Cerita Rakyat Kalimantan Barat: Dongeng Mak Dasah dan Asal Usul Batu Menangis

Cerita Rakyat Kalimantan Barat: Dongeng Mak Dasah dan Asal Usul Batu Menangis
Cerita Rakyat Kalimantan Barat: Dongeng Mak Dasah dan Asal Usul Batu Menangis

Cerita rakyat Nusantara menyajikan beragam warna budaya daerah. Legenda, dongeng, mitos, saga, maupun fabel dari Indonesia memiliki pesan moral yang kuat. Setelah membaca cerita legenda Keong Emas dari Jawa Timur, blog The Jombang Taste kembali hadir melalui cerita rakyat dari Kalimantan Barat yang berjudul asal-usul Batu Menangis. Bagaimana cerita lengkapnya? Berikut ini kisahnya.

Pada masa dulu di sebuah bukit hijau yang letaknya jauh dari pemukiman penduduk di daerah Kalimantan hiduplah seorang janda miskin dan seorang anak gadisnya. Janda itu bernama Mak Dasah sedangkan anak gadisnya bernama Jelita. Mereka tinggal di sebuah rumah kecil dan sederhana. Rumah itu adalah peninggalan suami Mak Dasah yang meninggal dunia sejak Jelita berumur satu tahun.

Gadis itu disebut jelita karena memang wajahnya cantik sekali. Jelita menjadi anak kesayangan ibunya. Demi cinta kasihnya pada sang anak, Mak Dasah walau sudah agak tua tapi rela bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pekerjaan Mak Dasah mencari kayu bakar di hutan kemudian ia jual ke perkampungan warga di kaki bukit. Kegiatan itu Mak Dasah lakukan setiap hari.

Selain itu, Mak Dasah juga merawat belasan pohon pisang bekas peninggalan suaminya. Namun pohon pisang itu tidak berbuah setiap saat. Jika pohon pisang berbuah ia akan menjualnya ke perkampungan penduduk yang jaraknya puluhan kilometer dari tempat tinggalnya. Itulah cara Mak Dasah menghidupi dirinya dan Jelita.

Semakin hari Si Jelita semakin bertambah dewasa. Kecantikannya semakin tampak mempesona siapa saja pria yang ditemuinya. Sementara itu Mak Dasah si janda bertambah tua. Tapi sayang sekali si Jelita yang sangat dikasihi oleh ibunya itu berkelakuan buruk. Pohon pisang yang jumlahnya enam belas batang tak pernah ditengoknya. Ia lebih suka berias diri di dalam kamar. Ia tidak mau bekerja karena khawatir kuku-kukunya yang lentik dapa rusak oleh pekerjaan kasar.

Jelita adalah gadis pemalas. Angin yang membawa debu dan daun-daun kering ke dalam rurnahnya ia biarkan saja. Jangankan halaman rumah, dinding dan lantai kamarnya sendiri ia tak mau mernbersihkannya. Ia selalu menunggu ibunya membersihkan semua isi rumah. Baginya, kecantikannya adalah yang utama.

Selain pemalas, anak gadis itu sikapnya manja sekali. Segala perrnintaannya harus dituruti. Setiap kali ia meminta sesuatu kepada ibunya maka harus dikabulkan, tanpa rnemperdulikan keadaan ibunya yang miskin dan setiap hari harus rnembanting tulang mencari sesuap nasi.

Gadis Jelita Acuhkan Ibunya

Lalu pada suatu hari Jelita berkata kepada ibunya. “Mak hari ini engkau harus belikan aku baju yang baru dan indah.”

“Lho? Bajumu kan sudah banyak, masih banyak yang baru juga?” kata Mak Dasah menyahuti ucapan Jelita.

“Alaaaah! Jangan banyak cakap, bajuku memang banyak tapi sudah ketinggalan jaman, aku ingin model yang baru,” ujar Jelita dengan nada tinggi.

“Tapi nak, ibu tidak punya uang yang cukup untuk membelikanmu baju baru lagi. Bukankah sebulan yang lalu kau sudah kubelikan baju yang cukup mahal?” Mak Dasah kembali berkata dengan nada lemah.

“Kalau Mak sayang kepadaku, turutilah kemauanku.” Jelita memungkasi percakapan sore itu lantas masuk ke dalam kamar.

Mau tidak mau, Mak Dasah akhirnya mengambil semua simpanan uangnya dan esok harinya rnereka berangkat ke pasar yang jaraknya sangat jauh dari rumah mereka. Sebenarnya uang simpanan itu digunakan untuk keperluan-keperluan yang mendesak, seperti ketika Jelita sakit dan lain-lain. Namun kali ini Mak Dasah menggunakan uang itu dengan sangat terpaksa. Apalagi kalau bukan demi memenuhi permintaan Jelita, anaknya yang sangat manja itu.

Jarak rumah dan pasar desa amat jauh, sehingga mereka harus berjalan kaki yang cukup melelahkan. Mak Dasah dan Jelita berangkat menuju pasar. Jelita berjalan melenggang dengan memakai pakaian yang bagus, dan bersolek agar orang-orang di jalan yang melihatnya nanti akan mengagumi kecantikannya. Anak gadis itu berjalan di depan dan tidak mau berjalan berdampingan dengan ibunya.

Sementara Mak Dasah berjalan di belakang Jelita sambil membawa keranjang dengan pakaian yang sangat dekil. Sungguh pemandangan yang sangat berkebalikan antara ibu dan anak. Karena mereka hidup di tempat yang terpencil, tak seorangpun mengetahui bahwa kedua perempuan yang sedang berjalan itu adalah ibu dan anak.

Ketika mereka berdua mulai memasuki desa, orang-orang desa memandangi mereka lebih dekat. Mereka begitu terpesona melihat kecantikan anak gadis itu, terutama para pemuda desa yang tak puas-puasnya memandang wajah gadis itu. Pakaian gadis itu sangat indah dan membungkus tubuh Jelita yang berwajah cantik. Jelita tampak seperti bidadari yang baru turun dari kayangan.

Namun kelika melihat orang yang berjalan di belakang anak gadis itu, sungguh berlawanan keadaannya. Hal itu membuat orang bertanya-tanya. Aneh sekali si gadis berwajah sangat cantik dan pakaiannya luar biasa indahnya tapi wanita di belakangnya berpakaian kumal dan bertambal-tambalan. Mereka ingin tahu apakah keduanya memiliki hubungan anak dan ibu ataukah orang lain yang kebetulan berjalan bersama.

“Hei, lihatlah! Mengapa wanita itu berjalan di belakang si gadis? Padahal wajahnya mirip sekali dengan si gadis, tidak mungkin wanita tua itu pembantunya……” ujar salah satu pemuda yang berada di sisi jalan.

Sementara itu pemuda yang lain menimpali, “Kawan….jangan berburuk sangka, siapa tahu wanita itu memang pembantu yang mengawal si gadis.”

Demikian kejadiannya. Penduduk melihat keduanya dengan heran. Kasak-kusuk pembicaraan terjadi diantara mereka. Ada yang bicaranya berbisik-bisik hampir tidak terdengar, ada juga yang berkata dengan lantang lantas mencibir keduanya.

Untuk menjawab rasa penasarannya, di antara orang yang melihatnya itu, seorang pemuda mendekat dan bertanya kepada gadis itu. “Hai, gadis cantik menawan hati. Apakah wanita yang sedang berjalan di belakang itu ibumu?”

Namun, apa jawaban anak gadis itu?

“Bukan!” katanya dengan angkuh. “Ia adalah pembantuku!” lanjut Jelita.

Mak Dasah mendengar percakapan mereka berdua. Ia diam saja. Namun sesungguhnya ia sakit hati tidak diakui sebagai ibu. Kedua ibu dan anak itu kemudian meneruskan perjalanan dengan berjalan agak berjauhan. Jelita masih khawatir kalau ada orang yang tahu ia memiliki ibu tua dan miskin.

Tak seberapa jauh mereka berjalan, mendekat lagi seorang pemuda dan bertanya kepada Jelita.

“Hai gadis manis, siapa namamu?” ujar pemuda tidak dikenal itu.

“Oh, abang tampan… Namaku Jelita.” Jawab Jelita dengan manja.

“Nama yang cocok benar dengan pemiliknya.” Pemuda itu memuji Jelita.

“Memangnya kenapa bang?” tanya Jelita.

“Wajahmu cantik jelita…!” sekali lagi pemuda itu merayunya.

“Apakah yang berjalan di belakangmu itu ibumu?” lanjut pemuda itu bertanya.

“Bukan bukan,” jawab gadis itu dengan mendongakkan kepalanya.

“Ia adalah budakku!” lanjut Jelita menjelaskan.

Begitulah setiap kali gadis itu bertemu dengan seseorang di sepanjang jalan yang menanyakan siapa wanita yang berjalan di belakangnya, selalu jawabannya itu. Jelita malu mengakui Mak Dasah sebagai ibunya. Wajahnya cantik dan bajunya bagus, ia tidak mau mengotori semua itu dengan anggapan memiliki ibu miskin. Ibunya diperlakukan sebagai pembantu atau budaknya.

Kutukan Mak Dasah Untuk Jelita

Pada mulanya saat Mak Dasah mendengar jawaban putrinya yang durhaka jika ditanya orang, si ibu penyayang anak itu masih dapat menahan diri. Ia tidak mau menghardik Jelita di hadapan banyak penduduk. Barulah ketika Mak Dasah dan Jelita berjalan di tempat yang sepi, Mak Dasah bertanya kepada anaknya.

“Anakku, mengapa kau menyebutku sebagai pembantumu? Aku kan ibumu,” ucap Mak Dasah memperingatkan Jelita.

“Ibu tenang saja, ini hanya sekedar berpura-pura, aku tidak bersungguh-sungguh mengangagap ibu sebagai pembantuku,” jawab Jelita enteng

“Tapi sudah tiga kali ini kau menyebutku sebagai budak, aku tak ingin kau melakukannya lagi,” Tegas Mak Dasah kepada Jelita.

“Emak…. ini kan hanya pura-pura!” Jelita masih berusaha berkilah.

Begitulah percakapan yang terjadi diantara ibu dan anak itu. Mak Dasah hanya bisa mengelus dada menahan sakit hati atas perlakuan putri tunggalnya itu. Mereka berdua meneruskan perjalanan menuju pasar yang dituju. Hingga suatu ketika ada seorang pernuda yang sangat tampan datang mendekati si Jelita.

“Hai cantik, siapa namamu?” sapa sang pemuda tampan.

“Namaku Jelita, bang.” Jawab Jelita dengan nada suara yang dilembut-lembutkan.

“Serasi benar nama dan wajahmu, duhai gadis cantik jelita…!” Pemuda itu menjawab dengan tatapan mata kagum.

“Lalu, apakah yang berjalan di belakangmu itu ibumu?” pemuda itu kembali bertanya.

“Bukan, bukan! Dia bukan ibuku,” jawab gadis itu dengan suara lantang.

“Ia adalah budakku.” Lanjut Jelita sambil mendongakkan kepalanya.

Sekali lagi, Mak Dasah masih bisa menahan diri. Ia mencoba memperingatkan anaknya lagi. Namun tak berapa lama kemudian mereka berjalan dan bertemu lagi dengan seorang pernuda tampan. Jelita kembali menyebut Mak Dasah sebagai pembantunya. Sesungguhnya ia malu mengakui Mak Dasah sebagai ibunya. Kini sang ibu tak bisa bersabar lagi. Mak Dasah sudah sangat sakit hati atas penghinaan anaknya itu.

“Jelita anakku, kau sungguh kelewat batas, kau durhaka berkali-kali menyebut ibumu sebagai budakmu. Padahal aku yang merawat dan membesarkanmu sejak kecil. Teganya kau berbuat seperti itu?” ujar Mak Dasah dengan berurai air mata.

“Emak…! Kenapa Emak marah. Percayalah ini hanya sekedar pura-pura. Sandiwara ini akan selesai nanti setelah pulang dari pasar membeli baju yang baru dan indah. Jika bertemu dengan pemuda tampan maka aku akan mengakui Emak sebagai ibuku,” ucap Jelita berusaha meyakinkan ibunya.

“Tidak! Kau terlalu menyakitkan hatiku, bagaimanapun keadaan Emak seharusnya kau mau mengakuiku sebagai ibumu.” Mak Dasah kembali menasehati Jelita.

“Nanti Mak, kalau sudah beli baju baru.” Jelita masih bersikukuh dengan kemauannya.

Sang ibu tak bisa menahan diri lagi. Sudah bertahun-tahun ia diam atas perbuatan durhaka anaknya kepadanya. Sudah lama ia menasehati Jelita namun tetap saja anak manja itu berlaku kasar kepadanya. Ia tak mau berdebat lagi dengan anaknya lalu ia berdo’a kepada Tuhan.

“Ya, Tuhan, hamba tak kuat menahan hinaan ini. Anak kandung hamba begitu teganya memperlakukan diri hamba sedemikian rupa. Ya, Tuhan hukumlah anak durhaka ini! Hukumlah dia!” ujar Mak Dasah.

Doa Mak Dasah terkabulkan. Atas kuasa Tuhan Yang Maha Esa, perlahan-lahan tubuh gadis durhaka itu berubah menjadi batu. Perubahan ku dimulai dari kaki. Ketika perubahan itu telah mencapai setengah badan, anak gadis itu menangis rnemohon ampun kepada ibunya.

“lbu… Ibu… Ampunilah saya, ampunilah kedurhakaan anakmu selama ini. Ibu… ibu… ampunilah anakmu,” ratap Jelita.

Anak gadis yang berperilaku durhaka itu terus meratap dan menangis memohon ampun kepada ibunya. Akan tetapi, semuanya sudah terlambat. Seluruh tubuh gadis itu akhirnya berubah menjadi batu.

Sekalipun telah menjadi batu, namun orang dapat melihat bahwa kedua matanya masih menitikkan air mata, seperti sedang menangis. Oleh karena itu batu yang berasal dari gadis yang mendapat kutukan ibunya itu disebut Batu Menangis. Demikianlah cerita asal-usul Batu Menangis yang berbentuk legenda ini terjadi. Masyarakat di provinsi Kalimantan Barat mempercayai bahwa kisah itu benar-benar pernah terjadi.

Amanat cerita rakyat legenda Batu Menangis ini adalah barangsiapa yang mendurhakai ibu kandung yang telah melahirkan dan membesarkannya, pasti perbuatan laknatnya itu akan mendapat hukuman dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Terimalah keadaan orang tua kita apa adanya tanpa harus berpura-pura agar terlihat lebih cantik dan kaya. Semoga pesan moral cerita legenda Batu Menangis ini bisa memberi manfaat untuk Anda.

Daftar Pustaka:

Rahimsyah, MB. 2007. Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara Lengkap dari 33 Provinsi. Bintang Usaha Jaya, Surabaya.

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

3 thoughts on “Cerita Rakyat Kalimantan Barat: Dongeng Mak Dasah dan Asal Usul Batu Menangis”

  1. Anak durhaka makin banyak saja. Semoga cerita ini bisa menyadarkan para gadis agar tdk berperilaku konsumtif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *