Minta Maaf Lewat WA, Warga Kampung Sepi Kunjungan Silaturahmi

Halal Bihalal Keluarga Besar Sekolah Dasar Kecamatan Mojowarno Tahun 2018
Halal Bihalal Keluarga Besar Sekolah Dasar Kecamatan Mojowarno

Hari Raya Idul Fitri telah tiba. Umat muslim di seluruh dunia bersuka cita menyambut datangnya hari kemenangan. Inilah hari yang dinanti-nantikan setelah sebulan lamanya dinanti-nantikan setelah sebulan lamanya setelah sebulan lamanya umat muslim berpuasa. Umat Islam di Indonesia merayakan Hari Raya Idul Fitri tahun ini ini tahun ini ini pada hari Rabu, 5 Juni 2019. Pelaksanaan Hari Raya Idul Fitri oleh warga Dusun Guwo Desa Latsari Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang ditandai dengan kegiatan shalat Idul Fitri berjamaah di Masjid Baitussalam berjamaah di Masjid Baitussalam. Jamaah shalat Idul Fitri meluber hingga ke arah timur bangunan masjid dan ke gang-gang kecil di sela-sela rumah warga. Shalat Idul Fitri tahun ini dipenuhi oleh warga setempat dan warga yang pulang kampung.

Penulis hadir lebih awal di Masjid Baitussalam. Penulis tiba di masjid pada pukul 05.15 WIB disaat masjid itu masih sepi jamaah. Disana hanya ada empat orang anak kecil yang sedang membaca takbir melalui pengeras suara. Selama sekitar satu jam sudah penulis berdiam di dalam masjid sambil mendengarkan bacaan takbir. Tak lama kemudian seluruh jamaah Masjid Baitussalam memenuhi halaman dan bersiap untuk melaksanakan shalat Idul Fitri. Shalat Idul Fitri berlangsung dengan hikmat dan kusuk. Anak-anak kecil tidak terlalu ramai. Demikian juga suara tangisan anak kecil tidak terdengar hingga satu jam pelaksanaan khotbah Idul Fitri.

Setelah mengikuti shalat Idul Fitri dan mendengarkan khutbah Idul Fitri, para jamaah masjid Baitussalam pun bersiap kembali ke rumah masing-masing. Sebagai kecil di antara mereka masih bertahan di dalam masjid untuk mengikuti kegiatan sedekah makanan. Puluhan kepala rumah tangga yang tinggal di sekitar Masjid Baitussalam datang dan membawa seember aneka makanan, buah-buahan ataupun minuman. Mereka berkumpul di teras masjid dan halaman rumah warga di depan masjid. Kegiatan makan bersama usai melaksanakan salat Idul Fitri menandai bahwa puasa Ramadhan telah usai. Setiap warga tampak bersukacita mengikuti acara makan bersama di teras masjid Baitussalam ini. Mereka pun membawa pulang oleh-oleh makanan untuk dibagikan kepada keluarga di rumah.

Perayaan hari raya Idul Fitri ditandai dengan kegiatan silaturahmi dari rumah ke rumah warga. Pagi hari setelah shalat Idul Fitri menjadi waktu yang membahagiakan. Warga muslim mengunjungi tetangga mereka yang ada di sekitar rumah. Tak terlupakan, orang tua mereka yang masih hidup pun menjadi tujuan silaturahim yang utama pada hari raya Idul Fitri. Kegiatan saling berkunjung dan silaturahim ini ditandai dengan ucapan meminta maaf. Jalan-jalan desa dipenuhi oleh hiruk-pikuk warga yang saling berkunjung dengan berjalan kaki ke rumah-rumah tetangga mereka. Acara ini berlangsung mulai pukul tujuh pagi hingga menjelang pukul sembilan pagi. Anak-anak kecil pun tampak senang karena mereka mendapatkan uang saku dari tetangga mereka.

Jalan-jalan kampung mulai sepi pengguna menjelang pukul sepuluh siang. Anak-anak kecil pun tidak banyak yang keluar rumah untuk bersilaturahim ke rumah tetangga mereka. Hal ini berlanjut hingga sore hari. Anak-anak kecil tidak lagi berminat untuk berkunjung ke tetangga mereka yang berada disekitar rumah. Mereka lebih tertarik berkumpul di warung kopi kopi sambil menikmati koneksi internet WiFi bersama teman sebaya. Walaupun sebagian diantara mereka mendapatkan tugas dari sekolah untuk bersilaturahim kepada tetangga dan guru-guru mereka, namun hal itu tidak mengurangi semangat mereka untuk berkumpul dengan teman-teman mereka di lokasi yang tersedia koneksi Wifi, baik secara gratis maupun berbayar.

Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa kecanggihan teknologi modern telah mengubah cara manusia dalam berkomunikasi. Sepuluh tahun yang lalu mungkin kita masih terbiasa untuk mendatangi rumah-rumah warga dan saling berminta maaf di hari Lebaran. Tapi untuk hari raya Idul Fitri tahun ini acara minta maafnya dilakukan melalui telepon genggam, lebih khusus lagi melalui aplikasi WhatsApp. Warga pun sepertinya mulai enggan keluar rumah. Mereka meminta maaf melalui aplikasi komunikasi di internet. Makanan dan aneka kue lebaran tidak banyak berkurang. Warga menikmati sajian kue lebaran di rumah mereka masing-masing. Hanya sedikit warga, kerabat dan sanak saudara yang berkunjung dari rumah ke rumah.

Pergeseran perilaku manusia modern dalam bersilaturahim sedikit banyak telah mengurangi nilai kesakralan dari hari raya Idul Fitri. Kegiatan tatap muka untuk meminta maaf dianggap tidak penting. Sebagai timbal baliknya, ingatan mereka terpaku pada pesan singkat yang terdapat pada telepon genggam yang mereka miliki. Bagaimana dengan perkembangan perilaku silaturahim di hari lebaran di tempat tinggal Anda? Apakah warga sekitar tempat tinggal Anda juga meminta maaf melalui aplikasi WhatsApp? Silakan berbagi cerita di kolom komentar.

Bagikan tulisan ini:

4 Replies to “Minta Maaf Lewat WA, Warga Kampung Sepi Kunjungan Silaturahmi”

  1. Tidak usah heran dengan perkembangan zaman. memang demikianlah dunia ini semakin tua dan semakin sedikit rasa kemanusiaannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *