Kisah Heroik Sultan Agung dari Kerajaan Mataram Mengusir VOC dari Batavia

Asal-usul Kerajaan Pulau Majeti dan Legenda Ki Selang Kuning
Asal-usul Kerajaan Pulau Majeti dan Legenda Ki Selang Kuning

Kesultanan Demak digantikan oleh Pajang sebagai kerajaan Islam yang berkuasa. Tetapi Kerajaan Pajang tidak berdiri lama. Seorang bupati Mataram bernama Sutawijaya tampil ke depan. Ia menggulingkan Pajang. Pada tahun1586 Sutawijaya mendirikan Mataram. Ia terkenal dengan sebutan Senopati yang memerintah mulai tahun 1586 sampai dengan tahun 1601.

Raja Mataram yang terbesar adalah Sultan Agung. Ia memerintah dari tahun 1613 sampai dengan tahun 1645. Sultan Agung adalah raja yang cerdas. Ia luas pandangannya. Ia mempunyai sikap yang gagah seperti singa. Ia juga seorang raja yang teliti.

Sultan taat pada ajaran-ajaran agama. Tiap hari Jum’at ia sembahyang di mesjid bersama pembesar-pembesar Mataram lainnya. Pada hari Grebeg Besar, Sultan selalu berada di masjid dengan didampingi para alim-ulama.

Mula-mula Sultan Agung sibuk sekali.Banyak tugas harus diselesaikan.Negara Mataram baru saja berdiri. Wilayahnya belum luas. Raja-raja sebelum Sultan Agungmemang berhasil meluaskan daerahnya. Tetapi ketika Sultan Agung menjadi raja, daerah-daerah itu lepas lagi. Terutama daerah-daerah pesisir.

Kabupaten-kabupaten di pantai Jawa Tengah, Jawa Timur dan Madura tidak mau mengakui Sultan Agung sebagai raja. Mereka bersatu di bawah pirnpinan bupati Surabaya, yaitu Pangeran Pekik. Mereka tidak mau mendengarkan perintah-perintah Sultan Agung. Mereka bertindak sendiri-sendiri.

Selain itu, ada lagi musuh di tepi sungai Ciliwung. Mereka adalah orang-orang Belanda. Sebagaimana orang-orang Portugis, orang-orang Belanda juga pelayar. Mereka pedagang dan pelaut yang ulung. Mereka melihat keuntungan yang diperoleh orang-orang Portugis.

Ancaman VOC

“Alangkah banyaknya keuntungan disana! Baiklah kita pergi juga ke Indonesia,” demikian pikir orang-orang Belanda.

Mereka lalu berlayar. Mereka tiba di Banten pada tahun 1596. Mereka mendirikan loji dan benteng di tepi sungai Ciliwung pada tahun 1619. Kota Jayakarta dibakar. Belanda mendirikan kota baru bernama Batavia. Maka dimulailah masa penjajahan Belanda di Indonesia!

Belanda mendirikan perusahaan dagang yang dinamakan VOC. Kepala VOC disebut gubernur jenderal. Pada jaman Sultan Agung, yang menjadi gubernur jenderal VOC adalah Jan Pieterszoon Coen. Apakah maksud Belanda sebenarnya? Sudah jelas, Belanda tidak merasa cukup dengan Batavia. Ia akan meluaskan daerahnya di seluruh Indonesia. Belanda akan menguasai perdagangan Nusantara.

Belanda membuat peraturan bahwa bangsa Inggris, Spanyol dan Portugis tidak boleh berdagang dengan Indonesia. Cara dagang demikian dinamakan monopoli. Akibatnya amat menyusahkan bagi Indonesia. Perdagangan, pelayaran dan keamanan negara kita akan mundur.

Sultan Agung sadar benar akan bahaya yang mengancam Mataram. Tetapi untuk cepat-cepat menyerang Belanda, tentu tidak bijaksana. Sultan berusaha dulu memperkuat Kerajaan Mataram.

Sultan Agung berkata, “Kerajaan Matararn harus bersatu dulu. Seluruh daerah pesisir hendaknya kembali dapat kita kuasai”.

Pada tahun 1616, Sultan Agung mulai menyerang Lasem. Letaknya di tepi pantai dekat Rembang. Bupati Lasem bertahan. Tetapi akhirnya menyerah juga. Enam tahun kemudian Sultan Agung mengadakan serangan-serangan sekaligus. Sasarannya kota-kota Tuban, Gresik dan Pasuruan. Ketiga bandar ini penting sekali. Barang siapa menguasainya, pasti menguasai Selat Madura.

Serangan-serangan ini hanyalah permulaan. Tujuan yang sebenarnya adalah Surabaya. Adipati Surabaya, Pangeran Pekik tidak mau tunduk. Berkali-kali Sultan Agung mengirim utusan-utusan untuk berunding. Tetapi Pangeran. Pekik tidak mau me-nyerah. Sultan Agung terpaksa mengirimkan angkatan perang-nya. Sungguh sulit untuk menaklukkan Surabaya. Sultan Agung tidak boleh tergesa-gesa.

Usaha Mengusir VOC

Didepan para menteri dan perwira, Sultan Agung berkata, “Surabaya adalah daerah yang sungguh-sungguh jangan di pandang ringan. Perhatikanlah. Surabaya itu ibarat sebuah pohon yang kuat. Apabila langsung kita tebang pada batangnya, tentu banyak tenaga yang harus dikerahkan. Lagi pula tidak membawa manfaat besar, sebab sebentar lagi dari pangkal pohon itu akan keluar tunas-tunas yang banyak dan lebih muda. Sungguh pekerjaan sia-sia, bilamana kita berbuat tergesa-gesa.”

“Cobalah perhatikan lagi! Pohon besar ini mendapat sumber makanan dari akar-akar yang amat banyak dan bercabang-cabang. Sumber-sumber makanannya didapat melalui pelabuhan-pelabuhan Tuban, Gresik, Pasuruan, Pulau Madura, bahkan Sukadana di Kalimantan Selatan. Jadi, potonglah dulu akar-akar itu dan pohon itu akan layu dan kering. Akhirnya dengan mudah dapat kita tumbangkan,” lanjut Sultan Agung lagi.

Itulah sebabnya Sultan Agung menyerang pelabuhan-pelabuhan Tuban, Gresik; Pasuruan dan Madura. Ketika Tuban jatuh, pasukan Mataram merampas banyak gajah. Bupati Tuban memang mempunyai banyak gajah.

Menaklukkan Surabaya

Sultan Agung juga mengirim armada ke Sukadana. Armada ini dipimpin oleh Baurekso dari Kendal. Bandar-bandar itu dapat dikuasai Mataram. Sekarang Sultan Agung mulai menyerang Surabaya. Tetapi rupanya sia-sia belaka. Setiap kali pasukan Mataram menyerang selalu gagal. Akhirnya, Surabaya dikepung rapat-rapat.

Kota Surabaya letaknya baik sekali. Sebagian kota dibangun di atas pulau. Letaknya antara Kali Mas dan Kali Pegirian. Sebagian lagi dibangun di luarnya. Kota Surabaya dikelilingi tembok yang tinggi. Surabaya adalah kota perdagangan yang ramai. Penduduknya 50.000 sampai 60.000 jiwa. Kapal-kapal Surabaya berlayar hingga Maluku.

Pasukan Sultan Agung membendung aliran Sungai Mas. Airnya tidak bisa diminum. Penyakit merajalela. Sesudah dikepung selama tiga tahun, akhirnya Pangeran Pekik menyerah.

Pengeran Pekik adalah seorang yang teguh. Ia tidak mudah takluk. Sultan Agung bangga mempunyai lawan seorang Pangeran Pekik. Ia diizinkan terus memerintah. Sultan Agung sekarang memalingkan perhatian ke Barat. Ia mempelajari dari buku-buku sejarah. Ia mendengar cerita-cerita orang-orang cerdik-pandai.

Di jaman Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit, orang-orang asing tidak berani sesuka hatinya di tanah air kita.

“Alangkah bedanya keadaan dulu dengan sekarang”, demikian pikir Sultan Agung. “Sekarang orang-orang Belanda itu bahkan mendirikan benteng di tanah air kita. Orang-orang Belanda itu malahan mengatur perdagangan dan negara kita. Apabila hal ini diteruskan, niscayalah seluruh Nusantara akan habis dikuasai Belanda. Keadaan demikian harus segera dihentikan!”

Sultan Agung lalu membuat rencana mengusir orang-orang Belanda. Sultan memberi perintah kepada Pangeran Mandurorejo, Baurekso bupati Sampang dan Gresik untuk memimpin penyerangan. Pasukan Pasundan di bawah komando Dipati Ukur akan berkumpul di Cirebon. Induk pasukan Mataram akan menyerang Batavia dari sebelah Tenggara.

Mataram Menyerang VOC

Penyerangan pertama dimulai. Armada Baurekso datang di Betawi pada tanggal 22 Agustus 1628. Jumlahnya 59 kapal. Kapal-kapal itu membawa sapi, beras, padi, buah kelapa, dan batang tebu. Awak kapal tersebut sebanyak 900 orang. Mereka berangkat dari pelabuhan Tegal.

Anak buah kapal itu sebenarnya adalah prajurit yang menyamar sebagai pedagang. Mereka itu membawa senjata, tetapi disembunyikan. Ketika malam telah tiba pedagangMataram itu mulai menyerang serdadu-serdadu VOC yang ada di pasar.

Orang Belanda itu terkejut. Mereka lari masuk ke dalam kastil. Mereka dikejar-kejar oleh pasukan Baurekso. Pasukan Mataram yang masih di kapal lalu mencebur ke sungai Ciliwung. Mereka ikut menyerang benteng Belanda yang bernama Parel. Benteng int dapat direbutnya. Tetapi orang-orang VOC.bertahan di bentengyang dibuat dari batu.

Sayang benar, pasukan darat belum datang menyerang. Pasukan itu berkemah di sebelah tenggara kota. Sekarang tempat itu bernama Matraman. Pasukan Baurekso tidak terus menyerbu benteng. Pada pagi harinya pasukan Mataram terpaksa mundur.

Beberapa hari kemudian, pasukan darat Mataram mulai menyerang. Serangan tidak dapat dilakukan secara bersamaan. Tiada berapa lama datang lagi serangan dari darat. Pemimpinnya adalah Mandurorejo dan Sura Agul Agul. Pasukan ini berjumlah 20.000 orang. Tetapi belum juga berhasil.

Karena pasukan Mataram tidak membawa meriam-meriam,akhirnya pasukan Mataram hanya mampu rnengurung kota Batavia. Seperti perang Surabaya dulu saat Kali Mas dibendung, sekarang Kali Ciliwung dibendung oleh pasukan Mataram. Akibatnya berat bagi VOC. Penyakit merajalela. Mereka kekurangan makanan dan minuman. Tetapi pasukan pengepung kita sendiri kehabisan bekal makanan. Terpaksalah ditarik mundur lagi.

Sementara itu di Kota Gede, ibukota Mataram, Sultan Agung mengadakan rapat. Menteri dan perwira-perwira tinggi hadir semua. Seorang perwira yang ikut dalam penyerangan pertama menceriterakan pengalamannya. Ia memberi laporan.

“Sebenarnyapersiapan kita sudah cukup baik. Semangat prajurit cukup tinggi, persenjataan memadai, kecuali meriam-meriam tidak kita bawa. Maklumlah, untuk menghela sebuah meriam, diperlukan 12 hingga 18 ekor kerbau. Lagi pula daerahnya, sungguh berat. Hanya sayang sekali, waktu pasukan laut Baurekso menyerang pasukan darat kita terlambat datang. Ini adalah kesalahan dalam perhubungan,” kata perwira tersebut.

Perwira perang itu melanjutkan ucapannya, “Juga cara pasukan kita menyerang, sudah baik. Kita maju menuju sasaran musuh dengan menggali parit-parit yang berbelok-belok. Pasukan kita juga sudah mengepung musuh dengan rapat. Tetapi ada suatu masalah yang harus kita atasi, yaitu soal makanan. Bagaimana pasukan kita bisa terus bertahan kalau tidak mendapat cukup bekal makanan?”

Hadirin sadar akan kekurangan-kekurangan dalam serangan pertama. Tetapi merekasama sekali tidak berputus asa.Kesalahan-kesalahan kemarin telah diperbaiki. Manusia wajib berusaha, Tuhan Yang Maha Kuasa menentukan segala-galanya.

Pada tahun 1629, diadakan lagi serangan kedua. Kali ini persiapannya lebih cermat. Di Tegal dan Cirebon didirikan lumbung-lumbung padi. Bekal makanan lebih mudah dikirim ke medan perang. Pasukan-pasukan Mataram membawa meriam. Tetapi serangan kali ini pun belum berhasil.

Musuh mengetahui segala persiapan-persiapan kita. Mereka mengirim kaki-kaki tangannya. Mereka membakar lumbung-lumbung padi dan perahu-perahu Mataram. Walaupun begitu pasukan Mataram terus menyerang. Pemimpinnya adalah Kyai Puger, Kyai Purbaya dan dan Kyai Blitar.

Pada tanggal 21 September 1629, meriam-meriam milik Kesultanan Mataram mulai menghujani atap-atap benteng VOC di Batavia. Dengan cekatan 100 orang bekerja sebulan penuh membendung aliran Ciliwung. Berkali-kali Mataram menyerbu kota. Akibatnya bagi Belanda dan Mataram adalah kekurangan bahan makanan dan penyakit merajalela. Mataram terpaksamenghentikan pengepungan. Dalam salah satu pertempuran tersebut Gubernur Jenderal VOC, J.P. Coen berhasil ditewaskan pasukan Mataram.

Sama seperti Sultan Hairun yang mengusir penjajah Portugis dari Kepulauan Maluku, Sultan Agung sejak awal sudah berusaha mengusir penjajahan Belanda dari tanah air tetapi belum membawa hasil. Sejak itu Sultan Agung tidak menyerang Batavia. Hubungannya dengan Belanda tetap tidak baik. Sultan lalu membangun negara yang rusak akibat peperangan. Sultan Agung adalah seorang yang taat pada agama. Ia pernah mengirim utusan-utusan ke tanah suci Mekkah. Sultan Agung adalah raja yang besar. Di bawah pimpinannya Kerajaan Mataram mengalami puncak kejayaannya.

Daftar Pustaka:

Kutojo, Sutrisno. 1982. Pejuang Bangsa. Jakarta: Penerbit Miswar.

Bagikan artikel ini melalui:

6 Replies to “Kisah Heroik Sultan Agung dari Kerajaan Mataram Mengusir VOC dari Batavia”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *