Biografi Ibnul Muqaffa, Penterjemah Hikayat Kalilah dan Dimnah

Profil Ibnu Taimiyah Tokoh Intelektual Reformis Ekonomi Islam dari Turki
Profil Ibnu Taimiyah Tokoh Intelektual Reformis Ekonomi Islam dari Turki

Sangat erat pertalian buah pikiran seseorang dengan keadaan hidupnya. Oleh sebab itu sebelum membaca suatu karangan, baik dipelajari riwayat hidup pengarangnya lebih dulu. Ibnul Muqaffa adalah penterjemah cerita Hikayat Kalilah dan Dimnah. Ia lahir dan besar dalam masa penuh keributan dan huru-hara pada abad yang pertama sejak Nabi Muhammad SAW hijrah.

Ketika itu kedudukan Bani Umaiyah, yang memerintah alam Islam sejak khalifah yang keempat, Ali bin Abu Talib, dibunuh orang tahun 40 H mulai berangsur-angsur lemah, dan Bani Abbas bangun untuk merebut kekuasaan negeri. Dari hari ke hari kekuatan Bani Abbas makin bertambah kuat, dan Bani Umaiyah bertambah lemah juga, lebih lebih karena terpecah-belah antara mereka sendiri. Tahun 750 M kekuasaan Bani Umaiyah runtuh dan berdirilah Bani Abbas memerintah alam Islam dengan kebesarannya.

Ilmuwan diantara Pertumpahan Darah

Khalifah Bani Abbas yang mula-mula bernama Abdul Abbas, digelari orang “Si Penumpah Darah” karena selama memerintah tiada lain kerjanya selain mencari dan membunuh keturunan Bani Umaiyah dimanapun ditemukan olehnya. Pada tahun 754 M Abdul Abbas meninggal dunia. digantikan Abu Jafar Mansyur. Khalifah inilah yang mengangkat Ibnul Muqaffa jadi juru tulisnya.

Masa itu bangsa Arab telah berkuasa atas bangsa Rumawi dan Parsi, yakni dua bangsa yang jauh lebih maju daripada mereka, baik dalam perkara memerintah negeri, maupun dalam ilmu pengetahuan umum. Kekurangan mereka dibanding bangsa yang terperintah, cukup terasa oleh bangsa yang memerintah itu. Oleh sebab itu banyak anak bangsa yang takluk itu yang terpakai dalam jabatan negeri yang tinggi-tinggi, hingga keadaan itu menyebabkan sakit hati rakyat bangsa Arab pula pada akhirnya.

Kepandaian Ibnul Muqaffa

Di luar itu sangat pula terasa betapa perlunya buku-buku pengetahuan yang dalam bahasa asing itu diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Oleh sebab itu kepandaian menerjemahkan amat mahal harganya waktu itu. Ibnul Muqaffa memiliki ayah dan bunda dari bangsa Parsi yang masih beragama Majusi. Keadaan masa itu tak dapat tidak banyak berpengaruh atas dirinya, memaksanya supaya sungguh-sungguh berusaha menjadi orang yang berilmu dan menjadi pejabat di dalam negeri.

Itulah pula sebabnya maka di antara berbagai pengetahuan zaman itu yang dimahirkannya hanyalahnya tulis-menulis surat-surat yang berguna bagi raja dalam jabatan memerintah fakyatnya, dan bagi rakyat dalam mengabdi kepada rajanya. Selain Hikayat Kalilah dan Dimnah, Ibnul Muqaffa juga menerjemahkan kitab-kitab ilmu mantiq dari bahasa Parsi. Akan tetapi tidak satupun tulisannya itu yang dapat ditemui sekarang.

Boleh jadi sebabnya, karena raja dan pembesar negeri ini masa itu sering berlaku aniaya kepada rakyat, hingga Hikayat Kalilah dan Dimnah sangat berharga di mata orang banyak, dipelajari oleh umum. Adapun karangannya dalam ilmu mantiq itu belumlah terasa benar keperluannya ketika itu.

Agama Ibnul Muqaffa

Di zaman Ibnul Muqaffa timbul paham dalam agama, dinamakan paham Zindiq. Paham itu mempercayai adanya dua Tuhan, yaitu Tuhan kebajikan dan Tuhan kejahatan serta membolehkan beberapa perkara yang dilarang agama Islam. Pada hakikatnya paham itu ialah paham Majusi juga dan banyak dianut cendekiawan zaman itu. Ibnul Muqaffa pun diduga berpaham baru demikian.

Menurut ahli riwayat, pada mulanya Ibnul Muqaffa sebagai mana ibu bapanya, beragama Majusi juga. Kemudian ketika kekuasaan Abbasyah berdiri tegak, ia mulai masuk Islam. Ketika itulah baru ia bernama Abdullah. Sungguhpun demikian banyak tanda menunjukkan bahwa Islamnya tidak sampai ke hati.

Ibnul Muqaffa pernah berjalan di hadapan gereja api, dan ketika itu diucapkannya syair memuji-muji rumah itu. Memang kebanyakan bangsa Parsi ketika itu Islamnya tidak Iebih daripada sekadar mengikuti kepercayaan raja, dan mencegah gunjingan orang banyak. Islam Ibnul Muqaffa pun demikian rupanya.

Budi Pekerti Ibnul Muqaffa

Ibnul Muqaffa adalah pengarang Hikayat Kalilah dan Dimnah yang penuh nasihat indah-indah, contoh teladan yang mulia-mulia itu. Menurut riwayat sejarah, perilaku Ibnul Muqaffa sendiri rendah budinya dan kelakuannya tiada dapat dikatakan mulia. Rupanya semata-mata pengetahuan tidak dapat menuntun seseorang mencapai budi pekerti yang tinggi. Hanya agama yang dapat menumbuhkan cinta dan takut kepada Tuhan dalam hati untuk menyuruh taat dan melarang durhaka.

Oleh karena pada Ibnul Muqaffa agama tidak sampai ke hati, maka pengetahuannya sekalipun sempurna dan tentang budi pekerti mulia pula, tiada juga berguna apa-apa kepadanya. Hanya saja ia memiliki sifat setia kepada bersahabat. Karena membela seorang sahabatnya, khalifah sampai murka kepadanya. Hingga akhirnya khalifah menyuruh pembesar di Basrah membunuhnya.

Akhir Hayat Ibnul Muqaffa

Pembesar itu memang sudah lama menaruh dendam kepadanya, karena Ibnul Muqaffa sering memperolok-olokkannya. Pembesar itu amat besar hidungnya. Sebab itu tiap bertemu dengan dia, Ibnul Muqaffa mengucapkan “salam kepadamu berdua”, yakni pembesar itu dengan hidungnya.

Maka ketika Ibnul Muqaffa datang pula suatu hari ke rumah pembesar itu, tiadalah kelihatan ia keluar dari rumah itu lagi. Demiklanlah hidup Ibnul Muqaffa yang banyak tamsil ibaratnya. Sekalipun alim besar, tetapi ia seorang manusia biasa juga, yakni manusia yang lemah, yang tidak kuasa menarik yang berfaedah, menolak yang berbahaya bagi dirinya. Allah juga Yang Maha Kuasa sendirinya.

Demikianlah riwayat hidup Ibunul Muqaffa, penterjemah Hikayat Kalilah dan Dimnah, menurut kata pengantar buku hikayat yang diterbitkan oleh Balai Pustaka ini. Semoga biografi Ibnul Muqaffa bisa memberikan inspirasi bagi kita semua untuk selalu memperbaiki ilmu, iman dan amal kita sehari-hari.

4 Replies to “Biografi Ibnul Muqaffa, Penterjemah Hikayat Kalilah dan Dimnah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *