Cerita Rakyat Sulawesi Utara: Dongeng Sigarlaki dan Limbat dari Tondano

Cerita Rakyat Sulawesi Utara Dongeng Sigarlaki dan Limbat dari Tondano
Cerita Rakyat Sulawesi Utara Dongeng Sigarlaki dan Limbat dari Tondano

Halo blogger Jombang dan pembaca dimanapun Anda berada! Jumpa lagi dengan blog The Jombang Taste yang masih berkisah mengenai cerita rakyat Nusantara. Pada artikel terdahulu sudah kita bahas Legenda Asal Usul Putri Duyung dan Legenda Si Kembar Sawerigading-We Tenriyabeng. Berikut ini cerita rakyat Sulawesi Utara yang berkisah mengenai dongeng Sigarlaki dan Limbat. Selamat membaca.

Pada jaman dahulu hidup seorang pemburu yang bertubuh perkasa dan bernama Sigarlaki. Sigarlaki tinggal di daerah Tondano, Provinsi Sulawesi Utara. Sigarlaki terkenal memiliki keterampilan menombak yang hebat. Sesulit apa pun sasarannya, dia bisa menombaknya dengan tepat. Pekerjaannya setiap hari adalah berburu binatang di hutan. Hasil dari perburuan itu bukan hanya ia makan sendiri, tetapi juga ia jual ke pasar.

Sigarlaki memiliki seorang pelayan yang sangat setia dan bernama Limbat. Bila Sigarlaki menyuruhnya melakukan sesuatu, pasti Limbat dapat mengerjakan dengan baik. Limbat menjadi orang kepercayaan Sigarlaki. Setiap kali Sigarlaki berburu di hutan, Limbat selalu diajak serta. Keduanya menjadi pasangan pemburu yang ditakuti oleh setiap binatang di hutan.

Sigarlaki Menuduh Limbat Pencuri

Pada suatu hari, Sigarlaki dan Limbat berburu ke hutan. Namun hasil tangkapan kali ini tidak seperti biasanya. Sudah lama mereka berdua berburu, namun tidak ada seekor binatang pun yang tampak di hadapan. Sigarlaki begitu kesal dengan kenyataan itu. Kekesalannya semakin memuncak tatkala Limbat melaporkan bahwa daging persediaan mereka di rumah hilang dicuri orang.

Mendengar laporan Limbat tersebut, Sigarlaki tidak mencoba melakukan penyelidikan. Sebaliknya, Sigarlaki malah menuduh Limbat sebagai pencurinya. Dituduh sebagai pencuri, Limbat pun merasa sakit hati. Limbat benar-benar tidak mencuri namun dianggap sebagai pengkhianat. Oleh Sigarlaki, Limbat sebagai tertuduh harus membuktikan bahwa ia tidak bersalah.

Sigarlaki membuat aturan main sendiri. Sigarlaki akan menancapkan tombaknya ke dasar kolam, kemudian ia menyuruh Limbat menyelam ke dasar kolam itu. Kalau tombak itu lebih cepat muncul ke permukaan, artinya Limbat tidak mencuri daging milik Sigarlaki. Namun, bila Limbat yang terlebih dulu keluar dari kolam, berarti ia adalah pencurinya.

Aturan yang sangat aneh dan memojokkan Limbat. Timbul rasa takut dalam diri Limbat mendengar aturan yang tidak biasa itu. Namun ia harus menjaga kehormatan dirinya. Limbat pun dengan terpaksa menerima peraturan itu. Lalu ia menyelam secepat tombak ke dasar kolam. Sigarlaki menghunjamkan tombaknya ke dasar kolam.

Hukuman Tukang Fitnah

Namun saat itu ada kejadian aneh. Belum lama Sigarlaki menancapkan tombak, seekor babi hutan minum di kolam. Ditariknya kembali tombak dan dilontarkan ke arah babi hutan itu. Sayang, tombak itu tidak mengenai sasaran. Babi hutan itu berhasil kabur. Sesuai aturan yang dibuat Sigarlaki, seharusnya Limbat sudah bebas dari segala tuduhan. Namun, Sigarlaki meminta pembuktian ulang.

Limbat sebenarnya keberatan dengan hal tersebut, tapi apalah dayanya, ia hanya seorang pelayan. Sekali lagi ia menerima peraturan Sigarlaki. Tiba saatnya pembuktian kedua. Ketika Sigarlaki menancapkan tombaknya ke kolam, seekor kepiting besar menggigit kakinya. Ia berteriak kesakitan dan dengan spontan tombak itu diangkatnya.

Dengan demikian, Limbat pun terbebas dari segala tuduhan Sigarlaki yang tidak beralasan. Sigarlaki tidak dapat mengulanginya lagi. Kakinya terluka akibat digigit kepiting besar. Selama berbulan-bulan ia tidak dapat lagi berburu karena kakinya sakit. Itulah balasan bagi orang yang mudah menuduh orang lain melakukan kejahatan. Kaki Sigarlaki memperoleh kesembuhan lagi setelah Limbat memaafkan kesalahannya.

Demikian kisah dongeng Limbat dan Sigarlaki dari Sulawesi Utara. Amanat cerita rakyat dari Tondano mengenai Sigarlaki dan Limbat adalah kita tidak boleh menuduh orang lain tanpa bukti. Menuduh tanpa bukti sama halnya dengan menyebarkan fitnah bagi orang lain. Perilaku jahat selalu mendapatkan hukuman yang lebih buruk dari kelakuannya. Sebaliknya, orang yang berbuat baik pada akhirnya akan hidup bahagia.

Semoga cerita rakyat dari Sulawesi Utara ini bisa memberi inspirasi bagi Anda dalam berbuat baik kepada sesama. Sampai jumpa di artikel cerita rakyat The Jombang Taste berikutnya.

Daftar Pustaka:

Rahimsyah, MB. 2007. Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara Lengkap dari 33 Provinsi. Bintang Usaha Jaya, Surabaya

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

3 thoughts on “Cerita Rakyat Sulawesi Utara: Dongeng Sigarlaki dan Limbat dari Tondano”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *