Gali Inspirasi dari Tetes Embun Pagi

Hening pagi membawa langkah kaki pada tanah berdebu di kemarau tengah tahun ini. Segar dan menenangkan. Sebuah kemahalan yang sudah lama tidak pernah kurasakan. Embun yang bening mencuci segala kotornya hati. Kembali pada yang fitri, kembali untuk menikmati setiap mimpi.

Embun hadir untuk segera diterbangkan sinar mentari. Setiap hari siklus ini terjadi. Entah mengapa ia datang dan menghambakan diri dengan kesetiaan. Ia sadar setia hanya untuk sementara. Akan datang satu masa saat keperkasaan surya memaksa rerumputan menyajikan upeti kepada yang tak pernah hilang dahaganya.

Pagi yang penuh dengan kesejukan, tapi mengapa hati ini masih terasa kering kerontang. Di manakah kesejukan yang telah hilang bermuara saat ini. Apakah hari ini sudah terlalu lelah untuk disirami embun pagi.

Kemanakah perginya tetesan embun tadi malam yang mampu memberikan pemandangan sejuk di setiap pepohonan hutan menghijau. Mengapa pula matahari bersinar terlalu awal sehingga panasnya membakar tetes embun pagi ini.

Bilakah datang mendung di siang hari dan membawa pekabaran baru untuk menghasilkan titik-titik air yang menyejukkan rerumputan hijau. Ataukah aku harus menunggu datangnya pelangi di sore hari usai gerimis menyapa dedaunan hijau

Air hujan pun tampak menari-nari di atas jalan beraspal yang kulalui setiap pagi. Dan itulah setiap jalan yang memberikan cerita kelak di kemudian hari Tentang Rasa dan makna dalam suka dan duka.

Aku tidak tahu Sampai kapan aku dapat melewati sepuluh purnama bersamamu yang Terasa bagai satu hari saja. Mungkin saja semua yang pengalaman ini bisa menjadi cerita bagi anak cucu kita yang telah merasakan manis dari buah perbuatan kita.

Bagikan tulisan ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *