Apakah Wabah Virus Corona Berdampak pada Penghasilan Petani Padi?

Pengertian Otonomi Daerah, Daerah Otonom dan Hakikat Otonomi Daerah di Indonesia
Pengertian Otonomi Daerah, Daerah Otonom dan Hakikat Otonomi Daerah di Indonesia

Pertengahan bulan April 2020 ini petani memasuki musim panen padi di sebagian besar wilayah Kabupaten Jombang. Salah satu desa yang ikut merasakan panen padi secara massal adalah Desa Latsari Kecamatan Mojowarno. Penulis mengamati kehidupan penduduk desa yang berprofesi sebagai petani. Hiruk pikuk petani mengusung kata terjadi di desa-desa beberapa di antara mereka terlibat transaksi jual beli gabah dengan para tengkulak. Alhamdulillah tanaman padi disini tumbuh dengan sangat baik meski hama tikus masih menyerang di area persawahan bagian selatan dusun.

Semula penulis memperkirakan munculnya wabah virus Corona (Covid-19) sedikit banyak akan berpengaruh terhadap kehidupan petani padi di desa. Namun ternyata anggapan itu salah. Sampai dengan tulisan ini diterbitkan, masyarakat petani di desa tempat tinggal penulis tetap melaksanakan kegiatan seperti biasa. Mereka tidak terpengaruh oleh aktivitas himbauan pembatasan sosial berskala besar yang digaungkan oleh sejumlah pemerintah daerah. Puluhan warga tampak sibuk di sawah. Sebagian warga mengubah jalan desa menjadi area penjemuran padi secara dadakan.

Musim panen padi yang bersamaan dengan datangnya pandemi virus korona memberikan sedikit efek terhadap perilaku masyarakat petani. Petani sekarang lebih menjaga kebersihan dirinya. Mereka menyiapkan tandon-tandon air dan sabun cuci tangan di depan rumah mereka masing-masing. Meskipun mereka bekerja di sawah namun mereka tetap menjaga kebersihan tubuh mereka saat melaksanakan panen padi di sawah, menjemur gabah di halaman rumah, maupun melaksanakan aktivitas transaksi jual beli gabah dengan para tengkulak.

Saat ini harga gabah basah di kisaran Rp400.000 per kwintal. Pengertian gabah basah adalah padi yang baru dipanen di sawah dan diolah dengan mesin perontok padi lalu dibawa pulang oleh petani ke rumah. Lain halnya dengan harga gabah kering, pastinya lebih mahal dibanding harga gabah basah. Perbedaan harga gabah kering dan gabah basah disebabkan oleh proses perawatan gabah yang memerlukan penjemuran di bawah sinar matahari selama beberapa hari hingga bobotnya menyusut.

Gambar ilustrasi virus corona Covid-19 - Gambar diambil dari website tci-research.com
Gambar ilustrasi virus corona Covid-19 – Gambar diambil dari website tci-research.com

Para petani bersyukur hasil panen padi tahun ini sangat baik. Tidak ada keluhan dari petani mengenai turunnya penghasilan mereka tahun ini dibanding tahun lalu. Demikian juga dari para pembeli gabah yang tak lain tetangga mereka sendiri. Masing-masing pihak menyadari adanya ketergantungan dari kedua belah pihak terhadap transaksi jual beli hasil panen padi. Bahkan sebagian petani kaya tak ragu membagikan beras hasil bercocok tanam padi kepada tetangga yang memerlukan bantuan.

Harga gabah basah maupun gabah kering tidak terpengaruh oleh isu pandemi Virus Corona. Hal ini bisa dimaklumi mengingat wilayah Jombang, khususnya Mojowarno didiami oleh para petani padi yang memiliki mobilitas rendah. Masyarakat hampir tidak sering melakukan aktifitas bepergian keluar kota. Kegiatan petani sehari-hari berkisar dari rumah, sawah, tempat ibadah, maupun pasar. Lokasi-lokasi tersebut memiliki potensi rendah terhadap datangnya warga asing dalam waktu lama. Siapa pula bule yang mau kulakan gabah di Mojowarno.

Alasan lain mengapa harga gabah tidak terpengaruh oleh pandemi virus Corona adalah karena padi merupakan makanan pokok masyarakat Jawa yang tinggal di Jombang. Setiap keluarga pasti ingin memiliki cadangan makanan dengan memborong gabah dari para petani. Petani yang mereka pilih tentu saja tetangga yang lokasi rumahnya terdekat. Transaksi jual-beli bahan makanan dengan tetangga dinilai lebih aman dan menguntungkan karena terhindar dari resiko penipuan.

Pandemi virus corona mungkin belum sepenuhnya hengkang dari bumi Jombang. Namun aktifitas petani tetap berlanjut seiring dengan tuntutan kebutuhan hidup. Masyarakat tidak bisa menunggu bantuan Pemerintah yang belum jelas kapan datangnya. Mereka tetap giat berusaha di tengah keterbatasan diri. Bagaimana dengan perkembangan harga gabah di lingkungan tempat tinggal Anda? Apakah pandemi virus corona berpengaruh terhadap produktifitas petani?

Bagikan tulisan ini:

2 Replies to “Apakah Wabah Virus Corona Berdampak pada Penghasilan Petani Padi?”

  1. Informasi yg bagus mas. Jarang2 loh ada blogger muda yg bahas pertanian. Semoga yg nulis artikel ini sukses selalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *