Bahkan Ulang Tahun Anak Dimeriahkan Pawai Kopdar Miniatur Truk

Malam menunjukkan pukul tujuh malam. Anak-anak berlarian menuju halaman depan masjid desa. Mereka bukannya akan mengikuti kegiatan ibadah secara berjamaah. Mereka terlarut dalam hiruk-pikuk pedagang kaki lima yang menjual makanan. Malam ini anak-anak menyaksikan pawai miniatur truk di jalanan desa. Komunitas miniatur truk tersebut diundang oleh salah satu warga untuk merayakan ulang tahun anaknya.

Demam miniatur truk benar-benar melanda sebagian besar warga Jombang. Hampir tiap akhir pekan dilaksanakan kopi darat (kopdar) miniatur truk oleh komunitas pecinta miniatur truk. Kopdar tersebut mempertemukan para penggemar miniatur truk, pengrajin miniatur truk, dan juga masyarakat desa yang menyukai keramaian masa. Tak ketinggalan, para penjual makanan dan mainan anak berkumpul di area pawai.

Fenomena sosial yang berkembang di masyarakat Jombang pada masa pandemi ini adalah meningkatnya kebutuhan masyarakat akan hiburan murah dan meriah. Gaung kesenian patrol modern Jombangan sudah mulai surut. Tidak ada lagi suara drum, gong, dan organ bertalu-talu di malam hari. Sebagai gantinya, pawai miniatur truk hadir membawa kesegaran baru bagi para pecinta musik di desa.

Sholawat Seribu Rebana dan Musik Patrol di Hari Lahir UNHASY Tebuireng ke-49
Sholawat Seribu Rebana dan Musik Patrol di Hari Lahir UNHASY Tebuireng ke-49

Agak mengherankan saat penulis menjumpai acara ulang tahun anak justru ‘nanggap’ pawai miniatur, bukannya mengundang tetangga sekitar rumah untuk mengikuti pengajian agama. Siapakah sosok yang menginginkan pawai miniatur truk hadir di acara ulang tahun? Apakah anak yang sedang berulang tahun? Atau jangan-jangan orang tua anak yang menginginkan cara heboh dan ngehits merayakan ultahnya?

Satu fakta yang harus diperhatikan oleh setiap orang tua yang akan mengundang pawai miniatur truk dalam acara hajatan adalah anjuran menjaga jarak di masa pandemi. Kopdar para penggemar miniatur truk mengundang keramaian massa dan sangat sulit dilakukan social-distancing. Mustahil bagi warga desa untuk menjaga jarak aman sedikitnya satu meter untuk menyaksikan pawai dan lomba miniatur truk. Kondisi yang tercipta justru desakan manusia di remang-remang malam.

Gerak para penari di belakang salon pun tak kalah erotis. Gadis-gadis muda berlenggok seolah ingin merebut perhatian setiap tatap mata. Pemandangan ini sangat menyenangkan bagi para pria dewasa tapi tidak bagus untuk pendidikan anak. Semoga setiap orang tua memberikan pendampingan kepada anak-anak mereka setiap kali menyaksikan lomba dan pawai miniatur truk.

Bagikan tulisan ini:

One Reply to “Bahkan Ulang Tahun Anak Dimeriahkan Pawai Kopdar Miniatur Truk”

  1. Orang tua zaman sekarang lebih bahagia kalau anaknya menjadi terkenal daripada anaknya berpikiran cerdas dan berakhlak mulia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *