Ini Bukan Nafas Terakhir Kehidupanmu

Sahabat dan Kawan adalah tempat berlabuhnya hati yang sedang lelah
Sahabat dan Kawan adalah tempat berlabuhnya hati yang sedang lelah

Lelahmu hati adalah simbol gundahnya jiwa. Raga terlalu lemah untuk menahan beban dunia fana. Rebahkan tubuhmu di pundakku. Rasakan hangatnya energi yang terserap oleh jari-jemari. Nikmati setiap detik pada hembusan nafas yang semakin lemah. Atur nafas dan hirup aroma alam keheningan ini. Engkau akan sadar aku tidak akan pernah meninggalkanmu di penghujung tahun ini, walau sedetikpun.

Pandanglah bayangan dewi malam yang bertahta di balik awan. Dia selalu tersenyum walau tidak pernah menemukan cahaya mentari. Manakala malam menjelang dia justru memberi penerangan pada pejalan kaki. Pandanglah wajah dewi malam yang berlubang oleh tumbukan meteor liar. Dia selalu terlihat menawan walau raga tak secantik Dewi Sinta. Dewi malam simbol pengorbanan diri seorang yang selalu setia berbagi.

Setelah semua itu telah tampak nyata dalam pikiran bawah sadarmu, engkau akan terbangun dengan desah nafas terburu. Ternyata aku masih hidup. Ternyata aku masih dapat menghirup udara segar. Itu semua dapat terjadi karena ini adalah kenyataan. Adalah sebuah kenyataan ini bukan nafas terakhir kehidupanmu. Gunakan nafas itu selama Sang Kuasa mempercayakan padamu. Engkau akan tahu nikmat surgawi manakala nafas itu terberkahi.

Alih masa bukanlah sekedar berganti jam. Itulah alih pemikiran diri bahwa nafas yang terberkahi akan membawa manfaat sejati. Sekarang ataupun nanti, alih masa adalah siklus alami. Tak perlu euforia. Tak guna pesta-pora. Semoga aku dan engkau selalu bernafas dalam kuasa dan lindungan Ilahi.

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

One thought on “Ini Bukan Nafas Terakhir Kehidupanmu”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *