Orang Pintar Rebutan Pengaruh di Bulan Puasa

Seni Kaligrafi pada Pintu Masuk Obyek wisata unik Masjid Perut Bumi di Kota Tuban
Seni Kaligrafi pada Pintu Masuk Obyek wisata unik Masjid Perut Bumi di Kota Tuban

Terlalu banyak persediaan orang pintar bisa menyebabkan kekacauan di masyarakat. Orang-orang berpenampilan pintar berusaha mengambil peran dalam kehidupan beragama di masyarakat pada bulan Ramadhan ini. Sungguh ramai. Bahkan sangat ramai. Pak Haji belum bisa move on dari masalah kepercayaan yang menderanya. Para kaum pintar pendatang baru merangsek ke jalur depan. Seolah tidak ada sekat pintar dan bodoh di rongga pikiran, semua warga berlomba menjadi pemimpin. Ini bagus. Tapi kalau semua ingin jadi pemimpin, lantas siapa yang bersedia dipimpin?

Masalah krusial dalam peradaban Islam jaman now bukanlah kekurangan persediaan orang cerdik nan pandai. Justru berlebih stok manusia pintar yang melahirkan generasi pembangkang era kekinian. Lihat saja betapa rumitnya menyambung tali kerukunan antara ta’mir masjid dan ta’mir musholla, antar ta’mir musholla satu dengan musholla lain, dan antara pemuka agama dan pemerintah desa. Setiap pihak mengklaim paling berkuasa atas hajat hidup orang banyak. Sepertinya semua kaum pintar tampil ke muka jelang pemilihan umum tahun ini dan tahun depan.

Tak hendak berprasangka buruk, saya menyukai setiap jenis perubahan menuju kebaikan bersama. Namun jangan sampai niat membangun kerukunan terkotori oleh pamrih yang terselip di hati secara massal. Bahaya jadinya! Anda bisa bayangkan apa jadinya kalau para pencari muka itu gagal dalam misi pencalonan diri dalam pemilu. Bisa-bisa mereka bakal merusak tatanan yang sudah mereka buat sendiri. Dampak dektruktif hal itu lebih berbahaya daripada seragan dari luar. Mengapa? Karena mereka sendiri yang menciptakan sistem itu dan mereka lebih tahu bagaimana cara merusaknya secara permanen. Naudzubillah!

Munculnya gerakan pembaharuan dalam perkembangan Islam di pedesaan bukanlah hal yang baru. Ini sudah bisa diprediksi sejak jauh hari sejak para dedengkot ta’mir masjid berkuasa puluhan tahun silam. Para sesepuh yang terjangkit post power syndrome merasa kebakaran jenggot saat para pembaharu menampakkan aksi nyata di masyarakat. Mereka memberi fatwa para pemuda berusaha ngowahi adat yang sudah berlangsung lama dan diterima secara umum sebagai sebuah kebenaran. Jika kebiasaan itu tidak bersesuaian dengan norma agama, lantas kenapa kepala agama (baca: imaduddin alias pak modin) tidak menunjukkan itikad meluruskan.

Anda tidak perlu heran jika nanti mendapati kabar kisruh antara golongan tua dan golongan muda dalam perkembangan Islam terkini. Itu sudah bisa ditebak. Seperti efek domino dalam perjudian klasik. Sebuah kesalahan kecil di awal melangkah bisa menyebabkan mati langkah di kemudian hari. Apa solusinya? Putuslah periode buruk komunikasi lintas generasi ini. Dudukkan semua pihak yang terlibat untuk seia sekata mengakhiri lingkaran setan yang memuakkan ini. Pemerintah dapat bertindak sebagai mediator efektif dalam meluruskan benang ruwet.

Sebelum semua terlaksana, leburkan dulu ego diri. Tanpa kesediaan diri berbagi peran, mustahil ketertiban hidup bisa terlaksana. Bagaimana menurut pendapat Anda?

Bagikan artikel ini melalui:

9 Replies to “Orang Pintar Rebutan Pengaruh di Bulan Puasa”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *