Sultan Nuku, Pendekar Tua Penentang Monopoli Perdagangan Belanda di Wilayah Ternate dan Tidore

Legenda Hikayat Raja Arief Imam by Hidayat Said
Legenda Hikayat Raja Arief Imam by Hidayat Said

Siapakah Sultan Nuku? Nuku Muhammad Amiruddin adalah putera kedua Sultan Tidore, Jamaluddin yang memerintah mulai tahun 1767 sampai dengan tahun 1780. Ia dilahirkan pada tahun 1738. Nama kecil Sultan Nuku adalah Kaicil Syaifuddin. Sebagai seorang putera Sultan, Nuku dapat mendengar lebih nyaring, dan melihat lebih jelas tentang keadaan negara dan bangsanya. Ia sering mendengar cerita-cerita yang disampaikan paman, kakek dan neneknya mengenai Maluku di jaman dulu.

Mereka berceritera, “Syaifuddin, keadaan tanah air kita sekarang berlainan dari pada di jaman dulu. Sekarang kita tidak mempunyai kebebasan untuk menjual lada dan cengkeh. Tetapi dahulu, sebelum orang-orang barat datang kemari kita sungguh-sungguh bebas. Kita berdagang dengan saudagar-saudagar dari Makasar, Jawa, Malaka, bahkan India dan negeri Cina. Perdagangan itu menyebabkan kita menjadi makmur.”

“Tetapi orang-orang Barat itu melarang kita berdagang secara bebas. Mereka memaksa kita menjual pala dan cengkeh kepada mereka saja. Lagi pula harganya ditekan serendah-rendahnya. Mereka pula yang menentukan banyaknya tanaman. Kalau berlebih tanaman-tanaman kita, dipangkasnya semau-maunya saja. Kalau kurang dipaksanya kita menanam secepat-cepatnya.” lanjutnya.

Pangeran Nuku yang masih kecil sering menyela, “Mengapa kita tidak melawan?”

“Seringkali kita melawan. Kadang-kadang menang, tetapi lebih seringlagi kita kalah. Barangkali karena kita kurang lengkap senjata. Tetapi terutama sekali, karena kita tidak bersatu. Korban sudah banyak, Syaifuddin. Banyak orang-orang kita ditawan dan dibawa ke Jawa atau ke pulau Sailan. Mereka tidak pernah pulang!” jawabnya

Cerita kakek dan paman Pangeran Nuku itu benar-benar mempengaruhi alam pikirannya. Di dalam hatinya ia bertekad akan melawan penjajah Belanda. Pangeran Nuku lalu belajar berbagai ilmu dan keterampilan hidup. Sebagai anggota kerajaan, ia memiliki tugas melanjutkan kepemimpinan ayahnya.

Awal Perjuangan Sultan Nuku

Sesudah Pangeran Nuku dewasa, makin teballah keyakinannya bahwa penjajahan itu memang bertentangan dengan peri keadilan dan peri kemanusiaan. Pada tahun 1780 terjadilah hal yang luar biasa. Sudah sejak lama hubungan antara ayah Nuku, Sultan Jamaluddin dengan VOC itu tidak baik. Belanda selalu mencurigai Sultan, bahkan Sultan dikatakan pelindung bajak laut dan penyelundup. Disinilah dimulai perjuangan Pangeran Nuku dalam mengusir Belanda.

Rupanya tahun 1780 adalah puncak pertentangan. Pada tahun itu Belanda menangkap Sultan Jamaluddin, dibawanya ke Batavia dan terus dibuang ke pulau Sailan. Dengan ditangkapnya Sultan Jamaluddin maka pemimpin Kerajaan Tidore tidak ada lagi. Bukan main gegap-gempitanya suasana di istana Soa Siu, pusat Kerajaan Tidore. Pangeran Nuku marah sekali. Ia sudah hampir gelap mata dan mau melawan Belanda pada waktu itu juga.

Tetapi ayahnya sebelum dibuang masih sempat berkata, “Nuku, dengarkan baik-baik. Kalau kau mau mengangkat senjata dan melawan Belanda, persiapkan dulu alat-alat senjata dan perlengkapan. Jangan keburu nafsu!”

Pangeran Nuku patuh pada ayahnya. Ia menjadi tenang kembali, tetapi perlakuan Belanda yang sewenang-wenang terhadap ayahnya, sungguh-sungguh melukai hatinya. Baru saja Nuku mengalami penghinaan, Belanda sudah memukulnya lagi untuk kedua kalinya.

Sebenarnya, Nuku yang lebih berhak menjadi Sultan menggantikan ayahnya, tetapi Belanda mengangkat saudaranya, Patra Alam sebagai Sultan. Patra Alam dikenal sebagai seorang yang lunak terhadap Belanda. Nuku makin keras sikapnya terhadap Belanda, sehingga orang Belanda itu memutuskan untuk menangkap Nuku, bersama adiknya Kamaluddin.

Malang bagi Kamaluddin, Belanda berhasil menangkapnya, tetapi Nuku lebih licin. Ia sempat lolos dan sejak itu Nuku bertekad mengadakan gerakan melawan Belanda dari tahun 1781 sampai dengan tahun 1801. Ia memilih Seram Timur sebagai markas besarnya. Kisah perjuangan Sultan Nuku tidak berhenti sampai disini.

Sultan Nuku Berperang

Tiada berapa lama suara tifa berbunyi bertalu-talu memanggil para pejuang untuk mengusir Belanda dari tanah air. Bendera perang melambai-lambai memenuhi angkasa menggetarkan jiwa merdeka putera-putera Maluku. Dengan penuh semangat dan kegembiraan datang berduyun-duyun para pahlawan laut dengan kora-koranya penuh senjata dan perbekalan perang.

Seluruh Maluku bergolak. Mulai dari Morotai, Waigeo, Salawati, Misool, Seram, Aru, Kai, Obi, dan Bacan datang para pejuang untuk menggabungkan diri pada Nuku. Mereka membangun benteng-benteng, menyebar ranjau-ranjau dan memasang meriam-meriam.

Pada tahun 1781, Nuku dinobatkan menjadi Sultan Irian dan Seram dengan gelar Maha Tuan Sultan Amiruddin Syaifuddin Syah Kaicil Paparangan. Kaicil Paparangan artinya raja perang, jadi Panglima Tertinggi. Daerah kekuasaannya meliputi Patani, Banda, Salawati, Missol, Seram Timur dan pulau-pulau sebelah tenggara Maluku sampai pulau-pulau Aru, Kai dan Irian Jaya.

Nuku mulai membangun kekuatan sesuai dengan pesan ayahnya. Sekali-kali ia mengadakan penyerangan juga terhadap iringan-iringan kapal Belanda di lautan. Serangan Nuku yang terbesar terjadi pada tahun 1783. Suatu armada kora-kora yang kuat di bawah pimpinan Hukum Doy menyerang Belanda di Halmahera. Serangan ini berhasil dengan memuaskan.

Tapi tidak jarang pula Belanda ganti melancarkan serangan-serangan pada Nuku seperti terjadi pada tahun 1799. Untung sekali, prajurit-prajurit Nuku sudah mengetahui terlebih dahulu akan bahaya yang mengancam. Mereka lalu bersembunyi di semak-semak di luar benteng.

Ketika pasukan Belanda mendarat, mereka menyangka lawannya sudah lari. Sekonyong-konyong dari semak-semak itu, keluarlah pasukan-pasukan Nuku dan menghalau orang-orang Belanda dari pantai. Mereka menderita banyak kerugian. Mereka itu kembali ke kapalnya masing-masing dan tidak menyerang lagi.

Sekarang pasukan Nuku ganti menyerang. Beratus-ratus kora-kora disiapkan dan kemudian mengepung benteng Belanda di Ternate. Pada tahun 1801, pasukan Belanda yang ada di Ternate menyerah. Lima ribu prajurit Nuku dengan berbaris rapi memasuki benteng Belanda di Ternate. Sultan Nuku mendapat kemenangan dan berhasil mengusir Belanda dari Ternate.

Pemimpin Bijak Sayang Rakyat

Selama tahun 1801 sampai dengan tahun1804, Nuku hidup aman dan damai. Selanjutnya Sultan Nuku mulai mencurahkan perhatian untuk kemajuan negerinya. Ia sering mengunjungi daerah-daerah pelosok di wilayah kekuasaannya. Tiga kali dalam setahun Sultan Nuku mengadakan perjalanan untuk mengenal kehidupan rakyatnya beserta permasalahan yang mereka hadapi.

Sekali ia lakukan perjalanan pada bulan Syawal, lepas Puasa. Kedua pada bulan Zulhijah sesudah Idul Adha atau Idul Qurban dan terakhir pada bulan Rabiul Awal sesudah Maulud Nabi. Sultan Nuku adalah pemimpin yang dicintai rakyat. Rakyat percaya, bahwa Nuku adalah Jou Barakati, artinya Sultan yang diberkati Allah. Kepemimpinan yang ditunjukkan oleh Sultan Nuku harus kita teladani dalam kehidupan sehari-hari.

Terdapat cerita rakyat yang berkembang dari mulut ke mulut di wilayah Ternate dan Tidore. Rakyat setempat percaya, bahwa Nuku bisa berbuat hal-hal yang luar biasa. Cerita rakyat turun-temurun mengisahkan apabila Nuku mau merokok di serambi kerajaannya, tidaklah perlu pelayan mengantarkan api.

Cukuplah kalau Sultan Nuku mengayunkan cerutu atau pipanya ke arah api yang nampak di atas sebuah gunung di Halamahera, maka rokoknya akan menyala. Benar tidaknya cerita itu, kita tidak tahu. Setidak-tidaknya cerita itu menunjukkan, bahwa Nuku adalah seorang Sultan yang berjiwa kerakyatan atau demokrasi.

Sultan Nuku adalah orang yang mandiri. Hal yang dapat ia kerjakan sendiri, niscayalah ia lakukan sendiri, tanpa menunggu palayan. Nuku adalah orang besar. la sudah menunjukkan dengan amal perbuatan bahwa kemerdekaan suatu bangsa wajib dihormati.

Pada tanggal 14 Nopember 1805, pendekar tua yang mencapai usia 67 tahun dan sudah berjuang selama kurang lebih 40 tahun telah berpulang ke rakhmatullah. Perjuangan Sultan Nuku dalam menentang monopoli perdagangan Belanda di wilayah Maluku harus kita teladani. Semoga kisah kepahlawanan Sultan Nuku ini bisa menambah semangat Anda dalam mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Daftar Pustaka:

Kutojo, Sutrisno. 1982. Pejuang Bangsa. Jakarta: Penerbit Miswar.

Bagikan artikel ini melalui:

2 Replies to “Sultan Nuku, Pendekar Tua Penentang Monopoli Perdagangan Belanda di Wilayah Ternate dan Tidore”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *