Sakyakirti, Guru Besar Penyebar Agama Budha dari Kerajaan Sriwijaya dan Pusat Studi Buddha di Asia Tenggara

Buddha Painting
Buddha Painting – Sakyakirti, Guru Besar Penyebar Agama Budha dari Kerajaan Sriwijaya dan Pusat Studi Buddha di Asia Tenggara

Tahukah Anda bahwa pada jaman dulu Sriwijaya pernah menjadi pusat penyebaran agama Budha di Kawasan Asia Tenggara? Kisah penyebaran agama Budha di Nusantara dimulai disini. Hari masih pagi benar. Atap-atap rumah dan kuil di kota Sriwijaya yang tinggi, masih tampak gelap. Bentuknya seperti bayangan bukit-bukit kecil berjajar-jajar.

Dari jauh terdengar bunyi genta dipalu bertalu-talu. Itu bunyi genta dari kuil Budha di kota. Di dalam kuil, tampak banyak orang duduk-duduk di pelataran. Mereka mengenakan kain-kain. Potongannya seperti baju sari India berwarna kuning.

Orang-orang tersebut memiliki kepala di cukur semua. Mereka membawa tasbih. Sebentar-sebentar mereka menyanyi bersama-sama. Kemudian mereka bersemedi. Mereka itu adalah para bhiksu. Mereka mempelajari agama Budha.

Pusat Agama Budha Asia Tenggara

Guru agama Buddha yang terkenal di Sriwijaya adalah Syakyakirti. Ia banyak mempunyai mahasiswa. Sebagian dari mahasiswa tersebut berasal dari luar negeri. Sriwijaya adalah pusat kebudayaan.

“Apabila kamu hendak belajar agama Buddha di tanah India, kamu harus belajar dulu bahasa Sansekerta di Sriwijaya,” demikian nasehat para orang tua kepada anak-anak calon mahasiswa.

Tiap-tiap tahun para mahasiswa mendatangi kota Sriwijaya untuk belajar. Syakyakirti berjasa bagi negara Sriwijaya. Nama Sriwijaya menjadi terkenal di mana-mana. Orang-orang Arab menyebutnya Zabay atau Zabag. Orang-orang Cina mengatakan She-li-fo-ce. Negeri Sriwijaya kini sudah tidak ada. Sriwijaya telah menjadi sejarah.

Di manakah letak negara Sriwijaya itu dulunya? Bukalah petamu dan carilah daerah Sumatera Selatan! Nah, disitulah dahulu, kira-kira 1300 tahun yang silam, berdiri negara Sriwijaya. Mula-mula Sriwijaya itu suatu negeri kecil. Lama-larna berkembang menjadi negara yang megah dan besar. Ibu kota Sriwijaya terletak di kota Palembang.

Keadaan waktu itu berlainan dengan sekarang. Jumlah manusia di Kerajaan Sriwijaya belumlah banyak. Hutan belantara dengan binatang-binatang buasnya masih luas. Pantai-pantai pulau Sumatera sebelah Timur belum selebar sekarang. Jambi dan Palembang masih ada di tepi pantai. Tidak menjorok ke dalam seperti sekarang.

Sriwijaya adalah negara perdagangan dan pelayaran. Penduduk Sriwijaya hidup berdagang dan berlayar. Letak Kerajaan Sriwijaya itu cocok sekali untuk berdagang. Kerajaan Sriwijaya  berada di tengah-tengah jalan dagang dan pelayaran dari negeri Cina dan India, Tanah Mesir serta Arabia. Kapal-kapal dari luar negeri singgah di Sriwijaya untuk mengambil air dan bekal makanan.

Pada jaman dahulu kapal terbuat dari kayu dan digerakkan oleh angin yang meniup layar-layarnya. Waktu itu belum ada kapal uap, kapal motor, apalagi kapal atom. Pelayaran dari negeri Cina ke Tanah Mesir berlangsung dalam waktu lama. Kapal-kapal belum berani menyeberangi lautan luas. Kapal-kapal menyusur pantai. Sriwijaya mempunyai hasil bumi banyak. Di pasar-pasar Sriwijaya orang-orang asing ramai menawar hasil bumi itu. Misalnya lada, kayu cendana, gading, limah dan minyak wangi.

Sebaliknya dari kapal-kapal luar negeri itu, diturunkan barang-barang seperti kain-kain halus, senjata, barang-barang pecah belah dan sebagainya. Juga kapal-kapal dari pulau-pulau lain di tanah air kita banyak yang berlabuh di Sriwijaya, misalnya dari Maluku dan Jawa Timur. Kapal-kapal itu membawa rempah-rempah, kain-kain, alat-alat senjata dan beras.

Gambar Manusia Meditasi Yoga di Tepi Danau pada sore hari.
Gambar Manusia Meditasi Yoga di Tepi Danau pada sore hari.

Pusat Ekonomi Asia Tenggara

Pelabuhan Sriwijaya sangat ramai. Penduduknya padat. Kendaraan-kendaraan simpang siur di jalan-jalan. Tentu saja kendaraan-kendaraan itu bukan mobil tetapi pedati-pedati yang ditarik sapi dan kereta yang ditarik kuda. Juga perahu-perahu itu alat pengangkutan yang penting ke pedalaman.

Pedagang-pedagang asing dari luar negeri banyak yang menetap di kota Sriwijaya untuk sementara. Mereka menanti datangnya kapal. Mereka berasal dari negeri-negeri Arab, Parsi, India, Cina dan lain-lainnya. Di pasar-pasar ramai kedengaran bermacam-macam bahasa. Tetapi banyak pedagang-pedagang asing mengerti bahasa kita, yaitu bahasa Melayu kuno. Sriwijaya waktu itu gudang dan pasar di Asia Tenggara.

Saat itu pelabuhan Singapura belum berdiri. Sriwijaya menjadi makmur. Raja Sriwijaya terkenal kekayaannya. Pernah seorang saudagar Arab bercerita kepada handai taulannya. Dengarkanlah ceritanya ini, “Raja Zabag itu memang kaya tetapi juga hemat dan baik hati. Setiap hari Baginda mendapat kiriman pajak dari pedagang-pedagang. Baginda selalu menukarkan hasil pajak itu dengan bungkalan-bungkalan emas. Lalu bungkalan emas itu dilemparkannya ke kolam yang terdapat di luar istana. Kalau air kolam itu sedang pasang, niscayalah tidak kelihatan bungkalan-bungkalan emas itu. Tetapi apabila airnya surut, akan tampaklah bungkalan-bungkalan itu berkilau-kilau kena sinar matahari. Bukan main indahnya!”

Seorang kawannya bertanya, “Lalu diapakannya oleh baginda bungkalan-bungkalan emas itu?”

Saudagar kita menjawab, “Kalau ada raja yang mangkat, barulah dikuras kolam itu. Bungkalan emas itu dihitung dengan teliti dan dibagi-bagikan kepada para bangsawan, pegawai-pegawai dan sisanya dihadiahkan juga kepada fakir miskin!”

Sriwijaya adalah negara yang kaya. Dan raja memperhatikan kaum fakir dan miskin. Kekayaan Sriwijaya itu disebabkan karena perdagangan. Untuk berdagang diperlukan banyak kapal, Sriwijaya juga banyak mempunyai kapal-kapal dagang. Tetapi di lautan yang jauh, sering terdapat bajak laut. Bajak-bajak laut itu merampas barang-barang dagangan dan harta benda. Apabila dibiarkan, niscayalah membawa malapetaka. Kaum pedagang tidak akan mendapat untung. Mereka tidak dapat membayar pajak kepada raja. Tidak mungkin lagi raja Sriwijaya melemparkan gumpalan-gumpalan emasnya ke dalam kolam.

Sebab itu raja Sriwijaya juga membangun armada tempur. Armada itu melindungi kapal-kapal dagang dari serangan bajak laut. Raja. Sriwijaya pernah menggerakkan armada tempurnya dengan 20.000 prajurit untuk menumpas musuh. Armada Sriwijaya memang kuat. Sriwijaya dapat menguasai lautan Indonesia bagian Barat seperti Laut Cina Selatan dan Selat Malaka.

Selain sebagai pusat penyebaran agama Budha di Asia Tenggara, Kerajaan Sriwijaya juga membangun pangkalan-pangkalan militernya, misalnya di Tanah Genting Kra di jazirah Malaka. Pada tahun 991- 992 Masehi armada Darmawangsa dari Jawa Tengah menguasai lautan di sekitar Sriwijaya. Pengepungan ini tidak berjalan lama. Akhirnya armada Sriwijaya dapat menjebolnya, bahkan ganti menyerang Darmawangsa sendiri pada tahun 1007.

Pada abad ke-11 Sriwijaya mulai lemah. Angkatan laut Colamandala datang menyerang. Sriwijaya adalah negara besar. Kita bangga, hormat dan berterima kasih pada pembina-pembina dan pengatur kerajaan Sriwijaya dan rakyatnya. Demikian artikel sejarah penulis bagikan kepada Anda. Semoga tulisan ini bisa menambah wawasan Anda untuk lebih mencintai kebudayaan Nusantara!

Daftar Pustaka:

Kutojo, Sutrisno. 1982. Pejuang Bangsa. Jakarta: Penerbit Miswar.

Bagikan artikel ini melalui:

4 Replies to “Sakyakirti, Guru Besar Penyebar Agama Budha dari Kerajaan Sriwijaya dan Pusat Studi Buddha di Asia Tenggara”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *