Cerita Rakyat Jawa Barat: Legenda Sangkuriang, Dayang Sumbi dan Asal Usul Gunung Tangkuban Parahu

Cerita Rakyat Jawa Barat Legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbi
Cerita Rakyat Jawa Barat Legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbi

Pada artikel sebelumnya kita sudah membaca legenda Puteri Tujuh dan dongeng Si Kelingking berkekuatan hebat. Itulah beberapa cerita rakyat Nusantara yang menarik untuk dibagikan sebagai pengantar tidur kepada anak-anak. The Jombang Taste kembali menghadirkan cerita legenda rakyat Indonesia yang memiliki muatan nilai moral sebagai pembelajaran hidup. Berikut ini legenda asal usul Gunung Tangkuban Parahu dari kisah percintaan terlarang antara Sangkuriang dan Dayang Sumbi.

Jawa Barat adalah wilayah pertanian yang subur dengan hasil kekayaan alam yang melimpah. Diceritakan pada jaman dulu terdapat Prabu Galuga yang memerintah salah satu kerajaan di Tanah Sunda. Ia adalah seorang raja yang suka berburu. Biasanya ia berburu dengan ditemani seekor anjing istana jelmaan dewa. Prabu Galuga berbadan tegap, tangkas memanah dan cakap bermain pedang. Setiap kali berburu, ia hampir tidak pernah gagal.

Hingga pada suatu hari Prabu Galuga berburu ke hutan dengan serombongan pengawal. Tapi hari itu ia sungguh tidak beruntung karena hampir seharian ia tidak mendapat seekor binatang sekalipun. Hanya ada beberapa hewan yang ditemuinya di hutan. Dan itupun setiap kali ia membidikkan anak panahnya selalu meleset tak pernah mengenai sasaran.

“Ada apakah ini? Kenapa anak panahku tak pernah mengenai sasaran? Sungguh tidak biasa,” sang Prabu bertanya heran dalam hatinya.

Sang Prabu tak putus asa. Ia tetap melanjutkan usaha perburuannya sampai ke tengah hutan. Berkali-kali ia mencoba memanah dan menombak, namun tetap saja gagal. Ia kesal sekali karena tak dapat hewan buruan.

Lalu pada suatu sore di hutan itu ia pergi ke semak-belukar untuk membuang air kecil yang ditahannya sejak tadi. Air seni Prabu Galuga tersisa dan menggenang di cekungan tempurung kelapa yang tergeletak di bawah rerimbunan. Tak lama kemudian, ia lantas pulang kembali ke istananya. Ia tidak tahu bahwa kejadian ini akan menentukan masa depannya kelak.

Celeng Wayungyang Melahirkan

Tanpa diketahui oleh siapapun, di hutan itu hidup seekor babi hutan jelmaan bidadari yang harus menjalani hukuman turun ke dunia. Babi hutan itu bernama Celeng Wayungyang. Saat itu musim kemarau yang panas. Setelah baginda dan rombongannya meninggalkan tempat itu, datanglah Celeng Wayungyang yang merasa kehausan. Dengan langkah gontai Celeng Wayungyang berjalan menuju tempat teduh.

Ia sudah mencari air kemana-mana namun belum bertemu juga. Babi hutan itu sungguh sangat kehausan. Tak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat ada cekungan berisi air keruh yang tak lain adalah air seni Prabu Galuga. Ia kemudian menjilati air seni Prabu Galuga yang ada di cekungan tempurung kelapa. Tak disangka-sangka, atas kehendak dewata, babi betina itu hamil. Sembilan bulan kemudian babi itu melahirkan seorang manusia perempuan.

Pada saat itu, Prabu Galuga kebetulan tengah berburu pula di tempat yang sama seperti sembilan bulan yang lalu. Pada saat asyik berburu, ia terkejut oleh suara tangisan melengking.

“Oeeeek… Oeeeek…” terdengar bayi menangis.

Prabu Galuga merasa heran mendengar tangisan bayi di tengah hutan. Apakah mungkin ada wanita hamil sedang melahirkan di tengah hutan. Makin lama suara tangisan bayi itu makin keras terdengar di telinganya. Prabu Galuga seperti ditarik kekuatan gaib, sepasang kakinya melangkah ke arah sang bayi.

Tentu saja Celeng Wayungyang ketakutan melihat kehadiran Prabu Galuga dan segera melarikan diri. Celeng Wayungyang tidak ingin menjadi korban perburuan Sang Prabu. Babi hutan itu kabur sebelum sempat terlihat oleh Prabu Galuga.

“Hah? Ada bayi di tengah hutan?” pekik sang Prabu saat mengetahui ada sosok bayi tergeletak di rerumputan.

“Siapakah wanita yang tega meninggalkan bayinya di tengah hutan?” lanjutnya.

Prabu Galuga segera menggendong bayi itu. Bayi itu tampak lucu dan cantik. Ia tertarik untuk merawat bayi itu. Ia tidak tahu bahwa bayi itu adalah anaknya sendiri. Ia segera memerintahkan para pengawalnya untuk melindungi bayi itu dari panas. Bayi itu kemudian dibawa ke istana, diambil anak dan diberi nama Nyi Dayang Sumbi.

Tujuh belas tahun kemudian gadis kecil itu telah tumbuh menjadi seorang dara cantik jelita. Kecantikan Nyi Dayang Sumbi terkenal sampai ke negara tetangga, hampir setiap pekan datang lamaran dari para pangeran yang ingin memperistrinya. Namun Nyi Dayang Sumbi selalu menolaknya karena ia memang tidak cinta. Sang prabu menjadi marah atas penolakan itu.

“Sumbi, mengapa kamu tidak mau menerima pinangan para pangeran?” ujar Prabu Galuga.

“Bagaimana mungkin ananda akan menikah dengan orang yang tidak ananda cintai, Baginda.” Dayang Sumbi berkata dengan tenang kepada ayahnya.

“Tindakanmu ini sungguh merupakan penghinaan bagi mereka. Sekarang hanya ada dua pilihan bagimu. Mau menikah atau ku asingkan kau di tepi hutan,” Prabu Galuga berkata dengan geram.

Karena gadis itu tetap tak mau menikah maka ia diasingkan di tepi hutan. Dayang Sumbi dibuatkan dangau di tepi hutan. Temannya sehari-hari hanya seekor anjing bernama si Tumang, anjing jelmaan Dewa. Pekerjaannya sehari-hari adalah menenun kain. Dayang Sumbi menjalani rutinitas itu dengan kesabaran.

Dayang Sumbi Menikahi Anjing

Lalu pada suatu hari ketika Dayang Sumbi sedang menenun, salah satu tongkatnya jatuh ke bawah dangau. la merasa malas untuk turun ke bawah maka ia mengucapkan kata-kata janji. “Siapa yang mau mengambilkan tongkatku ia akan kujadikan suamiku.”

Tak lama kemudian, tidak disangka si Tumang naik ke atas dangau sambil membawa tongkat itu. Kiranya anjing ini mendengar perkataan Nyi Dayang Sumbi. Bukan main terkejutnya Nyi Dayang Sumbi melihat siapa yang naik pondok membawa tongkat. Dayang Sumbi hendak menolak kenyataan yang ada namun tiba-tiba terdengar suara tanpa rupa.

“Nyi Dayang Sumbi! Kau adalah keturunan bidadari. Bidadari pantang menjilat ludah sendiri. Lagi pula si Tumang memang jodohmu. Sesungguhnya anjing itu adalah jelmaan dewa!” Terpaksa Dayang Sumbi harus bersuamikan seekor anjing walaupun anjing itu jelmaan dewa.

Hari-hari berlalu. Dayang Sumbi hidup dengan Si Tumang sebagai suaminya. Setahun kemudian Dayang Sumbi dikaruniai seorang bayi laki-laki yang tampan. Bayi itu diasuhnya dengan penuh kasih sayang. la diberi nama Sangkuriang. Sangkuriang berwajah tampan, badannya sehat dan selalu tampak ceria.

Tak terasa tujuh tahun berlalu. Sangkuriang kecil sudah pandai berburu binatang bersama si Tumang. Sangkuriang tak pernah tahu kalau si Tumang adalah ayahnya. Sebab Dayang Sumbi tidak pemah bercerita siapa sesungguhnya si Tumang itu. Sangkuriang menganggap Si Tumang tak ubahnya anjing penjaga dangau tempat ia dan ibunya tinggal bersama.

Pada suatu hari Sangkuriang berburu ke hutan bersama si Tumang. Namun sudah sekian lama berburu dan menjelajah hutan mereka tidak menemukan seekor hewan pun. Suatu ketika Sangkuriang melihat babi hutan besar, ia segera mencabut anak panah. Membidik tepat ke arah si babi hutan. Namun sebelum anak panah itu dilepaskan Sangkuriang, si babi hutan keburu lari dan menyelinap ke dalam semak belukar. Tumang diperintahkan mengejar namun Tumang tidak mau. Sangkuriang jadi marah.

Kini ia mengarahkan bidikan panahnya ke arah si Tumang. Tembakan anak panahnya tepat mengenai perut si Tumang. Si Tumang menjerit keras kemudian tubuhnya ambruk ke tanah. Sangkuriang menyembelih anjing itu, mengambil bagian-bagian daging yang paling enak dan hatinya. Daging dan hati anjing itu dibungkus dan dibawanya pulang.

Hati dan daging itu dimasak dengan lezat oleh Nyi Dayang Sumbi dan dimakan bersama-sama dengan Sangkuriang. Selesai makan Dayang Sumbi mencari si Tumang. “Sangkuriang, ke mana si Tumang?”

Sangkuriang menjawab dengan tenang, “Bu, Anjing itu tadi kusuruh menyerang babi hutan malah diam saja. Akhirnya dialah yang ku panah dan ku ambil daging dan hatinya.”

“Apa?” pekik Dayang Sumbi kaget.

Sepasang mata Nyi Dayang merah menyala pertanda marah. Ia tidak menyangka Sangkuriang telah membunuh ayahnya sendiri. Ia mengambil benda sekenanya dipukulnya anak itu dengan entong. Sangkuriang menjerit kesakitan. Ia diusir dari rumah. Sangkuriang sedih dan menangis mengapa ibunya tega berbuat sekejam itu. Diiringi hujan deras dan petir menyambar di langit. Sangkuriang berlari tak tentu arah. Sangkuriang bertekad tidak akan kembali ke rumah.

Cinta Terlarang Sangkuriang

Sangkuriang mengembara tak tentu arah di dalam hutan dan perkampungan penduduk. Sampai akhirnya Sangkuriang bertemu dengan seorang pertapa sakti. Ia diangkat sebagai murid terkasih. Semua ilmu kesaktian pertapa itu diwariskan kepada Sangkuriang. Dua belas tahun kemudian ia sudah menjadi pemuda dewasa. Sangkuriang adalah pemuda idaman para gadis remaja. Wajahnya tampan. Tubuhnya gagah perkasa.

Setelah selesai masa bergurunya Sangkuriang pergi mengembara. Dalam pengembaraannya ia sering beradu kesaktian dengan para pendekar. Sangkuriang tidak pernah lelah belajar ilmu kesaktian. Apabila ia kalah dalam satu pertarungan maka tak segan-segan ia berguru kepada orang yang mengalahkannya, sehingga semakin lama ilmunya semakin tinggi.

Pada suatu ketika, dalam petualangannya ia berkelahi dengan Raja Jin. Pertarungan antara Sangkuriang dan Raja Jin berlangsung sengit. Selama berhari-hari ia bertarung, telah banyak tenaga terkuras diantara keduanya. Dan pada hari ketujuh Sangkuriang berhasil mengalahkan Raja Jin tersebut sehingga pemimpin bangsa jin itu tunduk dan bersedia diperintah apa saja oleh Sangkuriang.

“Suatu ketika saya akan membantumu, Tuan!” ucap Raja Jin memberikan janji.

“Bagaimana caraku memanggilmu?” tanya Sangkuriang.

“Sebut nama hamba dan hentakkan kaki Tuan tiga kali ke bumi, maka hamba akan datang bersama pasukan hamba,” jawab Raja Jin.

“Baiklah kalau begitu,” pungkas Sangkuriang.

Sangkuriang terus mengembara. Di pinggir sebuah hutan dia bertemu dengan seorang gadis cantik. Keduanya berkenalan dan sama-sama jatuh cinta. Gadis itu tak lain adalah Dayang Sumbi. Meski berumur sudah tua, Dayang Sumbi tetap terlihat cantik. Rahasia kecantikan Dayang Sumbi adalah karena ia keturunan bidadari maka ia bisa tetap awet muda. Selain itu, Dayang Sumbi banyak makan buah dan sayur sehingga ia selalu sehat.

Seharusnya Sangkuriang dan Dayang Sumbi tidak boleh saling jatuh cinta karena mereka berdua adalah anak dan ibu. Cinta terlarang itu selayaknya tidak dilakukan. Namun apa daya, keduanya terpisah jarak dan waktu yang sangat lama sehingga tidak saling mengenal satu sama lain.

Pada suatu hari ketika mereka berdua sedang bercengkerama di rumah Sangkuriang, Dayang Sumbi mencari kutu di kepala Sangkuriang. Tiba-tiba Dayang Sumbi terkejut melihat luka di kepala kekasihnya. Luka itu sama persis dengan luka yang dimiliki Sangkuriang anaknya. Ia menanyakan sebab-sebab terjadinya luka itu. Sangkuriang kemudian menceritakan apa adanya kejadian yang menimpanya saat kecil.

“Jadi kau adalah Sangkuriang anakku sendiri,” pekik Dayang Sumbi.

“Anakmu? Tidak. Mana mungkin kau adalah ibuku?” ucap Sangkuriang tidak percaya.

“Benar. Kaulah Sangkuriang anakku. Tidak mungkin aku menikah dengan anakku sendiri,” kata Dayang Sumbi menegaskan.

Sangkuriang tidak percaya dengan ucapan Dayang Sumbi dan terus mendesak agar Dayang Sumbi mau jadi istrinya. Dayang Sumbi berusaha menjelaskan semua kejadian dari awal sampai ia bertemu Sangkuriang. Namun cinta telah membutakan mata Sangkuriang sehingga ia tidak menghiraukan hubungan ibu dan anak diantara keduanya. Sangkuriang memaksakan kehendaknya untuk menikahi Dayang Sumbi sesegera mungkin.

Menghadapi sikap Sangkuriang yang keras kepala, akhirnya Dayang Sumbi mengatur siasat. Kesaktian Sangkuriang sangat hebat. Tidak mungkin jika Dayang Sumbi melawannya. Dayang Sumbi lalu mengajukan permintaan dibuatkan telaga dan perahu di puncak gunung. Tugas itu harus selesai dalam waktu semalam. Tanpa berpikir panjang, Sangkuriang menyanggupi permintaan Dayang Sumbi. Sangkuriang sangat yakin ia dapat mewujudkan permintaan Dayang Sumbi.

Dengan dibantu para jin Sangkuriang membuat telaga. Ribuan jin ia kerahkan malam itu. Ada yang menggali tanah, ada juga yang membuat perahu. Pasukan jin bergotong-royong melaksanakan tugas yang diberikan Sangkuring. Tidak berapa lama kemudian semua pekerjaan itu hampir selesai. Telaga sudah setengah jadi. Demikian juga perahu sedikit lagi selesai dibuat.

Melihat kenyataan demikian, Dayang Sumbi menjadi cemas. Ia tidak ingin menikah dengan anaknya sendiri. Ia panik dan berjalan mondar-mandir di dalam gubuk. Kemudian ia terbersit keinginan untuk membuat muslihat. Walau masih tengah malam ia membunyikan lesung hingga semua ayam yang mendengarnya berkokok. Para penduduk pun mendengar suara gaduh lesung ditabuh dan ikut terbangun serta segera menumbuk padi.

Para jin yang membantu Sangkuriang mengira hari sudah hampir pagi. Mereka menghentikan pekerjaannya membuat telaga yang belum selesai. Jin-jin itu segera kabur dari bukit tempat pengerjaan danau dan perahu. Mereka takut dengan sinar matahari. Sangkuriang marah karena ia tahu Dayang Sumbi sudah mencuranginya. Pemuda sakti ini menendang perahu yang dibuatnya, ketika telungkup ke bumi perahu itu berubah menjadi sebuah gunung.

Sesudah itu ia mendekat ke arah Dayang Sumbi. “Aku tak peduli, apapun yang terjadi kau harus menjadi istriku.” Sangkuriang berkata dengan menahan amarahnya.

“Sangkuriang, sadarlah! Kau adalah anakku sendiri!” pekik Dayang Sumbi sembari berlari menjauh.

Sangkuriang datang mengejar Dayang Sumbi. Blar! Tiba-tiba terdengar ledakan dahsyat. Tubuh Dayang Sumbi lenyap tanpa bekas. Sangkuriang berteriak-teriak seperti orang gila. Konon Nyi Dayang Sumbi diselamatkan oleh para dewa karena bagaimanapun para dewa tidak mengijinkan seorang anak mengawini ibunya sendiri. Dayang Sumbi dijadikan ratu makhluk halus di laut selatan dan masyarakat mengenalnya sebagai Nyi Roro Kidul.

Sementara itu perahu yang ditendang Sangkuriang lama-lama berubah menjadi bukit dan kemudian menjadi gunung yang besar. Gunung itu hingga sekarang dinamakan Gunung Tangkuban Parahu dan terletak di Provinsi Jawa Barat. Demikianlah kisah asal mula Gunung Tangkuban Parahu yang berasal dari kisah legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbi.

Amanat cerita rakyat legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbi adalah setiap anak harus berbakti kepada orang tua. Dayang Sumbi menolak dinikahkan oleh ayahnya sehingga ia dihukum dalam pengasingan dan menikahi seekor anjing. Demikian juga dengan Sangkuriang tidak tahu tata krama karena bersikeras ingin menikahi Dayang Sumbi yang tak lain adalah ibunya sendiri.

Semoga kisah asal-usul Gunung Tangkuban Parahu ini bisa memberi inspirasi bagi Anda. Sampai jumpa dalam artikel cerita rakyat Nusantara berikutnya hanya di blog The Jombang Taste!

Daftar Pustaka:

Rahimsyah, MB. 2007. Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara Lengkap dari 33 Provinsi. Bintang Usaha Jaya, Surabaya.

9 Replies to “Cerita Rakyat Jawa Barat: Legenda Sangkuriang, Dayang Sumbi dan Asal Usul Gunung Tangkuban Parahu”

  1. Sangkuriang adalah simbol anak durhaka yang tidak perlu ditiru. Orang tua harus menjelaskan ini kepada anak-anaknya. Jangan sampai mereka salah mencerna isi cerita rakyat.

  2. Pulau Jawa adalah gudangnya mistis dan kesaktian. Saya percaya pusat pemerintahan Indonesia sangat tepat berada di Jawa. Bahkan saya percaya Dayang Sumbi saat ini masih hidup dan menginspirasi gadis Sunda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *