Contoh Naskah Drama Bertema Persahabatan Untuk Siswa SD/MI

Sahabat dan Kawan adalah tempat berlabuhnya hati yang sedang lelah
Sahabat dan Kawan adalah tempat berlabuhnya hati yang sedang lelah

Apa kabar sobat The Jombang Taste? Kita bertemu dalam artikel contoh drama anak-anak bertema persahabatan. Drama persahabatan ini ditujukan untuk siswa-siswi SD ataupun MI. Semoga artikel drama anak-anak ini bisa memberi manfaat untuk Anda.

Judul Drama : Selalu Ada Maaf Untuk Sahabat

Penutur Cerita (narator) : Salam

Pemain Drama :
  1. Rizky
  2. Riky
  3. Angga
  4. Lubis
  5. Faisal
  6. Alvin
  7. Ari
Cerita Rakyat Kalimantan Selatan: Dongeng Raja Baik Hati Memberikan Putrinya
Cerita Rakyat Kalimantan Selatan: Dongeng Raja Baik Hati Memberikan Putrinya

Pendahuluan

(Panggung kosong. Sesaat suara hening. Musik mulai dimainkan dengan alunan suara lembut. Seorang penutur cerita tampil di sisi panggung. Dengan menggenggam lembaran cerita, ia mulai berkata dengan suara lantang).

Salam : Kehidupan dipenuhi dengan warna-warni perilaku manusia. Deru kebahagiaan berbaur dengan kesedihan. Ada jerit tangis yang memecah dan ada pula tawa riang yang renyah menyeruak ruang pendengaran. Seorang sahabat akan selalu hadir di sela hujan yang menerpa badan, dan di antara terik matahari yang memanggang ubun-ubun di kepala. Disaat kau menderita hilang perasaan, disaat hilang segala kepercayaan, kita menempuhi dunia dan menggagahi semua warna dunia.

(Sesaat penutur cerita diam dan mengambil nafas. Musik terdengar lebih keras selama semenit. Tak berapa lama, penutur cerita kembali melanjutkan pembicaraan seorang diri).

Salam  : Disaat ku termenung kau datang padaku. Disaat ku berduka kau datang bawa bahagia. Kita kan selalu bersama gapai semua cita. Kita bisa bernyanyi dalam sunyi suara. Kita senantiasa berjalan dengan senyuman. Dan inilah cerita Tujuh Sahabat dari negeri Lima Warna….

Adegan 1

(Penutur cerita perlahan menuju tepi panggung. Kain penutup panggung terangkat. Dua orang pemain memasuki panggung utama. Alvin dan Ari tampak bersedih. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap. Mereka saling pandang. Wajah mereka menyiratkan kegelisahan yang tidak berujung).

Alvin   : Bagaimana ini, Ari? Aku bingung. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku takut… Aku memang salah….

Ari       : Tenanglah, Alvin. Ini bukan sepenuhnya salahmu. Kita semua tahu bahwa terlalu banyak orang di lapangan waktu itu. Tidak mungkin kita bisa mengenali sepatu hitam Angga. Warna sepatu kita semua kan sama.

Alvin   : Tapi aku takut sama Angga.

Ari       : Kenapa kamu takut?

(Alvin tidak segera menjawab. Ia malah terdiam. Dengan wajah tertunduk Alvin berkata)

Alvin   : Kalau Angga marah padaku, aku takut dia akan mengadu pada ayahnya. Dan bisa-bisa ibuku yang bekerja di rumah Angga dipecat oleh ayahnya. Kalau ibuku dipecat, lalu ibuku akan bekerja dimana lagi? Nanti kami makan apa?

Ari       : Sabarlah Alvin. Kita akan hadapi masalah ini bersama-sama. Orang tua Angga pasti bisa berpikir panjang dan tidak gegabah memecat karyawannya. Kamu tidak perlu bersedih. Sebentar lagi ujian akhir semester tiba. Kamu harus rajin belajar dan bukan bersedih terus.

(Tak lama kemudian, Rizky muncul ke atas panggung. Ia berjalan dengan santai seolah tidak ada beban. Rizky terheran-heran memandang Alvin yang tertunduk sedih di pojok ruang kelas. Sifat usilnya tergoda untuk mengganggu dua kawannya itu).

Rizky   : Ada apakah kalian ini? Mengapa kalian tampak sedang kebingungan. Bukankah besok kita akan berangkat renang bersama-sama. Seharusnya kita bersenang-senang menyambut acara liburan besok. Menyiapkan baju renang, membawa bekal makanan yang enak-enak, dan juga bawa uang yang banyak untuk beli mainan.

Ari       : Rizky…. Alvin sedang bersedih karena sudah menghilangkan sepatu Angga di pertandingan sepakbola kemarin. Dia takut nanti Angga akan melaporkan kejadian ini kepada orang tuanya.

Rizky   : Siapa yang berbuat dia harus berani bertanggungjawab. Memang sudah semestinya begitu kan. Apa kamu lupa nasehat Pak Karim beberapa hari lalu. Setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawabannya. Kalau tidak sekarang, mungkin kamu akan dimintai tanggungjawab di akhirat. Masih untung kalau kesalahan kamu dihukum di dunia. Bagaimana jika nanti kamu dihukum di akhirat. Hemmm, pasti ngeri…

(Mendengar ucapan Rizky tersebut, Alvin menangis semakin keras).

Rizky   : Aduh, kenapa kamu menangis sih. Anak laki-laki kok menangis. Apa kamu tidak malu kalau sampai ketahuan Desi.

Ari       : Rizky… seharusnya kamu menenangkan kawan yang sedang bersedih. Bukan sebaliknya. Kamu kok malah meledek Alvin.

Rizky   : Ya, dia lucu saja. Belum ketahuan salah dan benarnya kok sudah menangis duluan. Apa kata dunia kalau orang-orang tahu kawan kita ini cengeng. Huh, bisa mencoreng nama baik sekolah kita.

Ari       : Sudah… sudah…. Nanti kita selesaikan di rumah. Lagi pula, Alvin kan tidak sengaja melakukan hal itu. Nanti kita omongkan baik-baik dengan ayah dan ibu Angga. Ayo sekarang kita pulang.

Rizky   : Ya, aku setuju. Hari sudah semakin malam. Kita pulang dulu ke rumah. Besok kita selesaikan masalah ini bersama-sama.

(Semua pemain meninggalkan panggung. Panggung kosong. Suara Salam kembali memecah keheningan panggung. Ia berjalan dengan tenang. Lembaran kertas di tangannya tidak luput dari pandangannya).

Salam  : Sahabat sejati tidak akan meninggalkan kawannya menghadapi permasalahan sendirian. Sahabat sejati mampu membawa perdamaian di tengah kemelut api masalah yang membara. Disinilah seorang kawan diuji kesetiaannya. Apakah kalian sosok kawan terbaik? Ataukah kalian adalah kawan yang lari meninggalkan masalah temannya?

Adegan 2

(Penutur cerita bergerak menuju tepi panggung dan meninggalkan tengah panggung. Dua orang saling berkawan, Faisal dan Lubis, memasuki panggung utama. Mereka berbicara dengan pelan, hampir seperti orang sedang berbisik-bisik).

Faisal   : Lubis, apa kamu sudah dengar kabar terbaru di kelas kita.

Lubis   : Kabar apaan sih, Sal?

Faisal   : Itu tuh, kabar yang beredar kalau si Alvin sudah menghilangkan sepatu milik Angga. Wuih, bisa pecah perang dunia ketiga nih.

Lubis   : Ah, kamu berlebihan deh, Sal. Nggak segitunya juga keleees…

Faisal   : Yaaaa… kamu tahu sendiri kan kelakuan si Angga. Nggak boleh ada orang yang menyenggol dia. Sedikit disakiti, dia akan marah besar.

Lubis   : Iya sih, aku sempat dengar kabar itu. Kasihan juga kalau benar nanti Angga marah sama di Alvin. Bisa-bisa Alvin nggak bisa sekolah disini lagi.

(Rizky muncul secara tiba-tiba di belakang Lubis dan Faisal)

Rizky   : Dueeeeeerrrr….!!! Hayo kalian ini sedang ngomongin siapa? Apakah kalian sedang membicarakan nilai seratus yang ku dapat di ulangan matematika kemarin? Waduh, ternyata kalian adalah penggemar gelapku. Terima kasih ya.

Lubis   : Sok tahu kamu!

Rizky   : Lalu kalian sedang membicarakan apa?

Lubis   : Sedang membahas rencana pemakaman kamu.

Rizky   : Eh, hati-hati ya kalau bicara. Orang masih tampan dan gagah perkasa gini mau dimakamkan. Yang ada nanti Desi menangis tujuh hari tujuh malam karena kehilangan diriku.

Faisal   : Eh, diam mercon bantingan! Kita berdua ini sedang membahas masa depan Alvin. Kemarin si Alvin sudah menghilangkan sepatunya Angga. Kita sedang membahas kemungkinan apa saja yang akan dihadapi Alvin.

Rizky   : Oh, kalian sedang memprediksi masa depan Alvin ya. Kayak peramal saja. Aku tahu lebih banyak daripada kalian.

Lubis   : Bukan meramal. Cuma kita kasihan saja sama di Alvin. Bagaimana kalau Angga benar-benar menggunakan jabatan orangtuanya untuk membalas dendam kepada Alvin.

(Tiba-tiba Angga lewat di depan mereka bertiga. Rizky, Lubis dan Faisal menghentikan pembicaraan dan menghadap ke arah lain. Mereka pura-pura tidak melihat Angga yang sedang berjalan santai di depan anak tangga).

Angga : Hai kalian bertiga sedang apa? Kenapa menghadap tembok?

(Rizky menjawab dengan gugup dan sekenanya saja).

Rizky   : Oh… Ini… Kami sedang menghitung jumlah cicak yang sedang berbaris di dinding. Satu… Dua…. Tiga….. Sepertinya mereka sedang latihan musik patrol. Itu tuh kelihatan banyak sedang berkumpul sambil bawa jerigen.

Angga : Dasar orang tidak jelas….!

(Angga menjawab dengan sinis dan berlalu meninggalkan tiga orang kawannya tersebut).

Lubis   : Tuh kan, kalian sudah lihat sendiri bagaimana sikap Angga. Lebih baik kita bubar saja daripada nanti kena masalah dengan si anak mama itu.

Faisal   : Aku setuju. Ayo cabut dari sini.

Rizky   : Siap komandan…!

(Lubis, Faisal dan Rizky meninggalkan panggung utama. Panggung kosong).

Adegan 3

(Panggung masih kosong. Terdengar suara penutur cerita).

Salam  : Janganlah memancing ikan di air yang keruh. Sahabat sejati tidak akan memperumit masalah kawannya. Dia akan hadir memberikan cahaya di gelapnya malam. Janganlah menjadi angin topan yang menerbangkan segala bangunan rumah. Jadilah angin sepoi-sepoi yang membelai kawanmu di saat siang hari, dan memberi kesejukan di gerahnya malam hari

(Penutur cerita meninggalkan panggung diikuti suara musik secara perlahan. Dua anak yang saling berteman, Angga dan Riky, memasuki panggung utama. Angga berjalan di depan dan diikuti oleh Riky. Riky tampak berjalan dengan siulan kecil).

Riky    : Bagaimana, Angga? Apakah kamu sudah membuat rencana pembalasan yang tepat untuk Alvin?

Angga : Pembalasan apa?

Riky    : Ya membalas kelakuannya tempo hari padamu. Bukankah dia sudah mencuri sepatumu di lapangan sepakbola?

Angga : Aku tidak berpikiran sampai kesitu.

Riky    : Apa? Apakah kamu akan diam saja kalau Alvin menghilangkan barang berharga yang kamu miliki? Apakah kamu rela Alvin menghinamu dengan menyembunyikan sepatumu lalu dia mengaku tidak tahu.

(Angga tidak menghiraukan ucapan Riky. Sepertinya Angga sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun. Riky tidak ingin kehilangan perhatian Angga. Riky berusaha mengambil alih pembicaraan).

Riky    : Ayolah Angga. Tunjukkan kalau kamu punya kuasa di sekolah ini. Jangan sampai bulan depan Alvin mencuri barang kesayanganmu yang lainnya.

Angga : Ya, terkadang aku ingin semua murid sekolah ini menghormatiku. Aku ingin dapatkan semua yang kumiliki disini. Tapi tidak untuk kali ini.

Riky    : Kenapa? Apakah kamu sudah tobat?

Angga : Aku sudah capek jadi murid nakal.

Riky    : Wah, ini kabar buruk bagiku. Kalau kamu jadi anak rajin, nanti siapa yang akan menemaniku bolos di pelajaran matematika.

(Tampak Alvin sedang berjalan dengan pelan menuju Angga. Kelihatan sekali kalau Alvin diburu rasa takut yang hebat. Bibirnya bergetar. Ia ragu apakah akan melanjutkan langkah kakinya atau akan berhenti sampai disini).

Alvin   : Angga… Aku…. Aku…

Riky    : Hei! Kamu kenapa kesini anak miskin? Apakah barang curianmu masih kurang banyak sehingga kamu datang kesini?

Alvin   : Angga, Aku minta…

Riky    : Kamu minta uang? Kamu butuh uang untuk makan? Pintar sekali kamu berbohong. Setelah mencuri sepatu Angga kamu pun ingin mencuri barang yang lain?

Alvin   : Aku minta maaf padamu, Angga. Aku…

Riky    : Minta maaf? Maafmu tidak cukup untuk mengembalikan sepatu Angga yang sudah hilang.

Alvin   : Aku minta maaf karena sudah menghilangkan sepatumu.

Angga : Sudahlah Alvin. Justru aku yang seharusnya minta maaf kepadamu karena sudah menuduhmu yang bukan-bukan. Sebenarnya sepatuku tidak hilang. Aku hanya lupa sudah menyimpan sepatuku di dalam tas sekolahku. Aku minta maaf untuk kesalahpahaman ini.

Alvin   : Syukurlah, Angga. Aku ikut senang karena sepatumu sudah ditemukan.

Angga : Sekali lagi, aku minta maaf Alvin.

Alvin   : Tidak apa-apa, Angga. Akan selalu ada maaf untuk kesalahan yang dilakukan oleh seorang teman.

Angga : Terima kasih, Alvin. Selama ini aku tersiksa karena aku malu untuk menyatakan maaf terlebih dulu padamu.

Alvin   : Tidak pernah ada kata terlambat untuk meminta maaf, Angga.

Angga : Dan untuk kamu, Riky… Sebaiknya kamu segera minta maaf pada Alvin.

Riky    : Kenapa? Aku kan tidak bersalah.

Angga : Kamu sudah memfitnah Alvin dengan menyebarkan berita bohong itu. Cepatlah minta maaf.

Riky    : Hmmm… Apa boleh buat. Iya deh, aku minta maaf.

Angga : Semoga kamu tidak mengulangi perbuatanmu lagi, Riky. Dengarlah, Angga dan Riky. Kita semua bersahabat. Sudah seharusnya kita hidup rukun dan saling mengingatkan kesalahan satu sama lain. Bukankah sesama muslim adalah bersaudara.

(Para pemain meninggalkan panggung. Panggung kosong. Penutur cerita berjalan pelan ke panggung utama. Terdengar suara penutur cerita).

Salam  : Meminta maaf tidak akan membuatmu hina. Begitu juga, memberi maaf tidak akan menurunkan derajatmu. Saling memaafkan kesalahan teman adalah kekuatan yang mampu menyatukan semua bentuk kesalahpahaman. Semoga cerita ini bisa memberikan pelajaran bagi kita semua. Sampai jumpa.

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *