Cerita Rakyat Nusa Tenggara Timur: Dongeng Suri Ikun dan Dua Ekor Burung

Cerita Rakyat Nusa Tenggara Timur: Dongeng Suri Ikun dan Dua Ekor Burung
Cerita Rakyat Nusa Tenggara Timur: Dongeng Suri Ikun dan Dua Ekor Burung

Indonesia memiliki banyak kisah legenda dan dongeng yang menarik untuk disimak. Cerita legenda Batu Golog dari Provinsi Nusa Tenggara Barat adalah salah satu jenis cerita motivasi untuk para orang tua, sama halnya dengan kisah dongeng Keong Emas yang terusir dari istananya sendiri karena fitnah ibu tiri. Blog The Jombang Taste hadir kembali dengan cerita rakyat dari Nusa Tenggara Timur (NTT) mengenai dongeng Suri Ikun yang menolong dua ekor burung.

Di sebuah wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Timur pada masa dahulu ada sepasang suami istri yang memiliki banyak anak. Jumlah anak-anaknya adalah empat belas orang anak. Masing-masing ada tujuh anak lelaki dan tujuh anak perempuan. Mereka semua disayang oleh keluarga tersebut dengan sama rata. Suami istri itu mempunyai kebun yang cukup luas di Pulau Timor dan dari kebun itulah mereka dapat hidup. Anak-anak itu secara bergantian membantu orang tua mereka bekerja di kebun.

Salah satu di antara tujuh anak laki-laki yang mereka miliki bernama Suri Ikun. Suri Ikun adalah anak yang baik. Suri Ikun berperilaku jujur, suka menolong orang lain, dan selalu berbakti kepada kedua orang tua. Suri Ikun juga sering membantu ketujuh saudara perempuannya bekerja di dapur.

Karena sifat-sifat baiknya itulah Suri Ikun sangat disayang oleh kedua orang tua. Bahkan ketujuh saudara perempuannya juga turut menyayangi Suri Ikun dengan tulus. Berbeda dengan Suri Ikun, keenam saudara laki-lakinya berperilaku sangat pemalas dan penakut. Mereka berenam jarang membantu orang tua mereka di kebun. Mereka akan mau membantu jika diberi imbalan yang berlebih. Enam bersaudara itu lebih suka bermain, tidur dan makan dengan rakus.

Bencana Serangan Babi Hutan

Hingga pada suatu hari, sekumpulan babi hutan datang menyerang kebun milik suami-istri tersebut. Serangan babi hutan itu membuat panen gagal dan banyak tanaman yang rusak. Sayuran yang siap panen terinjak-injak babi hutan. Daun-daun pun tidak tampak segar lagi karena sudah tercerai dari batang pohon. Dalam waktu sekejap, kehadiran sekelompok babi hutan itu menghasilkan bencana bagi keluarga Suri Ikun.

Suami istri petani itu memandang kebunnya dengan sedih dan bingung. Jika panen gagal terus, lalu bagaimana ia dapat menghidupi anak-anaknya yang banyak itu. Suri Ikun tidak patah semangat. Ia menyarankan ayahnya untuk menanam lagi sayuran di kebun yang luas itu. Suri Ikun juga memberi saran agar semua anak lelaki bergantian menjaga kebun setiap malam. Sang ayah merasa senang atas gagasan itu. Sang ayah bangga Suri Ikun mau bekerja keras untuk kepentingan keluarga.

Sang ayah berpikir tujuh anak lelaki itu sudah cukup untuk bergantian menjaga kebunnya selama seminggu sekali. Tetapi keenam anak lelaki itu bukannya senang dengan keputusan sang ayah. Mereka malah merasa geram dan marah karena ada tugas tambahan yang melelahkan. Dasar mereka pemalas dan penakut, keenam anak itu selalu mencari cara untuk mengelak dari tugas berkebun. Mereka tidak mau bekerja keras untuk menghidupi keluarga. Tetapi bagaimana lagi, gagasan itu harus dilaksanakan demi kelangsungan hidup seluruh keluarga.

Akhirnya, mau tidak mau ketujuh anak lelaki itu harus menjaga kebun milik ayah mereka secara bergantian. Karena merasa takut terhadap babi hutan, keenam saudara laki-laki itu mengatur siasat agar Suri Ikun yang selalu menjaga kebun ayahnya. Mereka berenam pun mulai berunding. Tak berapa lama kemudian, mereka sudah sepakat untuk mengakali Suri Ikun.

“Suri Ikun, engkau tahu kan kalau aku tidak pandai memanah. Jadi sebaiknya malam ini kau saja yang menjaga kebun kita,” ucap kakaknya.

Tanpa berpikir bahwa ia telah diperdaya, Suri Ikun menuruti keinginan kakaknya. Hari berganti hari, keenam kakaknya tetap mengajukan alasan yang serupa agar terhindar dari kewajiban menjaga kebun. Akhirnya, Suri lkun juga yang harus menjaga kebun setiap malam. Suri Ikun pun melakukan tugas kakak-kakaknya dengan ikhlas dan tanpa merasa curiga sedikitpun.

Sampai pada suatu hari, Suri Ikun berhasil memanah babi hutan yang hendak merusak kebun miliknya. Ia membawa daging buruannya ke rumah. Suri Ikun berharap daging babi itu dapat dimasak dan dimakan bersama. Betapa liciknya keenam kakak lelakinya, mereka membagi daging babi hutan itu hanya untuk mereka, sedangkan Suri Ikun hanya disisakan bagian kepalanya saja.

“Aku tidak suka makan daging babi hutan. Kalian boleh makan semua bagianku,” ucap Suri Ikun mengalah.

Keenam kakak lelakinya hanya tertawa melihat adik mereka tidak mendapatkan bagian apa-apa. Suri Ikun yang baik hati dan suka membantu semakin disayang oleh kedua orangtuanya. Keadaan ini menimbulkan rasa iri di hati keenam kakak lelakinya. Mereka merencanakan niat jahat untuk menyingkirka Suri Ikun.

Salah seorang kakak lelakinya membujuk Suri Ikun untuk pergi berburu ke hutan. Mereka ingin mencelakai Suri Ikun dengan mengumpankan Suri Ikun kepada hantu-hantu hutan di pinggiran desa yang suka memakan manusia. Tanpa rasa curiga sedikit pun, Suri Ikun memenuhi ajakan keenam kakaknya. Mereka bertujuh berangkat berburu ke hutan sejak siang sampai sore hari.

Hari sudah mulai malam, ketujuh saudara laki-laki itu masih terus melanjutkan perjalanan masuk ke dalam hutan yang angker. Lalu pada sebuah jalan berbelok, Suri Ikun diam-diam ditinggal oleh keenam kakaknya di dalam hutan. Suri Ikun tidak sadar jika ia berjalan sendirian di dalam hutan. Namun itu tak lama. Saat ia menoleh, ia baru tahu kalau saat itu ia di dalam hutan sendiri. Ia berteriak-teriak memanggil kakak-kakaknya.

“Kakak….. kakak …! Di mana kalian?” teriak Suri Ikun di tengah gelapnya hutan-rimba.

Untuk beberapa lama, Suri Ikun terus berusaha mencari tahu keberadaan kakak-kakaknya. Ia tidak tahu jalan pulang ke rumah. Ia terus saja berjalan di dalam hutan itu. Ia tak henti-hentinya memanggil-manggil kakaknya.

Manfaat Menolong Dengan Ikhlas

Setiap kali Suri Ikun berteriak memanggil nama kakak-kakaknya, hantu hutan yang selalu menjawabnya sehingga Suri Ikun semakin tersesat di dalam hutan.

“Kakak! Engkau dimana?” ucap Suri Ikun dengan lantang.

“Aku disini. Di depanmu,” jawab hantu hutan menirukan suara kakaknya.

Begitulah seterusnya. Hantu hutan selalu mengecoh Suri Ikun. Karena tak tahu jalan pulang, maka mudah saja bagi hantu hutan untuk menangkapnya. Hap! Dengan sekali tangkap, tubuh Suri Ikun sudah dibuat tidak berdaya oleh hantu hutan. Tapi karena tubuh Suri Ikun yang kurus, kecil, dan banyak tulangnya, hantu hutan pun mengurungkan niat mereka untuk memakan Suri Ikun.

Hantu-hantu hutan itu kemudian menyembunyikan Suri Ikun di dalam sebuah gua. Suri Ikun selalu diberi makan oleh hantu hutan. Hantu hutan berharap tubuh Suri Ikun menjadi gemuk dan besar sehingga enak dimakan. Suri Ikun mendapatkan makanan dan minuman yang cukup selama ia tinggal di dalam gua.

Pada suatu hari Suri Ikun sedang asyik duduk di dalam gua, tiba-tiba datang dua ekor burung kecil ke pangkuan Suri Ikun. Kedua burung kecil itu tampak berduka dan hampir mati. Kedua burung kecil itu tampak bersedih karena terperangkap di dalam gua gelap tanpa cahaya. Kedua burung itu terlihat lemas akibat terperangkap di gua sekian lama. Kaki burung itu pun tampak terluka. Suri Ikun memberinya makan biji-bijian yang ia punya.

Suri Ikun mengobati kedua burung kecil itu dengan kasih sayang. Ia merawat dua ekor burung kecil itu sampai sehat dan sembuh dari lukanya. Setiap hari burung itu diberinya makan. Hari demi hari terlewati. Dua ekor burung itu semakin sehat. Ketika kedua burung tersebut sudah sembuh dan menjadi burung yang besar dan kuat, kedua burung itu membalas budi kepada Suri Ikun.

“Kamu pasti manusia baik. Dan kamu pasti ingin keluar dari gua ini,” salah satu burung membuka percakapan.

“Benar. Aku ingin keluar dari sini,” jawab Suri Ikun.

“Mari, kami ajak kamu pergi ke suatu tempat yang sangat indah,” ucap burung yang kedua.

“Tempat apakah itu?” tanya Suri Ikun.

“Ikuti saja kami!” kata salah satu burung itu.

Suri Ikun memperhatikan keadaan sekelilingnya. Setelah memastikan tidak ada hantu hutan yang melihatnya, ia mulai melangkahkan kaki keluar dari gua di tengah-tengah hutan itu. Kedua burung itu membawa Suri Ikun keluar dari hutan. Salah satu burung terbang rendah di samping Suri Ikun.

“Naiklah ke atas punggungku!” ucap burung itu.

Suri Ikun menuruti perintah burung itu. Akhirnya, ia bebas dari cengkeraman hantu-hantu hutan yang hendak memangsanya. Kedua burung itu membawa Suri Ikun terbang melewati bukit-bukit dan lautan. Pemandangan dari atas angkasa sungguh terlihat sangat indah. Suri Ikun bahagia bisa diajak terbang burung itu.

Setelah beberapa waktu terbang di udara, kedua burung itu membawa Suri Ikun mendarat ke sebuah istana yang sangat indah dan megah.

“Karena kau berhati mulia maka kami menghadiahkan istana berikut isinya ini kepadamu,” kata burung itu.

Betapa bahagianya Suri Ikun mendapatkan hadiah itu. Karena bukan hanya istana megah dan indah yang ia dapatkan, tetapi ia juga mendapat seorang permaisuri yang cantik dan para pengawal yang gagah berani. Rakyat di negeri itu pun sangat ramah dan baik hati. Selanjutnya, Suri Ikun memimpin negeri itu dengan adil dan bijaksana. Tak lupa, ia juga mencari keberadaan kedua orang tua dan tiga belas orang saudaranya untuk diajak tinggal serta di dalam istana.

Demikian cerita rakyat NTT mengenai dongeng Suri Ikun dan dua burung yang ditolongnya. Amanat cerita rakyat Nusa Tenggara Timur ini adalah kebaikan dan kejujuran akan menjadi pertolongan ketika kita ditimpa permasalahan. Kebaikan Suri Ikun yang dilakukan dengan tulus dan ikhlas mampu mengetuk hati dua ekor burung untuk membawanya ke tempat yang lebih baik daripada tempat tinggalnya.

Semoga cerita rakyat dari NTT ini bisa memberi inspirasi bagi Anda dalam kehidupan. Nantikan terus seri cerita rakyat Nusantara hanya di blog The Jombang Taste.

Daftar Pustaka:

Rahimsyah, MB. 2007. Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara Lengkap dari 33 Provinsi. Bintang Usaha Jaya, Surabaya.

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

3 thoughts on “Cerita Rakyat Nusa Tenggara Timur: Dongeng Suri Ikun dan Dua Ekor Burung”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *