Cerita Rakyat Aceh: Dongeng Puteri Niwer Gading dan Pangeran Amat Mude

Dongeng Puteri Niwer Gading dan Pangeran Amat Mude
Dongeng Puteri Niwer Gading dan Pangeran Amat Mude

Apa kabar pembaca setia blog The Jombang Taste? Nusantara memiliki beragam cerita rakyat yang menarik untuk disimak. Dongeng adalah salah satu jenis cerita rakyat yang berkembang dari mulut ke mulut dan memuat amanat atau pesan moral untuk generasi muda saat ini maupun masa datang. Berikut ini salah satu dongeng terkenal dari Provinsi Nangroe Aceh Darussalam yang berkisah tentang Puteri Niwer Gading.

Pada jaman dahulu di wilayah Nangroe Aceh Darussalam ada suatu kerajaan yang bernama Negeri Alas. Negeri Alas memiliki raja yang bijaksana dan raja itupun dicintai oleh rakyatnya. la memerintah Negeri Alas dengan adil dan tidak pilih kasih. Dalam kegiatan sehari-hari pikirannya dicurahkan hanya untuk memajukan negeri dan kemakmuran rakyatnya.

Akan tetapi, kebahagiaan Sang Raja belum lengkap karena ia tidak mempunyai putera. Sang Raja bersedih karena ia merasa hidupnya belum sempurna bila belum memiliki anak. Ia tidak tahu siapa kelak yang akan mewarisi tahta kerajaannya. Atas saran tokoh masyarakat Negeri Alas yang dihormatinya, Raja Alas dan Permaisuri kemudian tetap harus tekun berdo’a sambil berpuasa agar Tuhan memberinya putra. Usaha sang raja dan permaisuri berhasil karena beberapa bulan kemudian permaisuri mengandung.

Sang Raja menyambut kehamilan permaisurinya dengan riang gembira. Hatinya berbunga-bunga karena tak lama lagi ia dapat memiliki keturunan. Setelah sembilan bulan mengandung, Perrnaisuri melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Pangeran Amat Mude. Pangeran Amat Mude disayang oleh raja, permaisuri, anggota keluarga kerajaan, dan seluruh rakyat Negeri Alas.

Namun sayang sungguh sayang. Kebahagiaan itu tidak berlangung lama. Belum genap Amat Mude berusia setahun, Raja Alas meninggal dunia. Karena keadaan Amat Mude masih bayi maka adik sang raja atau paman (Pakcik) Amat Mude diangkat menjadi raja sementara. Pakcik itu bemama Raja Muda. Permaisuri tidak tahu bahwa Raja Muda memiliki niat jahat dan ingin menyingkirkan dirinya dan putranya.

Setelah bertahta menjadi raja, Raja Muda malah bertindak kejam kepada Amat Mude dan ibunya. Mereka diasingkan ke sebuah hutan terpencil. Raja Muda yang berhati jahat ingin menguasai sepenuhnya Negeri Alas yang sebenarnya menjadi hak Amat Mude. Didorong oleh keserakahan untuk memiliki kekayaan dan jabatan, Raja Muda lupa bahwa permaisuri dan putranya yang dia usir dari istana masih memiliki hubungan darah dengannya.

Permaisuri Bertahan Dalam Pengasingan

Meskipun dibuang jauh dari istana oleh Raja Muda, permaisuri tidak pernah mengeluh. Ia tetap mengasuh Amat Mude yang masih bayi dengan tanggungjawab. Ia terima cobaan berat itu dengan sabar dan tabah. la besarkan Amat Mude dengan penuh kasih sayang. Ia yakin pasti akan ada manfaat dari setiap kejadian yang dialami dalam hidupnya. Rasa cintanya kepada Sang Raja dan putranya melebihi keinginannya untuk tinggal di istana megah.

Waktu terus berjalan dan permaisuri masih hidup dalam pengasingan. Tahun demi tahun berlalu, Amat Mude pun tumbuh menjadi anak yang cerdas dan tampan. Permaisuri mendidik Amat Mude dengan pengetahuan agama, memberi contoh perilaku yang terpuji dan keterampilan hidup yang berguna di masa mendatang. Permaisuri senang karena Amat Mude cerdas dan berbakti kepada orang tua.

Salah satu kegemaran Amat Mude adalah memancing ikan di sungai. Ia pandai menangkap kan dengan menggunakan kail. Ikan hasil tangkapannya besar-besar. Ikan hasil tangkapannya ia makan bersama ibunya di rumah. Sedangkan kelebihan hasil tangkapan ikan ia jual ke desa sebelah.

Pada suatu siang yang panas, permaisuri dan Amat Mude berjalan kaki menuju sebuah desa di pinggir hutan untuk menjual ikan. Tanpa disangka, ia bertemu dengan saudagar kaya. Saudagar itu memperhatikan permaisuri dengan seksama. Ia merasa mengenal wajah permaisuri, namun ia lupa dimana telah bertemu dengannya. Ternyata saudagar kaya itu adalah bekas sahabat suaminya dulu.

Saudagar itu teringat wanita di hadapannya adalah permaisuri Negeri Alas. Ia heran mengapa permaisuri berpakaian buruk layaknya rakyat biasa. Bukankah seharusnya permaisuri dan putranya hidup dengan nyaman di dalam istana. Ia tak habis pikir dengan kondisi itu. Untuk menghilangkan rasa penasarannya, saudagar itu pun bertanya kepada permaisuri.

“Mengapa Tuan Putri dan Putra Mahkota berada di tempat ini?” tanya saudagar itu keheranan.

Permaisuri kemudian menceritakan semua kejadian yang telah menimpanya. Mulai dari meninggalnya sang raja sampai dengan pengasingan yang harus dijalaninya. Mendengar hal itu, sang saudagar merasa iba dan segera mengajak mereka ke rumahnya. Tak lupa, saudagar itu membeli semua ikannya. Setibanya di rumah, saudagar itu menyilakan permaisuri dan Amat Mude beristirahat di dalam rumah.

Kemudian saudagar itu menyuruh istrinya segera memasak ikan tersebut untuk menjamu makan malam permaisuri dan puteranya. Sungguh ajaib! Pada saat sedang memotong perut ikan, sang istri saudagar kaya merasa heran karena dari perut ikan itu keluar telur-telur ikan yang berupa emas murni. Seumur hidupnya, ia belum pernah melihat kejadian aneh ini. Ia melaporkan hal ini kepada suaminya.

Atas persetujuan suaminya, butiran telur emas tersebut dijual ke pasar oleh istri saudagar. Saudagar tahu diri dan ingin membalas budi kepada keluarga kerajaan. Uang hasil penjualan emas ia kumpulkan dan ia gunakan untuk membangun rumah permaisuri dan putranya. Sejak saat itu, perrnaisuri dan Amat Mude telah berubah menjadi orang kaya berkat telur-telur emas dari ikan hasil tangkapannya.

Pangeran Amat Mude Mencari Kelapa Ajaib

Berita tentang kekayaan permaisuri dan putranya sampai ke telinga Raja Muda. Raja Muda merasa khawatir jika Amat Mude memberontak dan menuntut haknya menjadi Raja Negeri Alas. Raja Muda berpikir keras bagaimana cara menyingkirkan Amat Mude yang kedua kalinya. Jika pengasingan saja belum cukup, ia berpikir Amat Mude harus diberikan tugas yang lebih berat yang kemungkinan besar akan gagal dilaksanakannya.

Oleh karena itu pada suatu hari Raja Muda memanggil Amat Mude ke istana. la memerintahkan Amat Mude memetik kelapa gading untuk mengobati penyakit istri Raja Muda. Kelapa gading itu berada di sebuah pulau yang terletak ditengah laut. Konon katanya, lautan di sekitar pulau itu dihuni oleh binatang-binatang buas. Siapa pun yang melewati lautan itu pasti celaka. Selama ini belum ada pelaut yang pernah kembali dari pulau itu dalam kondisi hidup dan selamat.

Raja Muda mengancam Amat Mude jika ia tidak berhasil membawa kelapa gading itu maka ia akan dihukum mati. Namun Pangeran Amat Mude tak peduli dengan ancaman Raja Muda. Niatnya tulus untuk menolong istri Raja Muda yang tak lain adalah bibinya sendiri. la pun segera berangkat meninggalkan istana dan berlayar menuju pulau yang dimaksud oleh Raja Muda.

Selama beberapa hari Amat Mude berlayar di tengah lautan. Tak terhitung berapa kali ombak dan badai menerjang kapalnya. Dengan ketangguhannya ia berhasil menaklukkan halangan di tengah lautan. Hingga suatu hari ia merapatkan kapal ke pantai pulau yang dituju. Setibanya di pantai, ia lantas duduk termenung. Tanpa disangka muncul di hadapannya seekor ikan besar bernama Si Lenggang Raye, didampingi oleh Raja Buaya, dan seekor Naga besar.

Terjadi pembicaraan singkat antara Amat Mude dengan Si Lenggang Raye, Raja Buaya, dan Naga besar. Ketiga binatang buas itu bertugas menjaga pulau dari orang-orang jahat. Pada saat bertemu Amat Mude, ketiga tidak menunjukkan perlawanan. Sebaiknya, mereka malah bersedia membantu Amat Mude dalam menyelesaikan tugasnya mencari kelapa gading untuk mengobati istri Raja Muda.

Setelah naik ke sebuah bukit, Amat Mude menemukan pohon kelapa gading dengan bantuan Si Lenggang Raye, Raja Buaya, dan seekor naga. Selanjutnya, Amat Mude memanjat pohon kelapa itu. Ketika sedang memetik buah kelapa gading, tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan.

“Siapa pun yang berhasil memetik buah kelapa gading, dia akan menjadi suamiku,” suara perempuan terdengar nyaring dari bawah pohon.

“Siapakah Engkau?” tanya Amat Mude dengan keheranan.

“Aku Putri Niwer Gading,” jawab suara dari bawah pohon kelapa.

Amat Mude cepat-cepat memetik buah kelapa gading. Ia berpikir buah kelapa ini harus segera diberikan kepada istri Raja Muda agar ia lekas sembuh. Setelah turun dari atas pohon kelapa alangkah takjubnya Amat Mude melihat kecantikan Putri Niwer Gading.

Selanjutnya, Amat Mude pun mengajak sang putri pulang ke rumahnya untuk dipersunting. Setelah menikah, Amat Mude beserta istri dan ibunya berangkat ke istana untuk menyerahkan buah kelapa gading. Kedatangan Amat Mude membuat Raja Muda terheran-heran. Orang yang berhasil melewati rintangan di pulau angker pastilah orang sakti. la tidak mau main-main lagi. Kini tidak ada alasan untuk menghukum mati keponakannya itu.

Raja Muda sadar akan kesalahannya. la memohon maaf kepada permaisuri dan Pangeran Amat Mude karena telah berulangkali ingin mencelakakannya. Permaisuri dan Amat Mude memaafkan Raja Muda dan keluarganya karena mereka adalah bagian dari keluarga kerajaan Negeri Alas juga. Beberapa hari kemudian Pangeran Amat Mude dinobatkan menjadi Raja Negeri Alas dan hidup bahagia bersama rakyatnya.

Dongeng Puteri Niwer Gading dan Pangeran Amat Mude ini memiliki amanat ketika musibah terjadi janganlah sampai kita menyerah dan putus asa. Diperlukan kesabaran dan ketabahan dalam menjalani ujian kehidupan. Dan dengan bekerja keras kita akan bisa sampai pada perbaikan nasib.

Semoga terinspirasi. Sampai jumpa di artikel cerita rakyat Nusantara berikutnya.

Daftar Pustaka:

Rahimsyah, MB. 2007. Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara Lengkap dari 33 Provinsi. Bintang Usaha Jaya, Surabaya.

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

2 thoughts on “Cerita Rakyat Aceh: Dongeng Puteri Niwer Gading dan Pangeran Amat Mude”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *