Pengorbanan Tak Kan Terelakkan Dalam Menggapai Ridho Tuhan

Kebersamaan Ustadz dan para santri di TPQ Al-Mujahiddin Guwo Latsari Mojowarno Jombang
Kebersamaan Ustadz dan para santri di TPQ Al-Mujahiddin Guwo Latsari Mojowarno Jombang

Sesuai judul lagu Bang Haji di atas, pengorbanan tak kan terelakkan dalam menggapai ridho Tuhan. Jika Anda memiliki sebuah cita-cita mulia, terlebih lagi bila cita-cita mulia itu melibatkan masyarakat umum, sudah dipastikan Anda harus menanggung sejumlah besar pengorbanan dalam hidup. Orang lain tidak akan peduli seberapa sulitnya mencapai tujuan itu. 

Seperti halnya sore ini saya dibuat stress oleh keadaan di TPQ yang berubah di luar kendali. Sore hari pukul empat kurang seperempat saya memulai doa asmaul husna. Dua orang santri TPQ memimpin berdoa menggunakan pengeras suara. Kemampuan baca dan daya hafal Fachri dan Khafid tidak diragukan lagi. Mereka adalah para jawara lomba menghafal.

Permasalahannya berada di kelompok santri jilid 1 yang tidak bisa diam. Mereka terus berlarian di dalam masjid. Maklum, mereka adalah murid TK Kelas Nol Kecil. Kalau mereka suka bermain dan berlari itu sudah jadi kewajaran. Saya pun tidak dapat terlalu mengekang tingkah laku mereka layaknya para santri marhalah wustho yang sudah besar.

Kok saya menanggung keributan ini sendiri. Lalu, guru TPQ lainnya dimana?

Pengajar tetap di TPQ ini ada tiga orang. Selain saya, dua orang pengajar lainnya tidak dapat diharapkan mengelola kelas paket dasar jilid 1 sampai 3. Dan saya pun tidak terlalu berharap para mahasiswa KKN mengambil alih tugas ini. Saya harus sadar mereka itu tamu. Dan sebagai tamu saya tidak dapat memerintah terlalu banyak. Menjadi single fighter lagi? Tentu saja ya.

Inilah yang saya sebut sebagai pengorbanan. Saya terlanjur menyukai dunia pendidikan anak Islami. Disinilah saya merasa menemukan dunia yang selaras dengan kehidupan ruhani saya. Saya sudah memutuskan melepas sejumlah posisi strategis dalam karir kerja. Saya tidak menyesal dengan segala ruwetnya masalah yang terjadi di TPQ.

Berkorban waktu, tenaga, biaya, dan pikiran sudah pasti terjadi dalam mewujudkan cita-cita. Pria matang mana yang mau meribetkan diri mengajar anak usia dini tanpa dibayar? Mungkin hanya sedikit saja yang bersedia. Dan inilah pilihan hidup saya. Saya telah sadar segala konsekuensi logis dari jalan hidup yang dipilihkan Allah ini. Sekalipun tidak selalu berasa manis di lidah, setidaknya saya bisa menemukan ketenangan hati di balik lembaran-lembaran mushaf Al-Quran.

Bagikan artikel ini melalui:

11 Replies to “Pengorbanan Tak Kan Terelakkan Dalam Menggapai Ridho Tuhan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *