Kemana Hilangnya Kesenian Patrol Modern Jombang?

Asal-usul Reog Kendang Tulungagung dari Legenda Dewi Kilisuci, Joko Lodra dan Singa Lodra
Asal-usul Reog Kendang Tulungagung dari Legenda Dewi Kilisuci, Joko Lodra dan Singa Lodra

Kesenian daerah tumbuh dan berkembang seiring dengan perkembangan kehidupan sosial budaya masyarakat daerah setempat. Hal itu juga yang berlaku dalam perkembangan kesenian patrol modern di Kabupaten Jombang.

Selama kurun waktu 3 tahun lalu, kesenian Patrol Jombang mengalami masa kejayaan. Penulis masih ingat waktu itu ketika puluhan pemuda di Jombang ketika sore hari melakukan latihan bersama memainkan alat musik Patrol modern Jombang. Selain berlatih alat musik Patrol modern, sekelompok remaja putri berlatih gerakan badan dengan diiringi musik Patrol modern Jombang.

Waktu itu sepertinya setiap orang ingin berlomba-lomba memajukan kesenian Patrol modern di Kabupaten Jombang. Hingga akhirnya semua pilihan dan selera masyarakat Jombang berubah. Warga seakan melupakan keberadaan kesenian Patrol modern Jombang.

Mereka tidak lagi mempedulikan berapa banyak uang yang telah diinvestasikan oleh kelompok musik Patrol untuk membeli alat-alat kesenian Patrol maupun seragam pakai penari Patrol. Semua itu membutuhkan pembiayaan tidak sedikit.

Maka yang tersisa hanyalah kenangan beberapa tahun silam saat kesenian Patrol modern Jombang digemari oleh masyarakat. Saat ini tersisa hanya beberapa kelompok seniman Patrol modern Jombang yang masih eksis. Kegiatan mereka pun terbatas pada acara karnaval budaya Jombang maupun karnaval peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Sholawat Seribu Rebana dan Musik Patrol di Hari Lahir UNHASY Tebuireng ke-49
Sholawat Seribu Rebana dan Musik Patrol di Hari Lahir UNHASY Tebuireng ke-49

Ruang lingkup ekspresi seniman patrol modern di Jombang terbatas pada desa setempat. Tidak ada lagi keinginan dari masyarakat yang memiliki hajatan untuk mengundang kelompok seniman Patrol modern Jombang. 

Usaha untuk menggairahkan kembali kesenian Patrol modern Jombang telah dilakukan oleh banyak pihak. Diantaranya adalah dengan mengadakan festival Patrol maupun festival budaya Jombang di pusat Kota Jombang.

Pemerintah daerah berharap kegiatan tersebut bisa menumbuhkan kembali minat masyarakat terhadap kesenian patrol modern di Jombang. Namun apa daya masyarakat sepertinya mudah sekali berubah selera berkesenian. Mereka tidak lagi tertarik tampilan para penari wanita maupun penari waria yang kerap menghibur para penonton di acara pertunjukan teater modern.

Ketertarikan masyarakat saat ini masih didominasi oleh kesenian Orkes Melayu. Panggung-panggung kecil didirikan pada saat dilaksanakan hajatan pernikahan oleh warga. Undangan penyanyi berpakaian minim dilakukan. Sepertinya selera musik dangdut tidak akan pernah hilang dari kehidupan masyarakat Jombang.

Bagaimana dengan perkembangan kesenian musik Patrol modern Jombang di sekitar tempat tinggal Anda? Apakah masyarakat di desa Anda masih banyak yang menyukai kesenian patrol modern Jombang? Silakan berbagi cerita dan pengalaman pada kolom komentar dibawah ini.

Bagikan tulisan ini:

4 Replies to “Kemana Hilangnya Kesenian Patrol Modern Jombang?”

  1. Seni adlh perilaku manusia itu sendiri. Knp mesti merepotkan selera seni manusia? Bukankah tujuan seni adalah untuk dinikmati bukan untuk diperdebatkan.

  2. Ojo kuwatir mas. Selera bermusik masyarakat memiliki siklus tersendiri. kalaupun sekarang mereka tidak menyukainya, boleh jadi 10 tahun kedepan akan ada versi terbaru dari kesenian Patrol di Kabupaten Jombang.

  3. Maklum saja sekarang sedang musim penyakit virus Corona jadi para seniman itu istirahat sebentar dari aktivitas pertunjukan di hadapan masyarakat dalam jumlah yang banyak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *