Perjuangan Pangeran Trunojoyo Melawan Pengaruh VOC di Pulau Jawa

Babad Tanah Surabaya dari Kisah Legenda Pertarungan Jaka Jumput Melawan Jaka Truna
Babad Tanah Surabaya dari Kisah Legenda Pertarungan Jaka Jumput Melawan Jaka Truna

Tarunajaya, lebih dikenal sebagai Trunojoyo, adalah pemuda dari Madura. Ia seorang pemuda dengan jiwa menggelora berusaha mengusir penjajah dari Nusantara. Ia tidak pernah diam. Hatinya selalu gelisah. Jiwanya meronta-ronta. Trunojoyo banyak mendengar. Ia banyak mengetahui tentang hidup. Ia tahu, bahwa bupati Cakraningrat dari Madura seringkali mengecewakan rakyat. Hal ini didengarnya sendiri dari petani-petani di desa-desa. Ia juga melihat petani mendapat perlakuan yang tidak baik.

“Andaikata saya bupati, niscaya akan kuperbaiki kehidupan rakyat ini”, demikian pikir Trunojoyo. Perhatian Trunojoyo tidak hanya pada pulau Madura. Ia punya banyak saudara dan teman-teman di Mataram. Dari mereka Trunojoyo mendengar kisah tentang kerajaan Mataram.

Seorang temannya berceritera, “Sahabatku yang baik, keadaan di Mataram sudah berlainan sekali dengan masa lalu, tatkala Sultan Agung masih menjadi raja. Dahulu Sultan tidak akan membiarkan kompeni berbuat semau-maunya di Kerajaan Mataram. Tetapi bagaimana di jaman Sunan Amangkurat I ini? Ya, sahabatku Amangkurat I banyak mengecewakan kita. Apakah dikau sudah mendengar kabar itu? Sunan rupanya tidak segan-segan menghukum kawulanya dengan hukuman keras. Sebaliknya, sikapnya terhadap Belanda malahan lunak sekali. Sama sekali berlainan dengan Sultan Agung.”

“Pada tahun 1646 sudah ada perjanjian dengan Kompeni yang merugikan Mataram. Sampai demikian jauhnya? Dan bagaimana sikap Pangeran Adipati Anom? Apakah Putera Mahkota itu juga menyokong tindakan ayahanda?” imbuh kawan Trunojoyo.

Kawan Trunojoyo lainnya menjawab, “Mengenai Adipati Anom, sahabatku, tampaknya memang agak ganjil didengar. Tetapi Adipati Anom pun tidak bersetuju dengan ayahanda! Bahkan tidak sampai di situ saja. Para alim-ulama di Gresik pun belum bisa melupakan tindakan Susuhunan yang sewenang-wenang itu. Mereka tetap menanti saat untuk menentang Susuhunan Amang-kurat I. Demikian pula banyak bupati-bupati pesisir yang kurang senang pada Sunan!”

Trunojoyo Menggalang Kekuatan

Kesemuanya itu didengar baik-baik dan diperhatikan benar-benar oleh Trunojoyo. Ia benar-benar ingin mengubah keadaan. Ia tidak senang melihat sikap Amangkurat I yang sewenang-wenang kepada rakyat. Trunojoyo melihat kekuasaan Belanda makin hari makin besar di Nusantara.

Trunojoyo ingin sekali menggantikan pemerintahan Cakraningrat di Madura dan Amangkurat I di Mataram. Trunojoyo harus bertindak. Tidak mungkin ia bertindak sendirian. Tugas berat itu harus dilaksanakan bersama-sama. Dengan langkah-langkah yang pasti, mulailah ia usahakan maksud itu.

Trunojoyo mulai mendekati ulama-ulama di Gresik. Mereka itu sangat senang. Mereka menyambut Trunojoyo. “Pasti kami membantu! Insya Allah, kabullah kehendak sahabatku!” demikian jawab mereka.

Langkah kedua ialah mendekati Adipati Anom. Hal ini harus dilakukan dengan hati-hati sekali. Untunglah, dapat juga dicapai persetujuan. Dalam peperangan yang akan berkobar antara Trunojoyo melawan pasukan Mataram, Adipati Anom akan berpura-pura saja menjalankan peperangan.

Akhirnya, pucuk dicinta ulam tiba. Datanglah Karaeng Galesung. Ia adalah pemimpin orang-orang Makasar. Ia tidak mau hidup di negerinya. Karaeng Galesung menawarkan bantuan kepada Trunojoyo. Datanglah saatnya bagi Trunojoyo untuk tidak berangan-angan lagi.

Trunojoyo sudah mempunyai barisan yang nyata dan terdiri dari pasukan-pasukan ulama di Gresik, anak buah Karaeng Galesung dan pasukan bupati pesisir. Dengan Adipati Anom sudah ada saling pengertian. Ketika segala persiapan selesai mulailah Perang Trunojoyo pada tahun 1674 sehingga 1678. Tujuan pertama ialah menguasai Madura. Dalam waktu singkat Madura jatuh.

Membersihkan Pengaruh VOC

Sekarang giliran untuk meloncat ke Jawa. Dengan pelan-pelan tetapi pasti merayaplah pasukan Trunojoyo seperti minyak menyerap dalam kertas. Kabupaten demi kabupaten jatuh. Mereka menggabungkan diri pada Trunojoyo. Markas besar barisan Trunojoyo berpusat di Kediri.

Kemudian majulah pasukan gabungan Trunojoyo dan Karaeng Galesung menyusur pantai Utara Jawa Timur dan Jawa Tengah. Bupati-bupati pesisir banyak yang memihak Trunojoyo. Gerakan berjalan lancar.

Hanya ada satu wilayah yang gagal ditaklukkan Trunojoyo, yaitu Jepara. Bupati Jepara tetap setia pada Amang-kurat I. Pasukan Trunojoyo tidak dapat mendudukinya. Tatkala tentara Trunojoyo bertemu dengan pasukan Mataram di bawah pimpinan Adipati Anom, kedua pasukan itu pura-pura saling bertempur.

Susuhunan Amangkurat I di keraton Plered cemas sekali. Ternyata gerakan Trunojoyo ini bukan khayalan saja. Mereka ini makin lama makin mendekati ibukota Mataram. Karena itu Susuhunan Amangkurat I mengungsi ke Batavia guna minta bantuan VOC.

Rombongan Sunanpun segera disiapkan. Mereka berangkat tepat pada waktunya. Mereka menuju ke arah barat. Tetapi ketika sampai di Tegal Wangi, Sunan jatuh sakit dan kemudian wafat.

Bagaimanakah keadaan pasukan Tarunajaya? Rupanya terjadi hal-hal yang kurang bagus pada Trunojoyo dan pasukannya. Makin lama makin sulit bagi Trunojoyo untuk menjaga tata-tertib. Perselisihan dan iri hati mulai timbul di antara pasukan itu. Kendati demikian, Trunojoyo terus melaju bersama pasukannya.

Barisan Trunojoyo menerobos pertahanan Mataram di daerah Plered. Terjadilah hiruk-pikuk di keraton. Masing-masing golongan lupa akan tujuannya semula. Mereka hanya ingat akan kepentingan diri sendiri saja. Banyak benar barang-barang pusaka keraton dibawa ke luar. Barang-barang itu diangkut ke Kediri.

Adipati Anom merasa dirinya tertipu. Ia cepat-cepat kembali. Ia hendak menyusul ayahanda, yaitu Amangkurat I. Sunan Amangktirat I masih sempat bertemu dengan puteranya itu. Ia menganjurkan agar Mataram minta bantuan VOC.

Pengkhianatan Adipati Anom

Adipati Anom lalu menghubungi Speelman di Jepara. Speelman berkata, “Pangeran, sejak semula saya memberi wawasan, agar pangeran tetap setia pada ramanda almarhum Sunan Amangkurat I dan eyang Gubernur Jenderal di Batavia. Tetapi tidak mengapa Pangeran, manusia itu memang bersifat khilaf, dan lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.”

“Benar pamanda Speelman, ini puteranda datang, justru untuk mohon bantuan Kompeni, bagaimana menghadapi Trunojoyo itu”, demikian jawab Adipati Anom.

“Itu soal waktu saja. Yang pasti, sesuai dengan amanat almarhum Sunan Amangkurat I, VOC pasti akan meneguhkan Pangeran, menggantikan ayahanda sebagai raja Mataram. Hanya saja, ongkos dan pengeluaran perang itu sangat berat, sedangkan Kompeni justru sedang mengalami kesulitan. Bagaimana Pangeran, kalau Kompeni mengajukan syarat-syarat, agar membawa kebaikan timbal-balik?”, bujuk Speelman dengan liciknya.

“Ya, sudah barang tentu, kami akan membantu apa yang mungkin kami lakukan!”, jawab Adipati Anom.

“Baiklah Pangeran, kami akan mengajukan syarat, yaitu agar kepada Kompeni diberi hak bebas berdagang di Mataram. Artinya, hak memasukkan barang-barang seperti kain-kain dari India, Parsi dan Eropa hanya ada ditangan Kompeni,” ujar Speelman.

Speelman menambahkan, “Selain itu, pajak atau cukai daerah-daerah Karawang dan sebagian tanah Parahiyangan agar diserahkan saja kepada Kompeni termasuk pula bandar Semarang. Di Rembang hendaknya Kompeni diberi izin untuk membangun galangan kapal.”

Belum berhenti sampai disitu, Speelman berkata lagi, “Selama ongkos dan biaya perang belum dapat Pangeran lunasi pembayarannya, baiklah daerah pesisir Jawa Tengah, Pangeran gadaikan saja kepada kami. Dan selanjutnya demi keamanan Mataram kami membangun benteng-benteng di ibukota. Itulah syarat-syarat Kompeni.”

Adipati Anom terkejut mendengarkan syarat-syarat Kompeni. Ia mau menolak. Tetapi terbayang di khayalan, pasukan Trunojoyo yang makin hari makin dekat. Tentu akan merubuhkan pertahanan kerajaan Mataram. Akhirnya dengan suara tertahan-tahan Adipati Anom menerima juga syarat-syarat itu.

Mulai saat itu kerajaan Mataram sudah kehilangan kemerdekaannya. Adipati Anom dinobatkan sebagai Susuhunan Amangkurat II. Tetapi pengukuhannya datang dari Gubernur Jendral VOC di Betawi. Sesudah itu barulah Speelman melancarkan serangan-serangan terhadap kubu-kubu Trunojoyo.

Pasukan Belanda mendapat bantuan Aru Palaka dan Jonker. Trunojoyo mempertahankan diri. Ia mendaki gunung Kawi. Ia melancarkan perang gerilya. Tetapi kekuatan musuh jauh lebih besar. Persenjataannya lebih lengkap. Trunojoyo lalu terdesak. Ia tertawan dan kemudian dihukum mati.

Trunojoyo sudah berusaha dan berkorban jiwa raganya untuk menyelamatkan tanah-airnya dari penjajahan asing. Perjuangannya belum mencapai hasil, karena adanya perpecahan di kalangan bangsa kita. Namun demikian, jasa Trunojoyo besar. Sekali lagi telah dibuktikan, bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang tidak rela pada penjajahan.

Daftar Pustaka:

Kutojo, Sutrisno. 1982. Pejuang Bangsa. Jakarta: Penerbit Miswar.

Bagikan artikel ini melalui:

5 Replies to “Perjuangan Pangeran Trunojoyo Melawan Pengaruh VOC di Pulau Jawa”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *