Cerita Rakyat Jambi: Dongeng Si Kelingking Berkekuatan Hebat

Cerita Rakyat Jambi Dongeng Si Kelingking Berkekuatan Hebat
Cerita Rakyat Jambi Dongeng Si Kelingking Berkekuatan Hebat

Blog The Jombang Taste kembali menyapa Anda melalui seri cerita rakyat Nusantara. Dongeng adalah salah satu jenis cerita rakyat yang banyak mengajarkan nilai-nilai moral bagi pembacanya. Walaupun peristiwa dalam dongeng terdengar tidak masuk akal namun ada pembelajaran dibalik setiap kejadian yang ada. Berikut ini dongeng Si Kelingking dari Jambi yang menarik untuk Anda simak. Selamat membaca.

Pada jaman dulu terdapat sepasang suami istri yang hidup di sebuah desa kecil di daerah Jambi. Walaupun hidup dalam kemiskinan, mereka tetap rukun dan bahagia menjalani aktifitas sehari-hari. Namun kebahagiaan mereka tidak lengkap karena mereka belum mempunyai anak. Meski demikian mereka tidak putus asa, hampir setiap hari sepasang suami-isteri itu berdo’a kepada Tuhan memohon dianugerahi putra.

“Ya, Tuhan! Karuniakanlah kami seorang anak, walaupun sebesar kelingking!” Itulah do’a yang selalu mereka panjatkan.

Doa mereka terkabul. Tidak berapa lama kemudian sang istri mengandung. Sang suami senang bukan kepalang. Sebentar lagi dia akan menimang anak. Ia membayangkan betapa bahagianya bisa bermain dengan anaknya. Beberapa bulan kemudian, sang istri pun melahirkan. Alangkah terkejutnya mereka, ketika melihat bayinya terlahir hanya sebesar kelingking.

Rasa gembira yang awalnya terpancar di wajah sepasang suami istri itu berubah jadi kesedihan. Mereka menyesal mengapa doa yang mereka panjatkan hanya mengharap anak sebesar kelingking. Meski demikian, mau tak mau mereka harus menerima Si Kelingking dengan lapang dada. Itulah anugerah Tuhan untuk mereka. Karena bentuknya yang sebesar kelingking, suami istri itu lantas memberi nama putra mereka Si Kelingking.

Si Kelingking mempunyai kebiasaan aneh dibanding anak-anak seusianya. Walaupun badannya berukuran sangat kecil, tetapi si Kelingking mampu menghabiskan makanan yang jumlahnya banyak. Orang tuanya jadi sering kerepotan memenuhi kebutuhan makan Si Kelingking. Mereka miskin dan untuk makan sehari-hari saja susah. Lalu ditambah kerakusan si kelingking maka kesabaran mereka jadi hilang.

Gagal Menyingkirkan Si Kelingking

Setelah berunding secara diam-diam, sepasang suami istri itupun memutuskan untuk membuang jauh-jauh si Kelingking dari kehidupan mereka. Hingga pada suatu hari, sang ayah mengajak si Kelingking ke hutan untuk mencari kayu. Setibanya di tengah hutan, sang ayah segera menebang pohon besar yang diarahkan kepada anaknya.

Sang ayah berharap beban berat pohon itu dapat membunuh Si Kelingking sehingga masalah besar dalam hidupnya bisa terselesaikan. Beberapa saat kemudian, pohon besar itu pun roboh menimpa tubuh si Kelingking. Si ayah tersenyum gembira menyaksikan Si Kelingking tertimpa pohon besar. Setelah memastikan dan yakin anaknya sudah mati, sang ayah segera kembali ke rumahnya.

Mendengar cerita suaminya, sang istri pun menjadi lega. Kini tidak ada lagi tukang makan yang menghabiskan jatah nasi mereka. Sayangnya mereka lupa bahwa perbuatan membunuh termasuk perbuatan dosa.

Pada saat suami istri itu sedang bergembira merayakan terbunuhnya Si Kelingking, dari luar terdengar panggilan. ā€œAyah…! Dimana aku harus meletakkan batang pohon ini?ā€ Kiranya itu suara Si Kelingking yang mencari ayahnya.

Suami-isteri itu terkejut saat mendengarnya. “Bukankah itu suara Si Kelingking. Ayo, kita keluar melihatnya!” seru sang suami penasaran.

Mereka sangat terkejut melihat si Kelingking sedang memikul sebuah pohon besar di pundaknya. Setelah meletakkan kayu itu di belakang rumah, si Kelingking langsung mencari makanan di rumahnya. Karena merasa kelaparan, ia pun menghabiskan sebakul nasi. Sementara ayah dan ibunya hanya duduk terbengong-bengong melihat anaknya yang sedang makan. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menyingkirkan Si Kelingking selamanya.

Si Kelingking Memanfaatkan Tenaganya

Waktu terus berjalan. Sepasang suami istri itu tak lelah berusaha membuang Si Kelingking jauh-jauh. Meskipun sudah beberapa kali disingkirkan, tetapi Si Kelingking tetap kembali lagi. Mereka kehabisan akal untuk menyingkirkan si Kelingking.

Ketika melihat si Kelingking begitu lahapnya makan dan seolah tak pernah tahu niat jahat orang tuanya, akhirnya mereka sadar. Si Kelingking adalah darah dagingnya, sudah seharusnya ia dipelihara dengan baik. Bukankah mereka sendiri yang berdoa kepada Tuhan agar dikaruniai putra, walaupun sebesar kelingking.

Sejak saat itu, mereka menerima keadaan si Kelingking dengan ikhlas. Tenaga si Kelingking yang sangat besar dan kuat itu ternyata sangat berguna. Dengan tenaganya yang besar, si Kelingking mampu melakukan pekerjaan yang berat. Banyak tetangga yang memerlukan bantuannya. la mendapat imbalan yang pantas.

Akhimya kehidupan mereka menjadi lebih baik berkat tenaga Si Kelingking. Mereka tidak lagi kekurangan, si Kelilingking sudah bisa rnakan atas usahanya sendiri, bahkan juga bisa membantu kedua orang tuanya. Sepasang suami-istri itu pun hidup bahagia bersama Si Kelingking.

Amanat cerita dongeng Si Kelingking ini adalah setiap orang tua hendaknya menerima apapun kondisi anaknya. Setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing sehingga tidak perlu dibanding-bandingkan antara satu anak dengan yang lain. Semoga dongeng Si Kelingking dari Jambi ini bisa memberi inspirasi bagi Anda agar lebih bijak dalam mendidik putra-putri di rumah. Sampai ketemu lagi di seri cerita rakyat Nusantara bersama blog The Jombang Taste.

Daftar Pustaka:

Rahimsyah, MB. 2007. Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara Lengkap dari 33 Provinsi. Bintang Usaha Jaya, Surabaya.

One Reply to “Cerita Rakyat Jambi: Dongeng Si Kelingking Berkekuatan Hebat”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *