Asal-usul Sejarah Penulisan Cerita Hikayat Kalilah dan Dimnah

Cerita legenda buaya ajaib dari Nusantara
Cerita legenda buaya ajaib dari Nusantara

Apa kabar sobat blogger Jombang? The Jombang Taste kembali mengulas salah satu karya sastra prosa lama yang memiliki banyak makna, Hikayat Kalilah dan Dimnah. Banyak cara dilakukan orang cerdik-pandai untuk menasehati pemimpim lalim. Hikayat Kalilah dan Dimnah adalah salah satu petuah yang digunakan Baidaba untuk mengingatkan para raja yang menganiaya rakyatnya. Inilah latar belakang keadaan sosial-budaya yang melatarbelakangi sejarah penulisan cerita Hikayat Kalilah dan Dimnah.

Iskandar Zulkarnain Menyerang Hindustan

Pada zaman dahulu kala adalah seorang raja yang amat besar kerajaannya, bernama Iskandar Zukarnain. Baginda sangat gemar berperang menaklukkan kerajaan orang. Walaupun peninggalan baginda dari ayahandanya hanya sebuah kerajaan kecil di tanah Yunani, dalam pemerintahan baginda kerajaan itu telah menjadi berlipat ganda besarnya.

Setelah kerajaan-kerajaan di sebelah barat baginda taklukkan seluruhnya, berangkatlah baginda hendak menaklukkan negeri-negeri di timur. Dengan mudahnya juga negeri Syam dan Mesir serta beberapa negeri lain takluk ke bawah kekuasaan baginda. Dari sana baginda meneruskan perjalanannya hingga sampai ke tanah Hindustan.

Waktu itu di tanah Hindia memerintah Maharaja Fawar, yang besar kekuasaannya dan banyak bala tentaranya. Ketika Maharaja Fawar mendengar Sultan Iskandar hendak menyerang negerinya, bertitahlah baginda menyuruh segera menyiapkan alat kelengkapan perang. Tentara baginda mempunyai barisan gajah yang sangat ditakuti musuh. Dengan pertolongan barisan itu, besar harapan baginda akan dapat mengalahkan tentara Sultan Iskandar dengan mudah.

Akan tetapi Sultan Iskandar tidak kurang tipu muslihatnya. Dalam tentara baginda ada sepasukan tukang yang ahli-ahli terpilih dalam tiap-tiap negeri yang telah takluk. Ketika baginda mendengar bahwa Maharaja Fawar telah siap hendak menyambut baginda dengan alat kelengkapan yang jarang bandingannya, herhentilah baginda, lalu berpikir mencari akal. Maka bertitahlah baginda menyuruh ahli nujum mencari suatu hari yang baik untuk memulai penyerangan.

Siasat Perang Iskandar Zulkarnain

Kepada pasukan, baginda memerintahkan membuat beberapa buah patung dari tembaga yang kosong di dalamnya, berupa kuda, dikendarai oleh serdadu dari tembaga juga, dan kakinya diberi beroda supaya dapat dilancarkan. Setelah kuda-kudaan tembaga itu siap dan hari yang dipilih ahli nujum pun tiba, berkirim suratlah baginda kepada Raja Fawar untuk menyerahkan diri.

Demi Raja Fawar membaca surat itu, merah padam warna mukanya dan bertitah baginda menyuruh balas dengan kasarnya. Maka kedua belah pihak pun bersiaplah hendak berperang. Sultan Iskandar memerintahkan supaya kuda-kudaan tembaga itu diisi dengan belerang dan dinyalakan apinya. Sesudah itu disusun berbaris di hadapan bala tentara.

Ketika barisan gajah Fawar mulai maju menyerang, dilancarkan orang barisan kuda-kudaan itu. Demi melihat tentara berkuda menyerbu kepadanya, berebutlah gajah menangkapi musuh itu dengan belalainya. Akan tetapi alangkah terkejut dan panas hatinya ketika dirasakan belalainya terbakar karena tersentuh kuda-kudaan yang berapi itu.

Dengan marahnya dihempaskannya orang-orang yang mengendarainya dari punggungnya, dilemparkannya ke tanah dan diinjak-injaknya. Kemudian larilah binatang itu cerai-berai, segala yang bertemu di tengah jalan habis dibinasakannya. Setelah barisan gajah itu mundur, barulah tentara Sultan Iskandar maju dengan bersorak menyerang laskar Maharaja Fawar. Maka terjadilah peperangan tiada terkira-kira hebatnya.

Sejurus antaranya terdengarlah suara Sultan Iskandar berseru, “Hai Maharaja Hindi, marilah tuan berkelahi dengan hamba dan peliharakanlah tentara tuan hamba. Jangan dibiarkan binasa. Sesungguhnya tiada patut sekali-kali seorang raja membiarkan rakyatnya habis dimusnahkan musuh. Wajib atas raja memelihara rakyatnya, baik dengan harta, maupun dengan dirinya. Oleh sebab itu majulah tuan, dan barangsiapa yang menang di antara kita, maka dialah yang berbahagia.”

Dengan suka hati ajakan itu diterima Maharaja Fawar. Pada perasaan baginda terluang kesempatan untuk mencapai kemenangan dengan mudahnya. Sambil menggertakkan kuda majulah baginda ke muka Sultan Iskandar. Kedua raja itu pun berperanglah dengan amat hebatnya. Ganti tikam-menikam. Keduanya sama-sama hebat.

Setelah beberapa lamanya berperang belum juga ada yang kalah, dan Sultan Iskandar telah mulai hilang kesabarannya. Sekonyong-konyong dengan suatu isyarat dari Sultan Iskandar bersoraklah gegap-gempita suara prajuritnya. Maharaja Fawar terkejut menyangka Sultan Iskandar berbuat khianat kepadanya.

Saat yang amat berharga itu tiada dibiarkan lalu saja oleh Sultan Iskandar. Demi Raja Fawar terlengah, sebagai kilat melayangkan tombaknya menembus dada raja itu. Maka jatuhlah banginda dari punggung kudanya, tersungkur ke tanah, tiada bernyawa lagi. Sekalipun rajanya tewas sudah, akan tetapi tentara Hindi setapak pun tidak mundur. Hanya sebaliknya dengan garang mereka menyerbu memerangi laskar musuh, seolah-olah lebih suka mereka mati bersama-sama dengan rajanya.

Iskandar Zulkarnain Menguasai Hindustan

Akan tetapi Sultan Iskandar amat bijaksana. Dengan kata yang lemah.-lembut dibujuknya tentara itu supaya menghentikan perlawanan. Dan berkat kebijaksanaannya maulah tentera Hindi tunduk kepadanya. Tentara yang menyerahkan diri itu diterima Sultan Iskandar dengan penerimaan yang sebaik-baiknya.

Setelah tentera Hindi menyerahkan diri, Sultan Iskandar pun masuklah ke dalam negeri. Ia lantas duduk memerintah menggantikan Maharaja Fawar. Dalam beberapa bulan saja ia memerintah dan mengamankan negeri itu sehingga negeri itu menjadi makmur. Ketika itu bermaksudlah pula baginda hendak berangkat menaklukkan negeri lain. Setelah segala alat kelengkapan siap, baginda pun memilih seorang di antara orang besar-besar akan ganti baginda memerintah negeri. Sudah itu barulah Sultan Iskandar melangkah meninggalkan negeri Hindi.

Setelah baginda berangkat jauh dari tanah Hindustan, bangunlah anak negeri melawan kepada raja yang baru itu. “Tiada pantas sekali-kali,” kata mereka, “orang asing yang sedikit pun tiada sangkut pautnya dengan kita dijadikan raja memerintahkan kita. Ia pasti akan merendahkan dan menghina kita. Selama hal itu belurn diperbaiki, belumlah anak negeri akan berhati senang melihatnya.”

Maka dengan kata sepakat mereka menurunkan raja yang didudukkan Sultan Iskandar itu dan mereka rajakan seorang di antara putra raja yang dahulu bernama Dabsyalim. Syandan setelah Raja Dabsyalim sentosa duduk di atas singgasana dan sempurna kebesaran dan kekuasaannya, mulailah baginda melupakan sifat-sifat mulia yang harus ada pada diri seorang raja. Baginda telah membiarkan dirinya terpengaruh oleh nafsu, mulai suka berlaku lalim dan aniaya kepada rakyat.

Kemunculan Cendekiawan Baidaba

Masa itu dalam negeri baginda hidup seorang tua bernama Baidaba. Ia adalah orang yang cerdik, termasyhur luas pengetahuan, dan menjadi tempat bertanya bagi orang. Melihat raja Hindustan demikian lalim perlakunya, Baidaba kemudian berpikir mencari jalan hendak menarik baginda surut kembali kepada kebaikan.

Maka pada suatu hari dikumpulkan murid-muridnya diajak untuk berunding. “Ketahuilah, hai murid-muridku!” katanya, “bahwa sesungguhnya aku telah lama memperhatikan tabiat raja kita, dengan perintahnya yang lalim dan perilakunya yang bengis dan kejam kepada rakyat. Jika kita diam saja maka kita akan jatuh sengsara. Tentu di mata orang bodoh, kita akan terpandang lalai dan tidak berdaya. Tidak pula baik, jika karena itu rakyat meninggalkan tanah air kita, pindah ke negeri orang, sebagai tiada baik biarkan dia dalam keadaan demikian.

Dalam pada itu tiada daya kita miliki untuk berperang melainkan dengan lidah kita juga, dan tak ada gunanya kita meminta tolong kepada orang lain. Dan yang berakal harus mempergunakan akalnya untuk mengelak keadaan yang tidak diinginkan, apalagi yang dikhawatirkan bahayanya, dan yang bermanfaat kata seorang pandai kepada muridnya.

Orang niat, berdekatan dengan orang jahat, mau bersahabat dengan eka, sama dengan orang yang berlayar di lautan, sekalipun selamat dari bahaya, tetapi tidak selamat dari perasaan takut. Seseorang yang sengaja menjatuhkan diri ke tempat bahaya, dengan keledai yang tiada berakal. Binatang yang bisu itu pun memiliki perasaan, pandai mengambil manfaat menjadi bijak. Tak pernah binatang menjatuhkan dirinya ke dalam bahaya, atau sebaliknya jauh-jauh ia lari karena didorong oleh perasaannya supaya dirinya selamat.

Oleh sebab itu kukumpulkan kamu bersama-sama untuk bermusyawarah. Bagiku kamulah kaum kerabat tempat memperbincangkan hal rahasia, tempat bersandar dan berpegang. Kamu pun mengetahui bahwa orang yang tidak suka berkawan, tidak mau bermusyawarah, maka tak kan ada orang lain yang akan menolongnya dalam kesusahan. Sejak saat itu cerita hikayat Kalilah dan Dimnah ditulis sebagai bentuk nasehat kepada raja lalil.

Demikian asal-usul dan sejarah penulisan cerita hikayat Kalilah dan Dimnah. Semoga artikel ini bisa memberi manfaat dan menambah wawasan Anda. Mari cintai khasanah budaya Nusantara!

4 Replies to “Asal-usul Sejarah Penulisan Cerita Hikayat Kalilah dan Dimnah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *