Kerukunan Tradisi Megengan Masyarakat Muslim Jawa di Kabupaten Jombang

Kuliner nasi kuning dan ayam bakar
Kuliner nasi kuning dan ayam bakar

Masyarakat Jombang suku Jawa yang beragama Islam mengadakan kegiatan Megengan pada hari Sabtu (4 Mei 2019) kemarin dan Minggu (5 Mei 2019) hari ini. Mereka mengadakan berbagai kegiatan massal dalam rangka menyambut datangnya bulan suci ramadhan. Tradisi Megengan identik dengan pembuatan makanan apem. Anak-anak menyukai makanan apem karena memiliki tekstur lembut dan mudah dikunyah. Sementara itu para orang tua menyukai makanan apem karena makanan inilah yang mengingatkan masa muda mereka dulu.

Apem adalah makanan berbahan dasar tepung yang dicampur dengan pengembang, gula pasir dan santan sehingga menghasilkan cita rasa yang enak. Apem Jombang memiliki tekstur lembut dan terasa manis. Makanan apem biasanya dibuat dengan cara mencetak satu persatu dalam loyang logam lalu dipanggang dengan api kecil. Aktifitas membuat apem ini dilaksanakan oleh sebagian besar masyarakat muslim kabupaten Jombang secara sukarela dan senang hati.

Tradisi Megengan dimulai sejak pukul enam sore. Masyarakat muslim melaksanakan sholat jamaah maghrib lalu berkumpul di teras masjid atau musholla terdekat dengan rumahnya. Mereka berkumpul di serambi masjid maupun serambi mushola dengan membawa berbagai macam makanan dari rumah. Makanan tersebut akan disedekahkan untuk dimakan bersama-sama dengan seluruh warga yang menghadiri kegiatan sholat berjamaah di masjid atau mushola.

Ragam kuliner yang disajikan dalam tradisi megengan antara lain kue apem, nasi kuning, sego gurih, ayam bakar, ayam bumbu bali, urap-urap, berbagai macam buah dan juga minuman khas Jombang. Warga memiliki keyakinan bahwa dengan memperbanyak sedekah maka mereka bisa memiliki lebih banyak rejeki dan selalu terjaga keselamatannya.

Menyingkap Sejarah Sayyid Jumadil Kubro di Makam Troloyo Trowulan
Menyingkap Sejarah Sayyid Jumadil Kubro di Makam Troloyo Trowulan

Tradisi Ziarah Makam Leluhur

Selain membagikan sedekah makanan, tradisi megengan juga diwujudkan dengan cara mengunjungi makam leluhur mereka. Pemakaman muslim di berbagai sudut Kabupaten Jombang ramai dikunjungi oleh keluarganya. Anak-anak, remaja dan orang tua bersama-sama berjalan kaki menuju ke pemakaman untuk melaksanakan kegiatan tahlilan dan pembacaan yasin. Mereka mendoakan arwah keluarga mereka yang telah meninggal dunia. Momen menjelang datangnya bulan puasa seperti ini merupakan cara yang tepat bagi umat muslim untuk mengingat adanya kematian.

Sebagian besar pemerintah desa di Kabupaten Jombang berkoordinasi dengan pemuka agama untuk melaksanakan tahlil kubro atau pembacaan tahlil secara massal. Kegiatan ini bertujuan mendoakan arwah leluhur mereka. Lokasi kegiatan tersebut di pemakaman masing-masing dusun atau desa dengan menggunakan pengeras suara. Kegiatan ini merupakan wujud kebersamaan masyarakat Jombang dalam menyambut datangnya bulan puasa.

Tanggal 1 Ramadhan tahun 2019 ini dijadwalkan akan jatuh pada Senin, 6 Mei 2019. Oleh karena itu malam ini umat muslim Jombang pun mengawali tarawih pertama usai sholat isya’ berjamaah. Sholat tarawih hari pertama diikuti oleh hampir seluruh masyarakat muslim di Kabupaten Jombang. Ribuan masjid dan musholla dipenuhi oleh jamaahnya.

Memang demikian keadaan masyarakat muslim Jombang. Mereka bersemangat melaksanakan ibadah pada awal Ramadan namun pada pelaksanaan shalat tarawih yang kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya biasanya terjadi penurunan jumlah jamaah. Makin sedikit jumlah warga muslim yang melaksanakan sholat tarawih di masjid maupun mushola di akhir Ramadan.

Semoga pada Ramadan tahun ini warga Kabupaten Jombang lebih semarak melaksanakan kegiatan ibadah. Selamat berpuasa di bulan Ramadhan. Semoga amal ibadah Ramadan bisa menjadikan kita pribadi yang lebih baik dan memiliki pengendalian diri yang bagus terhadap sesama manusia.

Bagikan artikel ini melalui:

3 Replies to “Kerukunan Tradisi Megengan Masyarakat Muslim Jawa di Kabupaten Jombang”

  1. Hidup di desa itu enak. banyak makanan gratis. punya tetangga yang baik hati dan suka nolong. selain itu juga alamnya tenang dan asri. Semoga suatu saat saya bisa pulang kampung kayak mas Agus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *