Kisah Perjuangan Untung Surapati, Anak Bali Penentang Kompeni Belanda di Jawa Timur

Babad Tanah Surabaya dari Kisah Legenda Pertarungan Jaka Jumput Melawan Jaka Truna
Babad Tanah Surabaya dari Kisah Legenda Pertarungan Jaka Jumput Melawan Jaka Truna

Tahukah Anda bahwa di Kota Jakarta ada sebuah taman indah bernama Taman Surapati? Tentu di kota lain nama Surapati juga terkenal. Entah sebagai nama jalan, entah pula nama lapangan ataupun taman. Siapakah Surapati itu? Dalam Bahasa Jawa ia dikenal sebagai Untung Suropati. Untung Suropati adalah salah satu Pahlawan Nasional Indonesia. Ia pernah berjuang melawan penjajahan Belanda kira-kira 300 tahun yang lampau.

Untung Suropati berasal dari Bali. Ketika ia masih kecil, seorang kapten Belanda tertarik kepadanya. Untung Suropati diambilnya dan diasuhnya sehingga besar. Tetapi saat dewasa kemudian Untung Suropati mengalami perlakuan-perlakuan tidak baik. Ia berkawan terlalu akrab dengan anak gadis kapten. Hal itu dianggap Belanda sebagai sebuah kesalahan. Lalu ia dimasukkan ke dalam penjara.

Di dalam penjara Untung Suropati kemudian berpikir, “Apakah salahku terhadap kapten Belanda sehingga aku harus mengalarni nasib serupa ini? Apakah saya tidak boleh berkawan dengan gadis anak kapten itu?”

Timbullah hasratnya untuk memberontak melawan Belanda. Di dalam penjara ia bertemu dengan orang-orang hukuman lainnya. Mereka ada yang berasal dari Bali, Banten, Bugis, Makasar, Jawa, Parahiyangan dan sebagainya. Mereka dihukum karena berani menentang Belanda.

Untung Suropati berkata kepada mereka, “Hai kawan-kawan, apakah kita akan menerima nasib serupa ini tanpa ada akhirnya? Apakah kita tidak akan berusaha ke luar dari penjara ini?”

“Sudah barang tentu kita tidak mau terus-menerus hidup macam ini. Kita ingin kebebasan dan kemerdekaan,” jawab teman-temannya.

Mereka lalu mengatur siasat. Mereka ingin lepas dari penjara. Berkat persatuan dan kesungguhan hati, mereka akhirnya lolos dari penjara. Mereka selalu bersatu. Mereka merupakan barisan yang kuat dan tangguh. Mereka mempunyai senjata dari hasil rampasan di penjara.

“Kawan-kawan, berkat bantuan Tuhan Yang Maha Esa, kita dapat meloloskan diri dengan selarnat, dan ini baru langkah permulaan. Tujuan kita yang utama ialah mengusir Belanda dari tanah air kita.”

Awal Perjuangan Untung Surapati

Barisan Untung Surapati bergerak di sekitar Jakarta. Mereka menyerang benteng Belanda. Mereka bekerja sama dengan pasukan Banten yang dipimpin oleh Pangeran Purbaya di daerah Parahiyangan. Dengan adanya serangan yang dilancarkan oleh orang Surapati maka Belanda segera membuat siasat.

“Daripada kita selalu mendapat susah dari Surapati, lebih baik ia kita jadikan kawan saja. Kita masukkan ia dalam barisan Kompeni”, demikianlah siasatnya.

Kapten Ruys, segera menemui Untung Surapati dan mulai membujuknya. “Surapati, mengapa kalian memusuhi Kompeni? Bukankah engkau pernah diasuh kompeni dan ada baiknya kalian berkawan dengan kami. Kesalahan kalian kami ampuni, dan kalian akan kami terima dalam barisan Kompeni, dengan pangkat letnan untukmu Surapati.”

Untung Surapati menerima tawaran Kapten Ruys. Ia menjadi Letnan Kompeni. Dalam hati kecilnya ia tetap menentang apa-apa yang tidak adil. Pada suatu hari Untung Surapati diberi tugas menangkap Pangeran Purbaya. Untung Surapati menemui Pangeran Purbaya baik-baik. Sebenarnya Purbaya sudah bersedia untuk menyerah.

Sekonyong-konyong datanglah Kuffeler. Kufeller adalah seorang pembantu Letnan Belanda. Dengan congkak Kuffeler memaksa Purbaya untuk menyerahkan kerisnya. Bagi seorang perwira Indonesia, keris adalah tanda ksatria. Purbaya menolak. Tetapi Kuffeler memaksa. Surapati turut campur. Ia membela Purbaya.

Sekarang Kuffeler marah, Untung Surapati lalu menyerang Kuffeler. Terjadilah pertempuran seru antara pasukan Surapati melawan pasukan Kuffeler. Sesudah itu Surapati pergi ke Cirebon. Ia tahu benar Belanda pasti akan menangkapnya. Kisah perjuangan Untung Surapati masih berlanjut.

Perjuangan di Jawa Tengah

Benar saja, sepasukan besar tentara Belanda terus mengejarnya. Mereka marah menyangka Untung Surapati masih di Cirebon, tahu-tahu ia sudah berada di Banyumas. Musuh bergegas mengejarnya ke Banyumas, ternyata ia sudah berada di Kartasura, ibukota Mataram.

Sunan Amangkurat II menerima Untung Surapati dengan gembira. Sudah lama Amangkurat II merasa dendam terhadap Belanda. Ia merasakan, betapa beratnya Belanda menekan kepadanya.

Untung Surapati bersama barisannya menghadap Sunan. Segala senjata dan perbekalannya diserahkan kepada Sunan. Sunan Amangkurat II berkata kepada Surapati, “Kalian boleh saja menetap di Kartasura. Kalian dapat sawah untuk hidupmu dan rumah untuk berteduh.”

Belanda bukan main marahnya. Mereka tidak senang pada Surapati. Mereka juga tidak senang pada Amangkurat II. Orang-orang VOC di Batavia lalu memutuskan .

“Surapati harus diserahkan hidup atau mati kepada Kompeni. Amangkurat II tidak berhak melindunginya. Kita kirim pasukan untuk menangkapnya!” demikian perintah pimpinan VOC di Batavia.

Lalu kapten Tack dikirim Kompeni ke Kartasura untuk menangkapnya. Ia seorang yang congkak. Dikiranya menangkap Surapati itu mudah. Kapten Tack bertemu dengan Amangkurat II dan berkata.

“Sunan, kami ingin Sunan menyerahkan Surapati kepada Kompeni,” ujar Kapten Tack.

“Itu tidak bisa. Surapati adalah tamu kami dan kami tidak bisa menyerahkan tamu kepada lawannya,” jawab Amangkurat II.

“Tetapi Sunan, kami datang di sini untuk menangkap Surapati,” Kapten Tack masih bersikukuh dengan niatnya.

“Silakan tangkap sendiri,” jawab Amangkurat II dengan tegas.

Dengan hati kesal kapten Tack meninggalkan Sunan Amangkurat II. Ia bersiap-siap menuju rumah tempat kediaman Untung Surapati. Tetapi Untung Surapati tidak tinggal diam. Ia, sudah mengatur siasat. Ia akan melawan pasukan Kapten Tack.

Pada suatu hari yang cerah kedua pasukan itu berhadapan. Berkobarlah pertempuran yang dahsyat. Kapten Tack yang congkak itu kalah siasat. Ia mati terbunuh ketika sedang naik kuda. Kompeni Belanda tidak berhasil menangkap Untung Surapati. Kemenangan Untung Surapati dirayakan dengan meriah di Kartasura.

Berperang di Jawa Timur

Tetapi Untung Surapati tidak berlama-lama tinggal di ibukota Mataram itu. Ia sadar benar, Kompeni pasti akan mengerahkan pasukan yang lebih besar. Dengan segera ia pergi ke Jawa Timur. Ia jadikan Kota Pasuruan sebagai markas besarnya. Kisah kepahlawanan Untung Suropati masih terus berlanjut di Pasuruan.

Di Kota Pasuruan telah berkumpul orang-orang yang menentang penjajahan Belanda. Bahkan Sunan Mas, putera Amangkurat II, menggabungkan diri pada Untung Surapati. Kelak Sunan Mas ditawan Belanda. Ia dibuang ke pulau Sailan.

Untung Surapati terkenal sebagai Adipati Wiranegara. Ia membangun benteng dan keraton indah di Pasuruan. Belanda tidak tinggal diam. Mereka mengirimkan pasukan yang lebih besar. Senjatanya lebih lengkap. Mereka mendarat di bandar Surabaya dan terus ke Selatan. Terjadilah pertempuran yang dahsyat di sepanjang Kali Porong.

Musuh terus mendesak. Mereka mengepung benteng Untung Surapati di Bangil. Prajurit-prajurit Untung Surapati mempertahankan benteng. Pertempuran di Bangil langsung dipimpin Untung Surapati. Banyak sekali prajurit-prajurit yang gugur.

Sebuah peluru meriam Belanda sekonyong-konyong mendesing di udara. Peluru itu meledak tidak jauh dari tempat Untung Surapati berdiri. Pecahan-pecahan peluru itu mengenai badannya. Surapati rebah dan tidak bangun lagi.

Untung Suropati masih sempat dibawa ke Pasuruan untuk diobati. Tetapi kemudian ia meninggal dunia karena jiwanya tak tertolong lagi. Untung Surapati adalah seorang Pahlawan bangsa. Ia gugur untuk mempertahankan kemerdekaan tanah airnya. Kisah perjuangan Untung Suropati harus kita jadikan semangat untuk lebih mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Daftar Pustaka:

Kutojo, Sutrisno. 1982. Pejuang Bangsa. Jakarta: Penerbit Miswar.

Bagikan artikel ini melalui:

2 Replies to “Kisah Perjuangan Untung Surapati, Anak Bali Penentang Kompeni Belanda di Jawa Timur”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *