Mendidik Anak Gunung Melalui Rumah Baca Asemgede

Mendidik Anak Gunung Melalui Rumah Baca Asemgede
Mendidik Anak Gunung Melalui Rumah Baca Asemgede

Masa kanak-kanak adalah masa tumbuh kembang fisik dan mental yang akan mempengaruhi kehidupan mereka pada masa remaja, dewasa dan seterusnya. Membekali anak-anak dengan pendidikan yang memadai adalah salah satu kebutuhan utama saat ini. Hal itu berlaku dimana saja, tak terkecuali terhadap anak-anak yang tinggal di daerah pedalaman hutan. Mereka membutuhkan sumber informasi yang ilmiah, terkini, terpecaya, sekaligus mudah didapatkan dalam beberapa langkah.

Rabu, 27 Juli 2016 siang hari itu sekelompok anak-anak Desa Asemgede Kecamatan Ngusikan Kabupaten Jombang sedang menghabiskan waktu bermainnya di halaman Balai Desa Asemgede. Mainan mereka bukanlah bola maupun kayu jati yang biasa mereka dapatkan di dalam hutan. Siang itu mereka asyik memegang buku seraya membalik-balik beberapa halaman yang mereka anggap asyik. Sebagian anak-anak itu hanya menyukai gambar-gambar menarik yang terpampang di beberapa halaman. Sebagian lagi asyik merangkai kata demi kata yang mengandung informasi.

Asemgede memiliki sebuah perpustakaan mini yang di dalamnya terdapat dua rak buku. Tak kurang dari seribu buku telah berjejer rapi di rak itu. Begitu rapinya sampai tidak ada seorang pun yang mau menyentuh buku itu. Penuh debu dan masih bau pabrik kertas, itulah dua ciri buku-buku perpustakaan yang berada di sudut utara Balai Desa Asemgede. Debu itu sedikit terkikis manakala para mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Universitas Hasyim Asyari mulai membongkar kebekuan celah baca. Mahasiswa KKNT menawarkan cara mengatasi masalah rendahnya kran informasi ilmu pengetahuan melalui pengefektifan perpustakaan desa.

Sabtu, 3 September 2016 berdiri Rumah Baca Asemgede sebagai bentuk penyederhanaan nama perpustakaan desa yang terkesan angker. Rumah Baca Asemgede berada di pojok utara Balai Desa Asemgede dan diharapkan dapat menjadi cikal-bakal pusat taman bermain dan belajar bagi anak-anak di salah satu desa terluar Kabupaten Jombang itu. Proses pendirian Rumah Baca Asemgede memakan waktu lumayan lama dari target awal. Tidak mudah meyakinkan warga setempat, terutama pihak pemangku jabatan di desa, untuk mendirikan sebuah rumah baca yang bisa diakses anak-anak dengan mudah. Secara perlahan, pendampingan rumah baca itu berjalan sesuai harapan.

Pihak pertama yang saya harapkan mampu menjadi motor penggerak Rumah Baca Asemgede adalah Karang Taruna Fajar Bakti Desa Asemgede. Pada kesempatan pertama saya menemui Ketua Karang Taruna masih belum menemukan titik temu. Selanjutnya saya bertemu Bu Bidan Ketua Posyandu dan Bunda PAUD desa setempat. Dari situlah saya menemukan secercah harapan bahwa kelak Rumah Baca Asemgede mampu berkontribusi secara nyata dalam usaha membiasakan anak-anak membaca buku setiap hari.

Desa Asemgede berada di tengah hutan dan dikelilingi wilayah pegunungan sehingga akses internet dan operator telepon seluler sangat minim, bahkan tidak ada sama sekali. Hal ini menjadi kendali sekaligus berkah tersendiri bagi kami para inisiator Rumah Baca Asemgede. Tidak adanya akses internet memang menyulitkan pelajar mengakses sumber informasi dari dunia maya. Namun hal itu justru menjadi lahan subur bagi berkembangnya akses informasi dari dunia nyata, khususnya melalui aktifitas membaca buku teks. Semoga Rumah Baca Asemgede bisa menjadi wahana berpikir dan taman berkreasi bagi anak-anak yang tingga di desa setempat. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *