Bagaimanakah Rasanya Anak Muda Berdakwah di Desa?

Teruslah berdakwah sampai Allah berkata saatnya pulang.
Teruslah berdakwah sampai Allah berkata saatnya pulang.

Saya tidak pernah bercita-cita untuk menjadi orang yang dikenal dan disegani disegani oleh masyarakat. Setiap tindakan yang saya lakukan dituntun oleh naluri hati untuk berbagi manfaat dengan sesama. Kalaupun saat ini orang-orang mengenal saya sebagai orang yang baik, itu karena semata-mata Allah sedang menutupi kejelekan saya di mata masyarakat. Sesungguhnya terdapat kelebihan dan kekurangan pada setiap diri manusia. Tinggal bagaimana pintar-pintarnya kita menunjukkan kebaikan diri untuk menginspirasi orang lain.

Sungguh bukan perkara yang mudah untuk kembali ke desa setelah bertahun-tahun kita terbiasa hidup di kota dengan segala budayanya. Kehidupan kota memang cenderung melupakan kita pada hal-hal yang berbau kemanusiaan, kehidupan bermasyarakat, dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Setelah bertahun-tahun hidup di kota dan kembali ke desa tentu merupakan usaha yang tidak mudah. Tugas utama pelaku ruralisasi adalah mengikuti alur kehidupan masyarakat yang cenderung guyub rukun, suka bergotong-royong, dan dekat dengan kehidupan agama.

Kita semua membutuhkan titik balik. Ini adalah sebuah titik di mana kita mampu mengakhiri lingkaran setan dan memecah perbuatan yang membawa kita pada hal-hal yang dianggap tidak baik oleh masyarakat. Titik balik itu berbeda-beda bentuknya. Seringkali kita kita harus memaksakan diri untuk bisa mendapatkan sebuah pencerahan hidup. Pencerahan hidup biasanya dikaitkan dengan kehidupan keagamaan dan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Orang yang mampu melaksanakan ajaran agamanya dan mematuhi peraturan kehidupan bermasyarakat maka dia dianggap orang yang baik.

Sebagai seorang lajang yang tugas sehari-harinya adalah mendidik anak-anak maka sudah selayaknya setiap orang memberikan gunjingan terhadap statusnya. Bagaimana bisa ia mendidik anak-anak sementara dirinya sendiri belum mampu memberi contoh dalam kehidupan nyata dalam bentuk membangun keluarga. Inilah sebuah tantangan besar yang harus dijawab oleh para pendakwah muda di desa-desa. Masyarakat cenderung menggunakan akal dan logika mereka dalam menilai orang lain. Sangat sedikit diantara mereka yang mau memahami latar belakang kehidupan orang-orang yang mereka bicarakan.

Lihatlah orang lain dengan lebih dekat. Anda tidak akan bisa menilai sesuatu hanya dengan melihat dan mendengarnya saja. Pahamilah gerak dan tingkah lakunya setiap saat sehingga penilaian Anda merupakan sebuah penilaian yang utuh dan tidak terpisah-pisah. Seorang manusia memiliki karakter yang utuh. Karakter itu tidak dapat dipisah-pisahkan dengan perilaku yang lain. Sewajarnya anda mampu mengikuti gerak dan tingkah laku serta pikirannya dalam mendidik anak-anak anda di kampung sehingga Anda tidak akan sampai hati untuk membuat bahan lelucon yang tidak pantas.

Bagikan artikel ini melalui:

7 Replies to “Bagaimanakah Rasanya Anak Muda Berdakwah di Desa?”

  1. Orang-orang tua yang terkena sindrom Post Power biasanya memang begitu.
    mereka tidak mau melepaskan kekuasaannya dengan berikan wewenang kepada anak muda untuk berkarya.
    Apakah mereka berpikir bahwa mereka akan hidup seterusnya di dunia.
    satu saat nanti justru generasi muda itu yang akan mengambil alih pimpinan di kehidupan masyarakat.

  2. Ulasan yang sangat menarik sekali. Memang benar bahwa berdakwah agama di desa-desa saat ini seperti menggenggam bara api. Jika tidak kuat maka kita bisa terbakar oleh api di sendiri.

  3. Sing sabar mas. Wong sabar urusane lancar. Semoga apa yang diusahakan bisa tercapai dan memberikan manfaat untuk rakyat banyak.
    memang tidak mudah untuk melaksanakan semua itu.
    Tapi kalau tidak punya niat baik dan dilakukan dengan cara yang baik pula maka akan terlaksana dan tercipta tujuan kita.

  4. Berdakwah di desa harus tahan banting dan kebal telinga karena banyak sekali omongan di kiri dan kanan yang nggak suka tingkah laku kita. Perbuatan yang jelek aja dicibir oleh masyarakat, apalagi kalau berbuat baik pasti banyak yang menghalang-halangi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *