagi orang awam terlihat super ribet.

Hal tersebut terjadi bila Anda melihatnya dari sisi negatif. Praktek di lapangan bisa jadi berbeda dengan pandangan awal. Jonru telah membuktikan bahwa sebagian besar besar penerbit justru menyambut penulis dengan tangan terbuka. Tidak sedikit editor yang ramah melayani macam-macam pertanyaan penulis pemula.

Penulis dan penerbit adalah mitra kerja yang saling ketergantungan. So, keep positive thinking dan tetaplah bermimpi menjadi penulis buku best seller! Maju terus dunia penulisan Indonesia!

Leave a Reply