Kisah Kepahlawanan Pati Unus Mencoba Merebut Malaka dari Kekuasaan Penjajah Portugis

Perlawanan Rakyat Indonesia dalam Menentang Kolonialisme Belanda
Ilustrasi Tokoh Perlawanan Rakyat Indonesia dalam Menentang Kolonialisme Belanda

Kerajaan Majapahit pada abad ke-16 sudah mundur kekuasaannya dan kedudukannya digantikan oleh Kerajaan Demak. Pendiri kesultanan Demak adalah Reden Patah. la putera Brawijaya, raja Majapahit yang terakhir dari ibu seorang puteri Campa. Raden Patah lahir di Palembang. Sesudah besar ia pergi ke Majapahit.

Raden Patah diangkat sebagai bupati Demak. Kelak kabupaten Demak menjadi kesultanan yang berdiri sendiri. Sultan pertama Kerajaan Demak adalah Raden Patah. la juga murid Sunan Ampel yang terpandai. Kesultanan Demak adalah pusat agama Islam.

Di alun-alun Demak, berdiri sebuah masjid yang masih berdiri kokoh hingga sekarang. Masjid itu didirikan oleh para wali. Menurut cerita tiap-tiap wali harus menyumbang sebuah tiang. Ketika tiba gilirannya pada Sunan Kalijaga, rupanya ia lupa membuatnya padahal atap mesjid sudah harus dipasang. Sunan Kalijaga terpaksa menyumbang tiang masjid dari potongan-potongan kayu atau tatal. Walaupun demikian, tiang tatal itu kuat dan kokoh juga.

Selain Sunan Kalijaga, Kesultanan Demak juga didukung oleh Sunan Muria. Waktu itu Gunung Muria merupakan sebuah pulau dan disana berlangsung pengajaran agama Islam. Gunung itu dipisahkan oleh rawa-rawa dan selat yang dangkal dengan pulau Jawa. Makin lama selat ini makin dangkal lalu berubah menjadi dataran rendah.

Kesultanan Demak berkembang menjadi besar dan makmur. Hasil buminya beras dan kapuk. Perdagangan Demak juga maju. Kesultanan Demak menghasilkan beras, kain-kain dan alat senjata. Barang-barang dagangan tersebut dijual ke Maluku dan Malaka.

Barang-barang itu diangkut sendiri dengan kapal-kapal dagang Demak. Pelabuhan yang ramai ialah Jepara. Pelabuhan-pelabuhan lainnya seperti Juana, Rembang dan Tuban juga besar dan ramai.

Portugis Datang ke Nusantara

Pada jaman berdirinya Kesultanan Demak ini, datanglah orang-orang Barat ke tanah air kita. Mereka adalah orang-orang Portugis. Mereka adalah pedagang di pasar-pasar Eropa. Rempah-rempah yang dihasilkan Kesultanan Demak digunakan sebagai obat. Bahan itu juga digunakan untuk mengawetkan makanan. Waktu itu belum ada lemari es tempat menyimpan makanan seperti sekarang. Jadi makanan harus diawetkan dengan rempah-rempah.

Pada abad ke-16 itu orang-orang Portugis berlayar ke wilayah Nusantara. Mereka menguasai perdagangan dan pelayaran Nusantara. Mereka awalnya menguasai pulau-pulau Maluku. Lama-lama perdagangan dan pelayaran di sekitar Maluku bisa mati. Orang-orang Portugis memusuhi orang-orang Islam. Mereka bertentangan dengan negara-negara Aceh, pusat-pusat Islam, Kesultanan Demak, maupun Palembang dan Malaka.

Orang-orang Portugis juga merebut Goa di India. Kemudian bandar Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511. Jatuhnya kota Malaka tentu membahayakan Nusantara. Kota Malaka adalah pasar bagi barang-barang dan hasil bumi kita. Lada dan kapur barus dari Aceh dan Palembang, beras, kain-kain dan kayu dari Jawa, rempah-rempah dari Maluku, semuanya dijual di Malaka.

Tentu Aceh, Palembang dan Demak tidak bebas lagi mengirim barang-barang ke Malaka karena Portugis berkuasa. Perdagangan kita akan sangat berkurang. Kemakmuran negara dan rakyat akan mundur. Orang-orang Portugis tentu tidak berhenti di situ saja. Mereka akan arus menyerang Aceh, Palembang, Demak dan tempat-tempat lain di tanah air kita. Orang-orang Portugis selalu memusuhi orang-orang Islam.

Karena itu Pati Unus bergerak. Siapakah Pati Unus itu? Pati Unus adalah putera mahkota Sultan Demak, Raden Patah. Pati Unus adalah pembangun angkatan laut Demak. Kapal-kapal Demak besar-besar. Bahkan ada yang sama besar dengan kapal-kapal Portugis.

Kapal-kapal itu terbuat dari kayu jati. Kapal-kapal tersebut dibuat di galangan-galangan kapal Juana, Rembang dan tempat-tempat pembuatan kapal lainnya. Kapal-kapal itu mempunyai tiga tiang layar dan juga mempunyai meriam. Pati Unus membangun armada Demak selama tujuh tahun.

Usaha Menyerang Portugis

Pada suatu hari di tahun 1511 Pati Unus mengumpulkan para perwira di bangsal paseban.

Pati Unus berkata, “Apabila Demak ingin tetap hidup, jangan biarkan orang-orang Portugis menguasai daerah-daerah kita. Sekarang Malaka sudah jatuh ke tangannya. Niscayalah mereka esok hari akan menggempur Demak, Aceh dan Palembang. Karena itu kita harus bersatu dan bersama-sama menyerang Portugis di Malaka!”

Seorang laksamana laut yang sudah tua dan berpengalaman menjawab, “Memang benar, Pangeran. Kita harus segera mengusir orang-orang Portugis. Tetapi mereka mempunyai kapal-kapal yang lebih besar dari kapal-kapal kita. Lagi pula mereka mempunyai meriam yang lebih lengkap dari kita. Bertempur di lautan secara terbuka, agak berat bagi kita.”

Pati Unus berkata lagi, “Itu adalah penglihatan yang baik. Memang berat bagi kita untuk membuka pertempuran laut. Tetapi bagaimana kalau kita serang orang-orang Portugis dari daratan? Suatu pasukan akan kita daratkan dengan diam-diam, agak jauh dari kota. Mereka ini harus membawa senjata banyak dan dibagi-bagikan kepada orang-orang Demak yang sudah lama bermukim di sana. Saya yakin, mereka merupakan tenaga yang baik”.

Demikianlah pikiran Pati Unus. Siasat itu diterima baik. Mulailah Pati Unus bergerak menyiapkan penyerangan. Ia kirirn utusan-utusan rahasia untuk menghubungi orang-orang Demak di Malaka. Ia mencari hubungan dengan Sultan Aceh dan Palembang. Demikian pula sisa-sisa kekuatan Sultan Malaka diajak ikut serta.

Di Demak sendiri Pati Unus giat melatih para prajurit. la menyuruh membuat banyak kapal. Kapal buatannya itu memang kuat. Ada yang dindingnya berlapis tujuh. Kapal bendera Pati Unus sendiri dapat memuat 1.000 orang dan menjadi kapal yang terbesar.

Sesudah persiapan selesai, bergeraklah Pati Unus meninggalkan pelabuhan Demak. Ia memimpin armada tempur berkekuatan 12.000 orang prajurit. Rupanya komandan orang-orang Portugis yang bernama de Androde mengetahui datangnya serangan Demak. Pada tahun 1513, de Androde membawa armadanya untuk menyongsong armada Demak. Mereka bermaksud melawan armada Pati Unus di lautan.

Tetapi Pati Unus tidak mudah dijebak. Dengan berhati-hati Pati Unus memimpin armadanya menyusuri pantai timur pulau Sumatera. Pulau-pulau yang berbukit-bukit kecil dan bersemak-semak serta pantai-pantainya yang penuh hutan-hutan bakau dijadikan pelindung. Kira-kira di muara sungai Siak, iring-iringan armada Pati Unus menyeberangi Selat Malaka.

Pertempuran Dahsyat

Sekarang armada itu menyusur pantai jazirah Malaka. Armada Aceh dan Palembang serta sisa kekuatan Sultan Malaka datang menggabungkan diri. Armada kita menjadi bertambah kuta.

Kapal-kapal itu kemudian merapat di pantai, tidak jauh dari kota Malaka. Prajurit-prajurit berlompatan ke daratan. Mereka disambut dengan gembira oleh penduduk setempat. Mereka menyusup ke kota Malaka kemudian menyerang orang-orangg Portugis dari daratan.

Lalu pada suatu malam, armada Portugis berpapasan dengan prajurit Pati Unus. Pertempuran laut tak dapat dielakkan. Terjadilah pertempuran yang dahsyat. Armada Portugis di bawah komando de Androde bertempur melawan gabungan armada Aceh, Palembang, Malaka, dan Demak.

Kedua pihak mengalami banyak kerusakan akibat pertempuran ini. Kapal-kapal oleng, bocor dan tenggelam. Kelasi-kelasi dan prajurit-prajurit bertebaran di lautan. Mereka mencoba berenang menuju pantai, tetapi jaraknya terlalu jauh. Mereka banyak yang mati lemas dan tenggelam ke dasar lautan.

Pertempuran di selat Malaka memang dahsyat. Pati Unus berhasil meloloskan diri dari kepungan kapal-kapal Portugis meski kapal-kapal Portugis itu jauh lebih besar dan lengkap senjata. Pati Unus segera kembali ke pelabuhan Jepara.

Penyerangan untuk merebut Malaka dan mengusir orang-orang Portugis memang gagal. Tetapi Pati Unus telah berbuat dan berusaha menolong tanah airnya. Ia tidak duduk berpangku tangan. Tetapi ia telah menunjukkan kepada dunia bahwa bangsa Indonesia tidak mau dijajah. Manusia wajib berusaha dan berikhtiar. Tetapi keputusan akhir  terletak pada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Daftar Pustaka:

Kutojo, Sutrisno. 1982. Pejuang Bangsa. Jakarta: Penerbit Miswar.

Bagikan artikel ini melalui:

5 Replies to “Kisah Kepahlawanan Pati Unus Mencoba Merebut Malaka dari Kekuasaan Penjajah Portugis”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *