15 Kata-kata Bijak dari Amanat Cerita Hikayat Kalilah dan Dimnah

Cerita Rakyat Sulawesi Barat Legenda Si Kembar Sawerigading dan Tenriyabeng
Cerita Rakyat Sulawesi Barat Legenda Si Kembar Sawerigading dan Tenriyabeng

Hikayat Kalilah dan Dimnah adalah karangan orang pandai Hindustan, yang penuh cerita-cerita yang indah-indah kias ibaratnya. Di dalam cerita Hikayat Kalilah dan Dimnah terdapat kata-kata bijak, kata-kata mutiara, nasehat bijak, dan amanat cerita yang mengandung pesan moral. Adapun orang pandai-pandai senantiasa berusaha supaya orang banyak dapat mengambil faedah daripada pengetahuan mereka. Untuk mencapai maksud itu banyak jalan yang mereka lalui dan diantara berbagai jalan inilah, kaum cerdik pandai menyusun hikayat sebagai kejadian dalam dunia binatang.

Dengan jalan demikian luaslah padang tempat memberikan nasihat, dan cerita main-main, tetapi pada batinnya kata yang berfaedah hikayat itu menjadi sempurna isinya, pada lahirnya seperti semata-mata. Oleh sebab itu cerita hikayat Kalilah dan Dimnah disukai orang banyak karena kata-kata mutiara yang terkandung di dalamnya. Orang bodoh suka karena olok-oloknya, dan orang pandai kiasnya yang indah-indah. Sehingga patutlah orang yang membaca cerita hikayat ini untuk mengetahui tujuan yang tersembunyi dalam tiap-tiap hikayatnya.

Apabila yang membaca hikayat Kalilah dan Dimnah tiada arif, ia tidak akan mengerti apa yang dimaksud penulis mengarangkan hikayat itu dan apa buah yang dapat dipetiknya dari cerita tersebut yang berisi nasehat bijak untuk kehidupan. Orang yang begitu, sekalipun berulang-ulang membaca hikavat ini, suatu pun tak ada faedah diperolehnya. Orang yang gemar membaca buku suka mengumpulkan berbagai bidang ilmu, tetapi tiada menggunakan pengertiannya sama dengan orang yang diceritakan orang pandai-pandai seperti dalam cerita hikayat Kalilah dan Dimnah.

Amanat #1. Memikirkan Kehidupan di Masa Depan

Nasehat bijak Hikayat Kalilah dan Dimnah  yang pertama adalah pikirkan selalu masa depan Anda. Pada suatu hari sedang seseorang berjalan-jalan terlihat olehnya tanda-tanda harta terpendam pada suatu tempat. Dengan segera digalinya tempat itu, dan sekonyong-konyong bersua olehnya sebuah peti besar penuh emas dan mata uang. Karena tamaknya terbitlah pikiran dalam hatinya, “Kalau aku sendiri mengangkat harta ini pun, niscaya lama baru habis. Sebab itu baiklah kuupah beberapa orang kuli supaya terbawa sekali jalan.”

Lalu dicarinya kuli beberapa orang, disuruhnya mengangkut harta itu. Tiap seorang diberinya beban sekuasanya memikul, dan mana yang sudah berbeban disuruhnya berjalan dahulu. Setelah semua kuli itu pergi dan dilihatnya tak ada sepotong juga yang tinggal, barulah ia berjalan pulang ke rumahnya. Alangkah herannya, ketika sampai di rumah, agak sekeping pun tak ada mata uang nampak olehnya.

Mengertilah ia bahwa kuli yang diupahnya itu telah membawa bebannya ke tempat masing-masing. Ia yang mendapat harta itu, yang menggalinya dengan susah payah dan telah memimpi-mimpikan kesenangan yang akan dirasainya, tiada memperoleh lebih daripada susah payah semata-mata.

Demikianlah halnya orang yang tiada memikirkan akhir sesuatu pekerjaan. Demikianlah pula orang yang membaca kitab hikayat Kalilah dan Dimnah ini, tetapi tiada mengerti apa isinya dan apa maksudnya. Tentulah tak ada suatu pun faedah yang dapat diperolehnya daripada tulisan dan gambaran buku ini semata-mata. Ibarat seseorang mendapat buah kenari, tentulah tiada akan mengenyam lezat cita rasa isinya, sebelum kulitnya yang keras dipecahkan lebih dahulu.

Amanat #2. Menyadari Kemampuan Diri Sendiri

Kata-kata mutiara Hikayat Kalilah dan Dimnah  yang kedua adalah sadarilah kemampuan Anda sendiri dan jangan berperilaku sombong. Orang yang mengerjakan sesuatu tidak dengan pengertian, sama halnya dengan seorang pemuda yang ingin hendak menjadi seorang pembicara yang pandai dan pasih. Lalu datanglah ia kepada seorang sahabatnya yang ahli berpidato, menceritakan maksudnya. Sahabat itu menyuruh membeli kitab penuntun berbicara, dan memperhatikan keterangannya. Buku itu dibeli oleh pemuda tadi dan dengan rajin dibacanya hingga hafal olehnya.

Pada suatu hari pergilah ia mengunjungi pertemuan orang pandai-pandai, dan di sana berbicaralah ia menurut contoh sebuah pembicaraan dalam kitab itu. Yang mendengar heran tercengang-cengang, lalu seorang di antara yang hadir berkata, “Perkataanmu tadi itu bukan tempatnya di sini.” “Masakan aku salah,” jawab pemuda tadi.

“Perkataanku itu tertulis dalam kitab penuntun berpidato. Dan kitab itu ada padaku.” Semua yang hadir tertawa mendengar jawabnya. Perkataannya itu hanya menambah celaan orang atas dirinya saja, dan kitab yang dibangga-banggakan tadi hanya menjadi bukti kebodohan juga. Nasehat bijak Hikayat Kalilah dan Dimnah dalam kisah ini adalah jangan bertingkah sombong dan sok tahu.

Amanat #3. Ilmu Harus Diamalkan

Kata-kata mutiara ketiga dalam Hikayat Kalilah dan Dimnah  adalah ilmu harus diamalkan. Kemudian setelah seseorang yang berakal mengerti akan kias ibarat cerita hikayat Kalilah dan Dimnah ini, haruslah pula nasihat-nasihat yang tersebut di dalamnya diamalkannya sebagaimana mestinya. Kalau ia tidak berbuat demikian maka ia ibarat seorang tuan rumah yang tahu bahwa maling telah masuk rumahnya, tetapi ia masih rebah juga. Pikirannya, baik kubiarkan seketika dan kulihat apa yang hendak yang diperbuatnya.

Apabila telah dikumpulkannya apa yang akan dibawanya, barulah aku bangun menangkapnya. Maka leluasalah pencuri itu masuk bilik ke luar bilik mencari barang-barang yang berharga. Dalam menunggu-nunggu demikian, datanglah kantuknya dan tertidurlah ia. Akan pencuri setelah banyak barang terkumpul olehnya, berjalanlah ia ke luar dengan senangnya.

Kemudian laki-laki itu pun terbangun. Tetapi sudah tidak gunanya lagi, barangnya yang berharga telah habis diambil pencuri. Maka disesalinya dirinya, dan mengertilah ia bahwa pengetahuannya tentang pencuri telah masuk rumahnya itu sedikit pun tidak gunanya, karena tidak ia mengerjakan sebagai yang dikehendaki pengetahuannya itu.

Nasehat bijak Hikayat Kalilah dan Dimnah menyatakan bahwa ilmu tidak sempurna melainkan dengan amal. Ilmu ibarat pohon, amal buahnya. Orang yang berilmu nampak ilmunya pada amalnya. Orang yang tiada mengamalkan ilmunya tidak dinamai alim. Jika seseorang tahu ada jalan yang berbahaya kalau ditempuh, kemudian ditempuhnya juga, ia bisa dikatakan orang bodoh.

Amanat #4. Hindari Dikendalikan Hawa Nafsu

Kata-kata mutiara Hikayat Kalilah dan Dimnah keempat adalah jangan sampai kehidupan Anda dikendalikan hawa nafsu. Orang yang mudah terperdaya oleh hawa nafsunya, dan tidak mengerjakan apa yang wajib atas dirinya menurut pengetahuannya sendiri, atau menurut yang diberitahukan orang kepadanya, sama halnya dengan orang sakit yang tahu makanan yang baik, mana yang tidak baik untuk dirinya, tapi karena rakus, dimakannya yang tidak baik itu. Dan orang yang demikian sekali-kali tidak dimaafkan orang kesalahannya.

Seperti seorang yang bermata baik jatuh ke dalam jurang bersama-sama dengan seorang buta. Akibat kesalahannya sama, tiada berlebih kurang, sama terperenyak dalam jurang itu. Tetapi yang bermata baik lebih besar kesalahannya daripada yang buta. Ke mana matanya dilihatkannya?

Kemudian haruslah seseorang yang terkenal mengutamakan dirinya lebih daripada orang lain. Ia menurut ilmu, jangan hanya untuk memberi petunjuk kepada orang, dan diri sendiri dilupakannya. Orang yang seperti itu sama keadaannya dengan mata air yang jernih, diminum orang airnya, tetapi bagi dirinya sendiri suatu pun tiada faedah airnya itu.

Amanat #5. Bercerminlah Pada Perilaku Sendiri

Seperti ulat sutra yang membuat sarangnya dengan rajin dan hati-hati, tetapi akhirnya orang lain beruntung karenanya, ia sendiri tidak. Karena itu wajiblah atas seseorang yang menuntut ilmu memperbaiki dirinya dengan ilmunya itu lebih dahulu. Sudah itu wajib pula baginya mengajarkannya kepada orang lain, karena seorang yang berakal hendaklah gemar berbuat baik.

Dan tiada layak seseorang mencela seorang lain, kalau celaan semacam itu ada pula pada dirinya. Orang yang mencari sesuatu, hendaklah menentukan tujuan dan batas pekerjaannya, jangan selamanya mencari saja. Orang pandai mengatakan orang yang sehari-hari berjalan saja dengan tiada kesudahannya, mungkin kendaraannya binasa tak dapat berjalan lagi.

Amanat #6. Selalu Mengingat Kematian

Memang tak ada perlunya manusia menyusah-nyusahkan dirinya mencari barang yang tiada hingganya. Dan tiada gunanya ia berdukacita kalau barang yang dicarinya itu tidak diperolehnya. Demikian pula jangan hendaknya dilebihkannya dunianya daripada akhiratnya. Seseorang yang tiada mempunyai tujuan dan batas dalam perjalanannya, tiada sedih hatinya kalau yang diadangnya tiada tercapai.

Orang yang pikiran dan tindakannya ditujukan untuk kekayaan dunia, maka dia akan menyesal saat kelak telah meninggal dunia. Kematian adalah hal yang pasti. Oleh karena itu manusia harus mencari bekal untuk hidup bahagia sesudah meninggal. Tidak elok menumpuk-numpuk harta jika kita tidak bisa membantu sesama dalam hal kebaikan.

Amanat #7. Jangan Menyerah Kepada Takdir

Sesungguhnya tak ada gunanya seseorang berakal menyesali dirinya karena suatu yang tidak dalam kuasanya, tidak dicapainya. Karena kerapkali Allah mentakdirkan baginya jalan lepas daripada kesusahannya, yang tidak tersangka-sangka olehnya. Ada seorang miskin yang telah kelaparan, tiada pula berpakaian lagi. Semua sahabat kenalannya telah didatanginya meminta pertolongan, tetapi tiada yang dapat menolongnya.

Pada suatu malam sedang ia tidur, tiba-tiba kedengaran olehnya pencuri masuk rumahnya, “Apa yang akan dicurinya di sini?” katanya. “Biarlah dicarinya sekehendak hatinya.” Dalam mencari-cari tiha-tiba pencuri itu teraba sebuah tempayan berisi gandum. Maka terniatlah hatinya hendak mengambil gandum itu, supaya jangan sia-sia kerjanya malam itu. Lalu dibukanya bajunya, hendak dibuatnya pembungkus gandum.

Melihat itu berkatalah si miskin dalam hatinya, “Kalau kubiarkan gandum itu dibawanya, celaka aku. Sudah tiada berbaju akan kelaparan pula.” Lalu diambilnya sebuah tongkat besar, dan berteriak ia dengan keras suaranya. Mendengar suaranya terkejutlah pencuri, lalu melompat lari. Bajunya tertinggal dan tidak sempat disambarnya lagi.

Yang punya rumah pun giranglah, karena dengan mudahnya juga ia beroleh baju. Sungguhpun demikian tak layak seseorang berserah saja kepada takdir tanpa berusaha mencari keselamatan yang perlu bagi hidupnya. Kejadian seperti yang diceritakan tadi jarang terjadi. Kebanyakan manusia harus membanting tulang mencari yang diingini.

Amanat #8. Teruslah Suka Berbuat Baik

Kemudian hendaklah seseorang berakal gemar menjalankan pekerjaan berfaedah dan menyingkirkan yang akan menyusahkannya. Sama halnya dengan burung dara yang bersarang di atap rumah manusia untuk bertelur dan beranak, lalu anaknya disembelih pemilik rumah. Akhirnya ia pergi dari situ.

Orang pandai-pandai berkata, tiga perkara yang wajib dijalankan tiap manusia dengan baik dan benar adalah perkara kehidupannya, perkara dengan sesama manusia dan ketiga berbuat baik untuk meninggalkan nama baik selama-lamanya. Jangan pernah berhenti berbuat baik karena kita tidak akan tahu perilaku baik mana yang akan menolong kita di kemudian hari.

Amanat #9. Berpikirlah Jernih dan Jangan Ceroboh

Seseorang yang berakal harus mencurigai nafsunya, jangan suka menerima apa saja yang dikatakan orang dan jangan suka tetap dalam kesalahan apabila telah nyata salahnya. Begitu pula jangan suka memulai sesuatu pekerjaan, sebelum terang benarnya dan jelas wujudnya.

Jangan ia serupa dengan orang yang telah menyimpang dari jalan yang harus dilaluinya, tiada mau surut lagi, hingga makin bertam-bah langkahnya bertambah pula letihnya dan makin jauh juga ia dari tempat yang ditujunya. Atau seperti orang yang kemasukan debu mata-nya, digosok-gosoknya, padahal perbuatannya itu merusakkan matanya saja, mungkin menjadikannya buta.

Amanat #10. Jangan Mengkhianati Kepercayaan Sahabat

Kemudian wajib pula bagi seseorang yang berakal percaya kepada takdir Allah, hati-hati bekerja, kasih kepada orang lain seperti kasih kepada diri sendiri, jangan suka mencari keuntungan diri dengan merugikan teman. Orang yang berbuat begitu sama halnya dengan seorang saudagar khianat kepada sahabatnya, akhirnya menyesal juga kesudahannya, seperti cerita yang berikut ini.

Ada dua orang saudagar bersepakat menyewa sebuah kedai. Yang seorang rumahnya dekat dari kedai itu. Maka terbitlah dalam hatinya hendak mencuri sebagian dagangan sahabatnya itu, lalu dicarinya akal. “Kalau aku datang malam hari,” pikirnya, “kuatir aku kalau-kalau barangku juga yang tercuri olehku. Jadi sia-sia jerih payahku.”

Supaya jangan terjadi yang ditakutinya itu, diletakkannya serbannya pada barang sahabatnya yang hendak dicurinya, lalu pulanglah ia. Sepeninggalannya datanglah sahabatnya. Ketika dilihatnya serban si khianat terletak pada barang kepunyaannya, disangka boleh jadi sahabatnya salah meletakkannya, lalu lupa.

Sebab itu supaya serbannya bersua olehnya kalau ia datang pagi esok hari, dipindahkannya serban itu ke tempat barang-barang si khianat itu. la pun pulang. Setelah hari malam datanglah si khianat dengan seseorang yang telah diajaknya sekutu. Sampai di kedai di raba-rabanya serbannya itu, dan serta teraba olehnya, disuruhnya angkat barang tempat serban itu terletak.

Karena barang itu berat, di tengah jalan berganti-ganti ia memikul dengan temannya tadi, dan setelah sampai di rumah, terduduklah ia karena lelahnya. Setelah pagi hari kelihatan olehnya, bahwa yang dibawanya berpayah-payah semalam itu ialah barang kepunyaannya juga. Maka menyesallah ia tiada putus-putusnya, lalu berjalanlah ia pergi ke kedai.

Di sana dilihatnya sahabatnya sudah lebih dahulu tiba. Saudagar yang benar itu sedang bersusah hati melihat sebagian barang dagangan milik temannya dicuri orang. “Wahai malangnya diriku,” katanya. “Sahabatku yang setia telah mempercayakan barangnya kepadaku. Tiba-tiba karena lalaiku, barangnya itu telah dilarikan pencuri. Apa boleh buat, telah malang nasibku, biarlah kuganti kerugiannya itu.”

Melihat laku sahabatnya itu tidaklah tertahan hati si khianat lagi, lalu diakuinya kesalahannya. “Hai Saudara,” katanya, “Janganlah Saudara berdukacita, karena khianat itu adalah sifat yang sebusuk-busuknya. Tipu dan kecurangan tiada akan membawa kebaikan dan yang mengerjakannya tak dapat tidak akan menyesal selama-lamanya. Yang berbuat serong juga yang akan memetik buah kejahatannya. Dan saya pun telah terpedaya menurutkan nafsu. Saya yang bersalah.”

“Bagaimana mulanya maka Saudara berkata begitu?” tanya sahabatnya itu. Si khianat pun lalu menceritakan hal ikhwalnya dari permulaan sampai kesudahannya, suatu pun tiada disembunyikannya. “Kelakuan saudara itu sama dengan kelakuan seorang pencuri yang masuk ke dalam rumah seorang saudagar,” kata sahabat itu pula setelah mendengar ceritanya.

“Dalam rumah itu ada dua buah tempayan, yang satu penuh berisi gandum dan yang satu lagi berisi emas. Kedua tempayan itu sudah lama diintai. Pada suatu rnalam masuklah pencuri, lalu bersembunyi di sudut rumah. Setelah yang punya rumah tidur lelap, dengan terburu-buru dipikulnya sebuah di antara kedua tempayan itu.

Sangkanya tentu yang berisi emas yang terbawa olehnya. Oleh karena tempayan itu amat berat, sampai di rumah rebahlah ia. Tetapi alangkah kecewa hatinya, tatkala dibukanya dilihatnya hanya gandum isinya.”

Makin bertambah malu si khianat mendengar kata sahabatnya itu dan disesalinya kesalahannya, seraya berjanji akan tobat, tiada akan berbuat yang demikian lagi selama-lamanya. Temannya yang baik hati itu pun menerima permintaan maaf sahabatnya itu, lalu keduanya hiduplah bagai bermula pula.

Amanat #11. Bijaklah Membelanjakan Harta Benda

Adapun orang yang pandai menguliti hikayat ini dan mengambil isinya, adalah ia sebagai saudara yang termuda di antara tiga orang saudara yang telah kematian ayah dan menerima harta pusaka yang banyak. Kedua saudaranya yang tertua segera menghabiskan bagiannva dalam memuaskan nafsu, hingga tiada lama antaranya melaratlah ia.

Akan yang muda, melihat hal saudaranya demikian boros, berpikirlah ia dalam hati “Adapun harta,” katanya. “Bersusah payah manusia mengumpulkannya dengan segala jalan yang dapat, adalah untuk penyelamatan hidupnya, pemuliakan darajatnya di hadapan orang banyak, dan untuk pemelihara dirinya daripada bersandar kepada penilaian orang lain semata-mata.

Oleh sebab itu wajiblah harta dibelanjakan pada tempat yang semestinya, umpama untuk memperkuat tali kerabat, mencarikan keperluan anak istri, ataupun menolong sahabat. Adapun orang yang berharta, tetapi tiada membelanjakan pada tempatnya, terhitung fakirlah ia, sekalipun kaya. Tetapi jika pandai ia menjaga, pandai pula mempergunakannya, tak dapat tidak kekallah ia dalam bahagia, dan terpuji perbuatannya.

Orang yang membelanjakan hartanya bukan pada tempatnya yang patut, tentu sia-sia hartanya habis dan tak dapat tidak menyesal ia akhirnya. Oleh sebab itu biarlah kupeliharakan harta ini, mudah-mudahan diberi Tuhan paedah bagiku, dapat pula meringankan kesusahan kedua saudaraku. Jika kepada kerabat yang jauh pun berpahala berbuat baik, tentulah kepada saudara kandung lebih-lebih pahalanya. Apabila harta itu asalnya harta bapaku, bapa mereka pula.” Ketika itu dipanggilnya kedua saudaranya dan dibagi-bagikannya harta itu kepada mereka.

Amanat #13. Hindari Menilai Dari Kulit Luar

Kebalikannya, yakni orang yang terpedaya dengan kulit, tiada sampai kepada isi, lalai dengan bunyi cerita, tiada mengindahkan maksud tujuannya, orang itu sama halnya dengan seorang tukang pancing duduk memancing ikan di pinggir laut, lalu kena seekor ikan.

Ikan itu dilepas-kannya kembali, karena di dasar laut nampak olehnya sebuah lokan. Pada sangkanya tentu lokan itu berisi mutiara. Tetapi serta diselaminya kiranya kosong, suatu pun tiada isinya. Ia pun menyesallah melepaskan ikan yang telah di tangannya, karena loba akan beroleh barang yang lebih besar.

Esok harinya duduk pula ia memancing pada suatu tempat, dan beberapa lamanya dapat olehnya seekor ikan yang kecil. Di tempat itu nampak pula sebuah lokan, tetapi karena sangkanya akan kosong juga, tiadalah dipedulikannya. Kebetulan lalu seorang pengail lain, dan demi dilihatnya lokan itu, ia pun segera menyelam. Setelah dibukanya tiba-tiba di dalamnya ada sebuah mutiara yang mahal harganya.

Amanat #14. Jangan Lalai Terhadap Keindahan Dunia

Perumpamaan orang yang membaca cerita Hikayat Kalilah dan Dimnah ini, tetapi tiada memikirkan maksud dan tujuannya. Orang yang gemar membaca karena ceritanya yang lucu-lucu belaka, sama halnya dengan orang yang mendapat sebidang tanah yang subur, ditanamnya dengan bibit yang kemudian ketika buah tanamannya hampir masak, mulai ia lalai memeliharakannya, karena hatinya tertarik melihat segala jenis bunga-bungaan yang memenuhi ladangnya itu.

Maka dibiarkannya pohon-pohonnya dikalahkan semak, hingga rusak tanam-tanamannya, sia-sia semua pekerjaannya, sesuatu pun tiada hasilnya. Ia tidak akan panen hasil tanaman melainkan hanya melihat keindahan bunga yang tampak sesaat. Bacaan yang hanya digunakan sebagai gurauan belaka tidak akan memberikan manfaat jika tidak direnungkan secara mendalam untuk diambil hikmahnya.

Amanat #15. Otak Lebih Kuat Daripada Otot

Dalam salah satu kisah pengantar Hikayat Kalilah dan Dimnah diceritakan kemenangan Iskandar Zulkarnain dalam menaklukkan Raja Hindustan dengan kecerdikannya. Ia tidak hanya mengandalkan otot kuat saja, ia juga menggunakan otaknya untuk berperang. Bahkan kenyataan menunjukkan bahwa otak Iskandar Zulkarnain mampu mengalahkan otot Raja Hindustan yang dikenal hebat.

Lebih daripada itu, Baidada, sang penulis cerita asli Hikayat Kalilah dan Dimnah telah menunjukkan cara elegan dalam mengubah masa depan sebuah negeri. Ia tidak mengangkat senjata untuk berperang melawan kekejaman Raja Hindustan. Ia menggunakan pikiran untuk membuat cerita-cerita dalam Hikayat Kalilah dan Dimnah dan menyadarkan raja dari tindakan sewenang-wenang terhadap rakyatnya.

Demikian 15 kata-kata bijak yang bisa Anda temukan dalam cerita-cerita Hikayat Kalilah dan Dimnah. Semoga tulisan ini bisa memberi inspirasi untuk kehidupan Anda yang lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *