Perjuangan Iskandar Muda Melawan Penjajah Portugis di Wilayah Kesultanan Aceh

Legenda Hikayat Raja Arief Imam by Hidayat Said
Legenda Hikayat Raja Arief Imam by Hidayat Said

Sultan Iskandar Muda adalah salah satu Pahlawan Nasional yang ikut serta berjuang mengusir penjajah dari wilayah Nusantara. Kisah kepahlawanan Sultan Iskandar Muda bermula ketika Malaka telah diduduki oleh Portugis. Sultan Iskandar Muda di depan rakyatnya berkata.

“Wan Habib, assalamu alaikum!”

“Hai, wan Umar. Wa alaikum salam. Apa kabar?”

“Alhamdulillah, baik-baik saja, bagaimana dengan keluarga di rumah?”

“Baik juga, kapan datang?”

“Kami sudah dua pekan di sini!”

“Dan bagaimana keadaan di Malaka?”

“Wah, berat wan, kami enggan tinggal lama-lama di sana. Kawan-kawan dan saudara-saudara lainnya juga meninggalkan Malaka semua. Mas Sutawikrama dari Banten juga pulang. Demikian pula Daeng dari Bugis, sudah berlayar ke Riau!”

“Memang, saya juga banyak menjumpai kawan-kawan dari Malaka. Rupanya sesudah orang-orang Portugis mendudukinya, banyak saudara-saudara meninggalkan Malaka!”

Demikianlah kita mendengar orang-orang berbicara di pasar Aceh pada abad ke-16. Sesudah orang-orang Portugis menyerbu Malaka pada tahun 1511, banyak pedagang-pedagang yang meninggalkannya. Mereka menetap di bandar Aceh, Siak, dan Indra-pura. Terutama sekali di Banten.

Para pedagang itu tidak senang berdagang dengan orang-orang Portugis. Aceh lalu berubah menjadi bandar yang ramai. Aceh menjadi pintu gerbang bagi Indonesia Kapal-kapal asing singgah di Aceh terlebih dahulu. Dengan jatuhnya Malaka, pedagang-pedagang Nusantara berlayar melaluipantai Barat pulau Sumatera. Pelabuhan di tepi pantai Barat, kini menjadi ramai, misalnya Pariaman dan Bengkulu.

Selat Sunda juga makin ramai. Bandar Banten berkembang menjadi besar. Hubungan Aceh dengan orang Portugis tetap tidak baik. Berkali-kali terjadi peperangan. Sejak tahun 1513, Aceh bersama-sama Pati Unus dari Demak dan Palembang sudah menyerang Malaka.

Selama abad ke-16 terjadi peperangan antara Portugis di Aceh. Peperangan terbesar dilakukan pada tahun 1568. Aceh menggerakkan 300 perahu dengan 15.000 prajurit. Aceh juga bekerja sama dengan Turki. Aceh mendapat bantuan 400 orang pemasang meriam. Sungguh ramai peperangan itu. Tetapi orang-orang Portugis belum terusir dari Malaka.

Kerajaan Aceh mengalami kejayaan pada jaman pemerintahan Iskandar Muda yang memerintah mulai tahun 1607 sampai tahun 1636. Wilayah kerajaan Aceh menjadi luas dan perdagangannya maju. Pada jaman pemerintahan Iskandar Muda, orang-orang Belanda dan Inggeris mulai berdatangan ke Asia Tenggara. Mereka juga mendatangi bandar Aceh. Mereka berebut lada. Harga lada menjadi naik.

Sultan lskandar Muda lalu memanggil sekalian menteri dan pernbesar-pernbesar negara. Sultan lalu berbicara, “Ketahuilah, orang Belanda dan Inggris sekarang sudah ramai mendatangi negara kita. Mereka itu akan mengambil lada dan timah kita. Tentu mereka akan menetap dan mendirikan pangkalannya. Kita harus bersatu. Daerah-daerah yang menghasilkan lada, harus kita kuasai dan perkuat!”

Utusan-utusan dan pasukan-pasukan dikirim ke berbagai tempat. Tujuannya menggalang persatuan negara. Daerah-daerah yang menghasilkan lada itu adalah Minangkabau, Jambi, Patani, hingga Indragiri. Kekuasaan Aceh terbentang luas. Dari utara hingga Indragiri. Juga Sumatera Barat masuk wilayah kekuasaan Aceh. Di Pariaman dan Tiku, Sultan Aceh mengangkat wakil-wakilhya. Mereka mengurus dan mengawasi perdagangan lada.

Perdagangan Aceh memang maju. Banyak kapal mendatangi pelabuhan-pelabuhannya. Ada kapal-kapal dari Turki dan Mesir. Kapal-kapal Aceh juga berlayar ke mana-mana sampai di Laut Merah. Bahkan pedagang Aceh berlayar hingga ke sebelah Timur benua Afrika.

Sultan Aceh bersahabat dengan Sultan Akbar dari kerajaan Moghul di India. Juga dengan raja Kalikut, Benggali dan pulau Sailan. Pada tahun 1615 Palembang, Jambi, Indragiri dan Siak enggan dikuasai Aceh. Tetapi pada tahun 1618, Aceh bahkan berhasil menguasai Pahang. Tahun-tahun berikutnya menyusul Kedah, Perak dan Indragiri. Aceh menjual timah kepada saudagar-saudagar India. Timah itu ditukar dengan barang-barang lain.

Hubungan Aceh dengan Johor menjadi menjadi kurang baik. Aceh menyerang Johor. Pusat pemerintahan dan perdagangan Johor di Batusawar menjadi hancur. Karena perdagangan lada kerajaan Aceh makmur dan jaya. Agama Islam berkembang dengan pesat.

Sesudah Iskandar Muda wafat, negara Aceh tidak dapat berkembang pesat. Kekuasaan Aceh di Sumatera Barat lepas lagi. Pada abad ke-18, kekuasaan Aceh tinggal di daerah Sumatera Utara saja. Walaupun demikian Aceh menjadi benteng yang tangguh dalarn barisan Indonesia.

Daftar Pustaka:

Kutojo, Sutrisno. 1982. Pejuang Bangsa. Jakarta: Penerbit Miswar.

Bagikan artikel ini melalui:

6 Replies to “Perjuangan Iskandar Muda Melawan Penjajah Portugis di Wilayah Kesultanan Aceh”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *